Tuesday, April 11, 2006

Playboy Indonesia

Catatan Rabu Pagi 23

"Mengapa Playboy Indonesia menjadi sesuatu yang dihebohkan? Adakah alasan yang masuk akal (logis) untuk penolakan terhadap majalah itu, selain karena dianggap sebagai ikon pornografi Amerika?"

Sebenarnya, bahkan alasan “ikon pornografi Amerika” pun masih sangat bisa diperdebatkan kelogisannya. Salah satu hal yang diangkat sebagai titik lemah dari pihak manajemen Playboy Indonesia oleh para pemrotesnya adalah penjualan. Tadinya, dalam sebuah kesepakatan tidak tertulis dengan sejumlah pihak pemrotes, manajemen Playboy konon sempat menyatakan tidak akan menjualnya di tempat-tempat asongan umum. Tapi pada hari edar pertama, setidaknya selama satu hari, para pengasong menjajakannya di jalanan. Ini membuat para pemrotes, seperti Majelis Mujahiddin dan kawan-kawan seperjuangannya, berang dan mengibarkan bendera perang. Tapi pada hari kedua, sudah tidak terlihat lagi Playboy dijajakan di jalanan.

Saya tidak tahu kenapa. Ada kemungkinan majalah itu habis dibeli oleh para peminatnya yang sudah sekian lama menunggu-nunggu. Ada kemungkinan majalah itu disembunyikan oleh para pengasong karena takut sweeping yang akan dilakukan para pemrotes. Ada juga gabungan 2 kemungkinan itu, sebagai kemungkinan ketiga. Apapun ceritanya, majalah itu lenyap dari jalanan pada hari kedua dan juga dari para pengecer di lapak-lapak mereka di pinggiran jalan, terminal, stasiun, maupun pengecer di mal-mal. Hmm, seandainya saya jadi pengelola majalah itu, saya akan buru-buru mencetak lagi puluhan atau ratusan ribu eksemplar. Bukan karena apa-apa, tapi lebih karena saya realistik. Hipotesa realistik saya adalah: majalah itu diminati banyak orang. Majalah itu juga tidak mengandung gambar perempuan telanjang yang menggoda syahwat. Jadi, mengapa harus mundur? Kenyataan ini saya duga menjadi dasar mengapa manajemen Playboy berani menjualnya di jalanan pada hari pertama. Lantas mengapa di hari kedua majalah itu lenyap dari jalanan?

Kebetulan, saya menjadi salah seorang yang diminta menulis untuk Playboy Indonesia edisi perdana itu. Sebagai salah seorang kontributor saya tidak keberatan majalah itu tetap dijual di jalanan, tentu selama isinya tidak vulgar. Saya benar-benar tidak dapat menemukan satu saja alasan logis dari penolakan terhadap majalah itu. Dalam somasi yang diajukan oleh kelompok Mujahiddin Indonesia, salah satu dasar pemikiran yang diajukan adalah “gambar porno” yang bisa merusak moral bangsa (apakah orang-orang menjadi koruptor gara-gara gambar porno?), mengancam eksistensi manusia (apakah para pemikir dan filsuf pernah mengemukakan teori eksistensialisme semacam ini?), dan (hebatnya) mengakibatkan penyakit kelamin. Ck-ck-ck…. Gambar porno macam apakah yang bisa punya kekuatan sedahsyat itu? Tapi kita tidak bisa membahas “gambar porno mahasakti” itu, karena faktanya, tidak ada gambar porno dalam majalah Playboy Indonesia, apalagi bila definisi porno yang dirujuk adalah perempuan telanjang dengan pose-pose menggoda dan menantang.

Dalam logika (lagi-lagi logika) sederhana, tidak mungkin majalah Playboy Indonesia menjadi porno, hanya karena namanya Playboy, padahal isinya tidak memuat materi porno. Sesuatu bisa disebut dan dikategorikan porno bila memang substansinya porno. Artinya, harus dibedakan dengan jelas terlebih dahulu, apa sebenarnya yang diributkan? Apa sebenarnya yang dilawan? Perlawanan terhadap pornografikah, atau perlawanan terhadap Amerika yang melahirkan Playboy? Ini dua hal yang berbeda. Dan sebaiknya memang tidak dicampuradukkan.

Kejernihan berpikir dan kedewasaan bersikap barangkali bisa menjadi pelajaran penting bagi siapapun dewasa ini. Hanya kejernihan berpikir dan kedewasaan bersikap yang bisa menjadi jaminan sebuah masyarakat demokratis yang kita cita-citakan bersama. Hanya dengan pikiran jernih dan sikap dewasalah, kita akan mampu membedakan mana persoalan penting, urgent, dan substansial, dan mana yang bukan. (frg)