Monday, September 01, 2008

Mari Mendongeng!

Catatan Rabu Pagi

Tutup ember plastik besar berwarna merah adalah matahari. Ember mandi bayi yang bolong bagian bawahnya adalah perahu. Kardus bekas berbentuk jajaran genjang dengan lobang kecil di ujungnya menjadi seekor hiu besar dan ganas bermata buta yang siap mencaplok bocah kecil berseragam Sekolah Dasar bernama Pahlawan jika ia tak menyerahkan telor kerang langka yang ada di kantongnya. Pahlawan berjuang keras mengarungi samudera untuk mendapatkan telor kerang langka guna mengobati mata ibundanya yang juga buta. Tapi kini hiu ganas buta itu mengancam akan memangsa dirinya jika ia tak menyerahkan telor itu. Pahlawan bingung. Ia merajuk dan merayu hiu itu agar tidak meminta telor kerang langka, tapi si hiu tetap memaksanya. Negosiasi kemudian terjadi. Pahlawan yang gigih dan pantang menyerah kemudian berhasil membuat kesepakatan dengan si hiu. Jika ia menyerahkan telor kerang langka itu maka si hiu harus membantunya mencari obat lain guna menyembuhkan mata ibundanya. Si hiu setuju. Dan pahlawan kembali berjuang mengarungi samudera sampai ke berbagai benua untuk mencari obat buat ibundanya.

Dongeng tentang pahlawan itu tidak ditonton dan didengarkan oleh anak-anak SD tapi justru para mahasiswa Universitas Indonesia, para aktivis LSM, para akademisi dan juga seniman dan budayawan, yang menontonnya ketika pendongeng Aceh yang unik, Agus Nur Amal atau Agus PM Toh, mementaskannya di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia. Bak kembali ke masa kanak-kanak yang penuh keceriaan dan kegembiraan, para penonton atau pendengar dongeng dewasa itu, tertawa tergelak hampir di sepanjang pertunjukan. Agus, dengan busana khas Aceh berwarna hitam, membawa semua hadirin kembali menjadi kanak-kanak yang selalu menjalani kehidupan dengan semangat kegembiraan, kepolosan, dan ketulusan. Anak-anak yang secara spontan tertawa atau menangis ketika bergembira atau bersedih. Anak-anak yang secara gigih berjuang untuk membantu orang lain tanpa pamrih apapun. Inilah sifat-sifat kebaikan yang mampu memunculkan jiwa kepahlawan pada orang-orang yang memilikinya.

Namun seiring bertumbuh dewasanya seseorang, sifat-sifat yang mengandung potensi kepahlawanan itu terkikis, menipis, dan pada sebagian besar orang bahkan sama sekali habis. Hilang. Lenyap tanpa bekas. Dan terjadilah kemudian pertikaian, perkelahian, saling jegal, saling fitnah, kekerasan, pembunuhan, bahkan pembantaian. Kehidupan lalu menjadi begitu mengerikan. Bahkan anak-anak masa kini terancam oleh kehidupan yang mengerikan ini. Ruang-ruang untuk kejujuran, ketulusan, kepolosan, persahabatan, tanpa terasa semakin mengecil.

Di zaman ini, anak-anak sudah sejak lahir dihisap masuk ke dalam kotak kaca bernama televisi yang tidak memiliki dongeng-dongeng indah yang sederhana, mendidik dan mengarahkan mereka pada imajinasi bernilai kepahlawan seperti dalam dongeng PM Toh. Yang ada di televisi hanya sinetron-sinetron yang justru berpotensi merusak potensi kepahlawanan pada jiwa anak-anak. Mungkin masih ada satu-dua produk sinetron televisi yang cukup baik sebagai pengganti dongeng yang semakin hari semakin musnah. Tapi itu sangat jarang. Hanya satu-dua dalam kurun waktu yang lama. Mengapa? Sederhana saja, karena produk semacam itu umumnya tidak laku. Sebuah televisi swasta yang pernah menampilkan Agus PM Toh, terbukti tidak cukup mampu mempertahankan acara dongeng PM Toh yang mereka tayangkan. Acara-acara dongeng lainnya yang pernah dicoba diproduksi dan ditayangkan oleh sejumlah televisi swasta lainnya, juga rata-rata bernasib sama. Menyedihkan melihat anak-anak tumbuh tanpa dongeng-dongeng yang sederhana tapi sungguh mampu mengembangkan imajinasi kepahlawanan mereka.

Dongeng Pahlawan dipentaskan Agus PM Toh dalam sebuah konperensi tentang demokrasi dan perlawanan terhadap tirani modal yang menguasai masyarakat Indonesia dan masyarakat di negara-negara lainnya. Konperensi yang berlangsung pada awal bulan Agustus ini memang tidak secara khusus membahas persoalan-persoalan anak di Indonesia masa kini, tapi karena tujuannya untuk mencari wajah Indonesia baru yang lebih baik di masa mendatang, maka nasib anak-anaklah sebenarnya yang menjadi pokok soal utama dalam acara tersebut. Nasib anak-anaklah yang dibicarakan dan dibahas oleh para pemikir, para seniman dan budayawan, para ahli ekonomi dan politik yang menjadi narasumber dalam acara itu. Dan persoalan Indonesia baru yang lebih baik, lebih damai dan sejahtera, adalah tanggung jawab setiap rakyat Indonesia tanpa membedakan apa status sosial-ekonomi, agama, suku, profesi, maupun jenis kelamin. Lalu apa wujud sumbangsih paling kongkrit dan paling penting yang bisa diberikan oleh setiap rakyat Indonesia tak peduli dia miskin atau kaya, lelaki atau perempuan, Aceh atau Papua, Islam atau Hindu?

Jawabnya sederhana. Mari beramai-ramai menjadi Agus PM Toh! Ya, mari kita kembali mendongeng untuk anak-anak kita! Dulu, entah berapa puluh tahun yang lampau, masih banyak orang tua mendongeng untuk meninabobokan anak-anak mereka. Kini, tradisi ini semakin terancam punah. Ini sangat menyedihkan karena bahkan di negara-negara maju sekalipun, tradisi mendongeng masih dicoba dipertahankan oleh banyak orang tua. Mengapa? Karena dongeng memang penting dan efektif untuk mendidik dan menaburkan benih-benih kebaikan pada jiwa anak-anak. Karena dongeng terbukti berhasil menjadikan dirinya sebagai sarana pendidikan dini yang disukai anak-anak. Jadi, wahai semua orang dewasa di Indonesia, mari mulai mendongeng untuk anak-anak kita demi masa depan Indonesia yang lebih baik. (frg)

Mari Mendongeng!

Catatan Rabu Pagi

Tutup ember plastik besar berwarna merah adalah matahari. Ember mandi bayi yang bolong bagian bawahnya adalah perahu. Kardus bekas berbentuk jajaran genjang dengan lobang kecil di ujungnya menjadi seekor hiu besar dan ganas bermata buta yang siap mencaplok bocah kecil berseragam Sekolah Dasar bernama Pahlawan jika ia tak menyerahkan telor kerang langka yang ada di kantongnya. Pahlawan berjuang keras mengarungi samudera untuk mendapatkan telor kerang langka guna mengobati mata ibundanya yang juga buta. Tapi kini hiu ganas buta itu mengancam akan memangsa dirinya jika ia tak menyerahkan telor itu. Pahlawan bingung. Ia merajuk dan merayu hiu itu agar tidak meminta telor kerang langka, tapi si hiu tetap memaksanya. Negosiasi kemudian terjadi. Pahlawan yang gigih dan pantang menyerah kemudian berhasil membuat kesepakatan dengan si hiu. Jika ia menyerahkan telor kerang langka itu maka si hiu harus membantunya mencari obat lain guna menyembuhkan mata ibundanya. Si hiu setuju. Dan pahlawan kembali berjuang mengarungi samudera sampai ke berbagai benua untuk mencari obat buat ibundanya.

Dongeng tentang Pahlawan itu tidak ditonton dan didengarkan oleh anak-anak SD tapi justru para mahasiswa Universitas Indonesia, para aktivis LSM, para akademisi dan juga seniman dan budayawan, yang menontonnya ketika pendongeng Aceh yang unik, Agus Nur Amal atau Agus PM Toh, mementaskannya di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia. Bak kembali ke masa kanak-kanak yang penuh keceriaan dan kegembiraan, para penonton atau pendengar dongeng dewasa itu, tertawa tergelak hampir di sepanjang pertunjukan. Agus, dengan busana khas Aceh berwarna hitam, membawa semua hadirin kembali menjadi kanak-kanak yang selalu menjalani kehidupan dengan semangat kegembiraan, kepolosan, dan ketulusan. Anak-anak yang secara spontan tertawa atau menangis ketika bergembira atau bersedih. Anak-anak yang secara gigih berjuang untuk membantu orang lain tanpa pamrih apapun. Inilah sifat-sifat kebaikan yang mampu memunculkan jiwa kepahlawan pada orang-orang yang memilikinya.

Namun seiring bertumbuh dewasanya seseorang, sifat-sifat yang mengandung potensi kepahlawanan itu terkikis, menipis, dan pada sebagian besar orang bahkan sama sekali habis. Hilang. Lenyap tanpa bekas. Dan terjadilah kemudian pertikaian, perkelahian, saling jegal, saling fitnah, kekerasan, pembunuhan, bahkan pembantaian. Kehidupan lalu menjadi begitu mengerikan. Bahkan anak-anak masa kini terancam oleh kehidupan yang mengerikan ini. Ruang-ruang untuk kejujuran, ketulusan, kepolosan, persahabatan, tanpa terasa semakin mengecil.

Di zaman ini, anak-anak sudah sejak lahir dihisap masuk ke dalam kotak kaca bernama televisi yang tidak memiliki dongeng-dongeng indah yang sederhana, mendidik dan mengarahkan mereka pada imajinasi bernilai kepahlawan seperti dalam dongeng PM Toh. Yang ada di televisi hanya sinetron-sinetron yang justru berpotensi merusak potensi kepahlawanan pada jiwa anak-anak. Mungkin masih ada satu-dua produk sinetron televisi yang cukup baik sebagai pengganti dongeng yang semakin hari semakin musnah. Tapi itu sangat jarang. Hanya satu-dua dalam kurun waktu yang lama. Mengapa? Sederhana saja, karena produk semacam itu umumnya tidak laku. Sebuah televisi swasta yang pernah menampilkan Agus PM Toh, terbukti tidak cukup mampu mempertahankan acara dongeng PM Toh yang mereka tayangkan. Acara-acara dongeng lainnya yang pernah dicoba diproduksi dan ditayangkan oleh sejumlah televisi swasta lainnya, juga rata-rata bernasib sama. Menyedihkan melihat anak-anak tumbuh tanpa dongeng-dongeng yang sederhana tapi sungguh mampu mengembangkan imajinasi kepahlawanan mereka.

Dongeng Pahlawan dipentaskan Agus PM Toh dalam sebuah konperensi tentang demokrasi dan perlawanan terhadap tirani modal yang menguasai masyarakat Indonesia dan masyarakat di negara-negara lainnya. Konperensi yang berlangsung pada awal bulan Agustus ini memang tidak secara khusus membahas persoalan-persoalan anak di Indonesia masa kini, tapi karena tujuannya untuk mencari wajah Indonesia baru yang lebih baik di masa mendatang, maka nasib anak-anaklah sebenarnya yang menjadi pokok soal utama dalam acara tersebut. Nasib anak-anaklah yang dibicarakan dan dibahas oleh para pemikir, para seniman dan budayawan, para ahli ekonomi dan politik yang menjadi narasumber dalam acara itu. Dan persoalan Indonesia baru yang lebih baik, lebih damai dan sejahtera, adalah tanggung jawab setiap rakyat Indonesia tanpa membedakan apa status sosial-ekonomi, agama, suku, profesi, maupun jenis kelamin. Lalu apa wujud sumbangsih paling kongkrit dan paling penting yang bisa diberikan oleh setiap rakyat Indonesia tak peduli dia miskin atau kaya, lelaki atau perempuan, Aceh atau Papua, Islam atau Hindu?

Jawabnya sederhana. Mari beramai-ramai menjadi Agus PM Toh! Ya, mari kita kembali mendongeng untuk anak-anak kita! Dulu, entah berapa puluh tahun yang lampau, masih banyak orang tua mendongeng untuk meninabobokan anak-anak mereka. Kini, tradisi ini semakin terancam punah. Ini sangat menyedihkan karena bahkan di negara-negara maju sekalipun, tradisi mendongeng masih dicoba dipertahankan oleh banyak orang tua. Mengapa? Karena dongeng memang penting dan efektif untuk mendidik dan menaburkan benih-benih kebaikan pada jiwa anak-anak. Karena dongeng terbukti berhasil menjadikan dirinya sebagai sarana pendidikan dini yang disukai anak-anak. Jadi, wahai semua orang dewasa di Indonesia, mari mulai mendongeng untuk anak-anak kita demi masa depan Indonesia yang lebih baik. (frg)

Tuesday, May 13, 2008

"Gie"

juga dimuat di rubrik Sikap, vhrmedia.com

catatan rabu pagi

Di sebuah kantor Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), seorang office boy (OB) tengah asyik memasak menu makan siang. Panggil saja dia Gie. Dia bukan Soe Hok Gie, aktivis angkatan 66 yang melegenda itu tentunya, tapi namanya memang mengandung kata “gie”, yakni Tugimin. Wajah Gie berkeringat dipanggang hawa panas kompor yang memenuhi dapur berukuran 2x1meter persegi. Otot-otot lengannya tampak kekar saat Gie serius mengulek sambal sebagai pelengkap menu utama, sayur asem, dan ikan asin. Tidak setiap hari Gie memasak makan siang untuk para aktivis di tempat kerjanya; dan justu karena itulah masakan Gie selalu dinanti-nanti. Semua aktivis suka masakan Gie. Meskipun berkeringat, wajah Gie terlihat ceria dan bersemangat. Tak ada beban di wajahnya, yang terlihat adalah ketulusan untuk melayani. Beberapa kali ia mengusap keringat dengan menggunakan lengan baju kaosnya, mencegah butir keringatnya terjatuh ke atas cobek. Siang itu, ia mengenakan kaos bertuliskan “Ayo Perangi dan Lawan Korupsi!”

Siapa saja yang melihat Gie asyik memasak biasanya langsung berkomentar, memberikan satu-dua pujian, sambil menahan liur mereka menetes. Siapa saja yang melihat Gie memasak, pasti akan mendapatkan wajah sederhana yang sungguh tulus, asyik meracik, menguleg, atau mengaduk sesuatu. Mungkin ini sesuatu yang sepele bagi sebagian besar orang, tapi bila kita mau menyempatkan diri untuk sengaja mencari sebuah ketulusan pada wajah-wajah yang berseliweran di pasar, mal, alun-alun, restoran-restoran, kantor-kantor pemerintah, kantor-kantor swasta, kampus-kampus, atau di mana saja, saya berani bertaruh, kita tidak akan mudah menemukannya. Mungkin di antara seribu wajah yang kita pelototi, hanya ada satu wajah setengah tulus yang kita temukan. Kalau beruntung, mungkin kita akan menemukan dua-tiga wajah tulus di antara seribu wajah itu. Sungguh, ketulusan untuk melayani sesama sudah lama menjadi barang langka di dunia yang kita hidupi kini. Setidaknya menurut pengamatan saya, orang-orang kini lebih banyak berpamrih dalam segala hal.

Orang yang tulus melayani biasanya masih bisa kita temukan di desa-desa kecil yang kebetulan kita kunjungi dalam sebuah perjalanan. Kita mungkin masih mendapatkan orang-orang yang menawarkan bantuan dengan spontan ketika ban mobil kita kempes dan tak ada tukang tambal ban di sekitar kita. Kita mungkin masih mendapatkan keramahtamahan yang jujur dan bukan basa-basi ketika kita bertanya arah pada seorang penduduk desa kecil di pelosok Indonesia. Di kota-kota besar memang tetap ada peluang kita mendapatkan ketulusan, tapi probabilitasnya tetap lebih kecil dibandingkan dengan di desa-desa. Gie adalah contoh kongkrit profil orang desa karena ia memang berasal dari desa kecil di pelosok Jawa Tengah. Desanya, menurut Gie, adalah sebuah desa miskin dengan tingkat pendidikan masyarakat yang sangat rendah karena tidak ada kemampuan untuk membiayai sekolah. Padahal, menurut cerita Gie pada saya dalam suatu kesempatan kami ngobrol berdua, orang-orang desanya, lelaki maupun perempuan, adalah orang-orang yang sangat rajin bekerja, tidak pernah malas untuk melakukan pekerjaan apa pun asal tidak melanggar hukum.

Saya tak bisa menjawab pertanyaan polos Gie tentang kemiskinan desanya. “Mengapa kami hidup miskin, Mas? Kan kami semua bukan orang-orang yang malas, kami selalu rajin bekerja tiap hari. Mengapa kami tetap miskin?” Saya sungguh ingin menjawabnya dengan sesederhana mungkin, tapi apakah ada penjelasan sederhana tentang kemiskinan? Masalahnya pasti selalu kompleks dan pelik. Saya membuang muka sejenak dari tatapan Gie yang sungguh polos dan mengharap sebuah penjelasan. Saya harus memilih satu jawaban yang paling bisa menjelaskan mengapa orang-orang desa Gie yang rajin bekerja dan tulus melayani sesamanya harus hidup dalam kemiskinan? Jawaban sederhana apa yang harus saya sampaikan? Jangan-jangan sebenarnya saya memang tidak bisa menjawab pertanyaannya. Sejujurnya saya memang malah ingin belajar bagaimana bisa memiliki ketulusan seperti dirinya. Tapi saya harus menjawab pertanyaannya, saya tidak ingin mengecewakan Gie dan juga mengecewakan diri sendiri.

“Pripun, Mas? Bagaimana? Apa jawaban pertanyaan saya?”

Saya menghela nafas panjang. Saya sudah menemukan sebuah jawaban, tapi jawaban itu sungguh pahit dan menyakitkan untuk disampaikan.

“Baiklah, Gie. Saya akan menjawab pertanyaanmu dengan jujur, tapi jawaban ini hanya salah satu dari sekian banyak penyebab lainnya. Jawaban ini juga mungkin menyakiti hatimu. Kamu paham?”

“Paham, Mas.”

“Kamu siap untuk mendengar jawaban saya?”

“Inggih, siap, Mas.”

“Gie, menurut saya, salah satu penyebab miskinnya desamu adalah karena kalian memiliki ketulusan yang luar biasa dalam melayani pada sesama manusia….”

“Hah, kok bisa, Mas? Kulo mboten ngertos, ndak ngerti saya….”

“Itulah Gie, pahit kan? Tapi justru karena itulah, orang-orang pinter, para pemimpin, para politisi, para aktivis, para pejabat, para mahasiswa, seharusnya belajar dari kamu dan orang-orang desamu tentang ketulusan. Barulah orang-orang desamu tidak akan miskin lagi!”

Gie manthuk-manthuk, menggangguk-anggukkan kepalanya. Saya menatapnya dengan perasaan kacau-balau. Sungguh saya ingin belajar ketulusan padanya. Sungguh saya ingin semua orang meneladaninya.

Tebet Barat, Maret 2008.

Tuesday, April 01, 2008

Matinya Tukang Gorengan

juga dimuat di rubrik Sikap, Maret 2008

Saat untuk pertama kalinya harga minyak goreng melejit, kira-kira beberapa minggu sebelum Soeharto mulai kritis, seorang tukang gorengan diberitakan mati gantung diri. Mungkin peristiwa itu sudah mulai terkikis dari memori Anda, tertumpuk oleh begitu banyak peristiwa lain yang lebih penting, lebih dramatik, atau lebih menyedihkan lagi. Penderitaan seorang tukang gorengan barangkali hanya sebuah peristiwa kecil saja yang tidak terlalu penting bagi banyak orang. Tapi bagi saya, seorang tukang gorengan sama pentingnya dengan seorang pejuang hak asasi sekaliber Munir atau seorang Marsinah. Ia juga sama hebatnya dengan seorang diktator seperti Marcos atau Soeharto yang bisa berjaya sebagai diktator selama puluhan tahun. Tukang gorengan itu juga seorang pejuang yang tak kalah hebatnya dibandingkan para aktivis Green Peace yang sangat getol memprotes tindakan-tindakan para perusak lingkungan. Mengapa ia begitu hebat di mata saya?

Ia hebat karena penderitaannya sebagai rakyat kecil adalah penderitaan yang memungkinkan seorang diktator seperti Soeharto atau Marcos terus berkuasa sampai kematian merenggut nyawa mereka. Berkat penderitaan merekalah, para diktator bisa berpesta pora menghamburkan kekayaan negara yang kemudian melahirkan gerakan-gerakan perlawanan dari para pembela rakyat. Dalam mata rantai ini, rakyat seperti tukang gorengan yang mati bunuh diri lalu pantas menyandang gelar martir bagi kehidupan yang lebih baik. Memang, nasib mereka diperjuangkan, dijadikan pertaruhan politik, atau ditindas secara kejam seolah merekalah kaum lemah paling tak berdaya. Tapi sebenarnya merekalah yang paling kuat. Merekalah yang paling kuat menghadapi penindasan dan penderitaan, merekalah yang paling kuat menahan badai kerusuhan politik. Mereka jelas menjadi korban dalam banyak lapisan peristiwa yang didalangi oleh para elit politik, tapi mereka tetap bertahan.

Seorang tukang gorengan juga sama hebatnya dengan Munir atau Marsinah karena api semangat perjuangan seorang Munir atau seorang Marsinah bersumber dari rakyat kecil seperti tukang gorengan itu. Nasib dan kehidupan merekalah yang mengobarkan darah perlawanan seorang pejuang kemanusiaan. Cerita perjuangan orang-orang semacam Munir atau Marsinah tak kan pernah lepas dari akar perjuangan hidup rakyat kecil seperti tukang gorengan itu. Bayangkanlah bagaimana seorang tukang gorengan menjalani kehidupannya. Jika Anda seorang eksekutif muda, seorang karyawan bank, seorang manajer pabrik sabun, seorang birokrat pemda, atau seorang mahasiswa, dan ternyata tidak bisa menemukan bayangan kehidupan tukang gorengan, cobalah beli gorengan untuk menemani secangkir teh yang baru Anda seduh. Saat itu, ngobrollah dengan tukang gorengan untuk mengetahui seperti apa kehidupannya. Mungkin Anda perlu beberapa kali membeli untuk membangun keakraban dengan si tukang gorengan sampai dia mau bercerita tentang kehidupannya. Abaikan dulu soal kolestrol atau darah tinggi akibat minyak goreng curah.

Setelah tiga-empat kali ngobrol, mungkin bayangan seperti ini akan terbangun di benak Anda: “Tukang gorengan hidup di rumah petak kontrakan di daerah yang kumuh dan sumpek, ia memiliki seorang istri dan tiga anak yang semuanya sudah putus sekolah di tingkat sekolah dasar. Istrinya sakit-sakitan dan tak bisa lagi menjadi buruh cuci freelance sehingga jatah makan mereka semakin berkurang karena tak ada tambahan penghasilan. Si tukang gorengan harus berhutang untuk menambah modal jualannya setiap hari. Dari hari ke hari seiring kenaikan harga tempe dan minyak goreng, hutangnya makin menggunung……”

Anda bisa meneruskan kisah ini sampai sejauh-jauhnya untuk mengeksplorasi penderitaan rakyat kecil seperti tukang gorengan. Di luar profesi ini, kehidupan rakyat kecil lainnya juga tak kalah penuh oleh cerita pilu yang tak ingin Anda simpan dalam memori otak belakang. Dari cerita rekaan itu, mungkin sebagian Anda tetap tidak bisa memahami mengapa seorang tukang gorengan harus bunuh diri karena harga minyak goreng melambung. Bunuh diri memang bukan solusi yang baik dari sudut pandang agama khususnya, tapi kematian seorang tukang gorengan yang bunuh diri tidak akan menjadi sia-sia jika sesudahnya pemerintah berupaya keras menurunkan harga minyak, harga tempe, dan harga bahan kebutuhan lainnya. Kematian seorang tukang gorengan juga tidak menjadi sia-sia jika para koruptor dan pengusaha kaya lantas berhenti melakukan pemiskinan dan mempermainkan nasib rakyat. Kita bisa menambahkan daftar ketidaksia-siaan ini untuk diri kita di bidang masing-masing.

Jadi ketika seorang tukang gorengan mati bunuh diri, apakah dia kalah dalam perjuangannya sebagai rakyat? Ya, dia kalah tapi kekalahannya adalah sekaligus kemenangan, jika kemudian menggerakkan kita untuk berbuat sesuatu guna memperbaiki keadaan di sekeliling kita. (frg)

Thursday, January 24, 2008

Si Gila dari Muara Bondet

juga dimuat di rubrik Sikap, vhrmedia.com.


Kegilaan masih menjadi tema kita yang menarik dan relevan saat ini. Seperti pagi ini, sebuah peristiwa membuat saya bertanya lagi tentang kegilaan. Alkisah, adalah seorang perempuan mengalami gangguan pikiran dan mental di sebuah kampung nun jauh di pinggiran Jakarta. Orang-orang bilang perempuan itu gila karena ditinggal suaminya. Ada yang kasihan, ada yang tidak peduli, ada juga yang senang karena membenci ayah si perempuan gila, yang adalah mantan lurah di kampung tersebut. Perhatian pada perempuan itu meredup seiring waktu. Tingkah aneh seperti berdandan cantik tapi dengan lipstik belepotan di pipi dan berjalan membelah jalan raya di garis tengahnya (sehingga membuat mobil, motor, angkot, dan kendaraan lain yang melintas terkaget-kaget), sudah dianggap biasa oleh masyarakat. Perempuan gila itu lalu hanya menjadi objek penderita yang tidak menarik lagi.

Kegilaan yang disetempelkan masyarakat pada kening perempuan itu tentu tetap melekat pada dirinya. Cap masyarakat itu semacam stempel seumur hidup. Tak peduli ada kala di mana si perempuan tidak pernah terlihat aneh lagi dan juga tidak berkeliaran di jalanan, stempel itu tetap melekat. Kalaupun misalnya ia sembuh, orang-orang tetap akan mengatakan bahwa dia pernah gila, atau masih sedikit gila, atau tetap gila tapi sedang tidak kumat. Berbulan-bulan kemudian, masyarakat tiba-tiba kembali membicarakan perempuan itu. Si gila itu hamil! Ini lalu menjadi topik pembicaraan hangat di seluruh lapisan masyarakat. Bapak-bapak di pos ronda dalam kibaran sarung mereka (meminjam puisi Joko Pinurbo), ibu-ibu berdaster seksi di tukang sayur langganan mereka, remaja karang taruna di kompleks perumahan kumuh, sopir angkot, tukang ojek, dan anak-anak sekolah dasar pun, sibuk membahas berbagai spekulasi, analisa, hipotesa, dan prediksi-prediksi tentang kehamilan perempuan itu. Sama persis dengan perhatian media massa dan masyarakat luas pada kasus sakitnya Soeharto, tapi dalam level dan skala yang berbeda.

Spekulasi, analisa, hipotesa, dan prediksi yang secara serius dibahas selama beberapa minggu berkisar soal siapa gerangan yang menghamili perempuan gila itu, bagaimana caranya dia menyetubuhi si gila, bagaimana si pemerkosa bisa bernafsu, di mana dan berapa kali itu terjadi. Lalu ada juga bagian-bagian yang dibahas sambil berbisik-bisik: bagaimana ya rasanya? Dan seterusnya , dan seterusnya. Tentu ada juga yang awalnya dimulai dengan penuh keprihatinan: kok tega ya? Gila benar tuh orang! Siapa sebenarnya yang gila? Tapi selanjutnya tetap akan sampai juga pada fokus serupa.

Seiring waktu, perut si perempuan malang itu pun makin membuncit. Kegilaan-kegilaan perilakunya pun mulai berbeda. Kalau dulu ia suka berdandan, semenjak perutnya membuncit ia lebih senang hanya berpakaian celana pendek dan membiarkan payudara dan perut buncitnya tanpa sehelai pakaian pun. Kalau dulu ia suka tertawa-tawa histeris, kini ia kerap terlihat sedih. Awalnya, ini membuat orang-orang kembali memberi perhatian besar pada dirinya. Tapi siklus yang sama tetap terulang. Seiring waktu orang-orang kembali mengacuhkan dan menjadikannya objek penderita yang tidak penting.

Orang-orang kembali pada rutinitas mereka. Pada ketidakpedulian dan pada pembiaran yang sudah menjadi bagian integral eksistensi orang-orang. Hidup yang melelahkan sebagai orang kecil di pinggiran Jakarta membuat orang-orang hanya peduli pada apa yang bisa menghibur mereka. Tak peduli seberapa “sakit” atau seberapa “keji” atau seberapa “gila” hiburan itu. Soeharto sakit, artis pacaran, artis kawin, artis cerai, koruptor disidang, tukang gorengan bunuh diri karena harga tempe dan minyak tanah, Lumpur lapindo, gempa, longsor, dan banjir, orang-orang di barak, bandar narkoba ditangkap, atau orang gila hamil, sampai batas tertentu adalah hiburan yang dikemas sebagai berita. Industri media melihat dengan jeli kondisi ini sebagai celah peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Semua penderitaan dihibur dengan penderitaan yang lebih dramatis lagi. Itu realitas yang berlaku kini. Masyarakat dilanda epidemi masokis.

Alkisah beberapa bulan kemudian, tepatnya pada suatu pagi, tersiar kabar bahwa perempuan malang itu telah melahirkan. Tak banyak orang yang tahu kapan dan bagaimana persisnya proses persalinan itu. Hanya kabar bahwa dia dan bayinya selamat. “Perempuan gila itu melahirkan bayi perempuan.” Orang-orang terus menyiarkan kabar itu seakan infotainmen yang menyiarkan sebuah gosip. Tapi tak ada yang terlalu antusias untuk membahasnya. Semua perhatian masih tersedot pada sakitnya Soeharto, dan jelas si perempuan malang yang dicap gila itu tak mungkin bersaing dengan seorang Soeharto. Tapi pagi ini (24/1/2008), tiba-tiba jalanan dihebohkan oleh perempuan malang itu. Seorang pengendara motor nyaris terpelanting jatuh, sebuah mobil menginjak rem sampai mendecit, dan orang-orang berkerumun di pinggir jalan. Mereka semua tengah menyaksikan si perempuan malang bersama bayinya yang masih merah dalam gendongannya berguling-guling di jalan raya. Perempuan itu menangis histeris, menggoncangkan bayinya ke arah orang-orang dan bergerak liar tanpa peduli kendaraan yang melintas. Ia bahkan sengaja hendak menabrakkan diri dan bayinya pada kendaraan-kendaraan itu.

Orang-orang yang menyaksikan terpekur entah oleh apa. Sesuatu di benak mereka mungkin berusaha merumuskan reaksi apa yang seharusnya mereka ekspresikan, tapi sepertinya upaya itu gagal. Saya yang juga kebetulan melintas pada saat peristiwa itu berlangsung, juga tak tahu harus berbuat apa. Saya hanya terdiam beberapa menit dengan perasaan kacau balau. Si perempuan malang itu terus berteriak-teriak dan kemudian mulai berlari di tengah jalan raya. Bayinya tergoncang-goncang tanpa suara. Saya tidak tahu hidup atau matikah bayi itu. Orang-orang terus mematung meski perempuan malang itu semakin menjauh dari mereka. Saya melanjutkan perjalanan dengan perasaan kacau-balau. Di benak saya, terbayang seorang tokoh komik ciptaan komikus Djair yang dijuluki “si gila dari muara bondet”. Tokoh yang dicap gila oleh orang-orang tapi sebenarnya adalah seorang pendekar pembela kebenaran yang sakti. Selama beberapa saat, saya berharap Si Gila dari Muara Bondet bukan sekadar tokoh komik, tapi tokoh nyata yang bisa menyelamatkan orang-orang bernasib sangat malang seperti perempuan itu. Sungguh, pagi itu, saya benar-benar merasa sedih. Kini saya ingin berbagi kesedihan pada anda semua, agar kita bisa menanggungnya bersama-sama dan kemudian bergerak bersama-sama untuk membuat hidup ini lebih baik seperti yang dilakukan Si Gila dari Muara Bondet. (frg)

Thursday, January 10, 2008

Ide Gila, Show off, atau Nurani?

juga dimuat di rubrik Sikap, 8 Januari 2008

Tiga orang pengelola radio komunitas dari Malang, Brebes, dan Gebang (perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah) terdampar di Jakarta pada saat perayaan malam tahun baru 2008. Lazimnya, “orang daerah” akan antusias merayakan tahun baru di Monas, Taman Impian Jaya Ancol, atau pusat-pusat keramaian lain di Jakarta. Tapi ketiga orang pengelola radio komunitas ini bukan orang yang lazim. Mereka tidak pergi melihat kembang api atau nonton konser musik pergantian tahun. Di tengah guyuran hujan deras yang sudah menenggelamkan beberapa daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan juga Sumatera Utara, ketiga orang ini memutuskan untuk melakukan “solidaritas” pada para korban bencana di berbagai daerah yang tidak bisa merayakan tahun baru. Mereka memutuskan untuk berjalan sejauh kaki melangkah. Rute awal adalah kawasan Senayan ke patung Pancoran. Maka berjalanlah mereka beberapa waktu sebelum lonceng tahun baru berbunyi. Mereka sepakat untuk hanya berbekal sebotol air mineral ukuran tanggung. Tidak makan dan tidak ngemil.

Dan di tengah guyuran hujan deras, ketiga orang itu memulai perjalanan mereka menuju patung Pancoran. Tidak jelas, rute mana yang mereka ambil, tapi yang jelas mereka baru tiba di patung Pancoran pukul tiga dini hari. Setidaknya 4-5 jam mereka berjalan terus menerus walaupun dalam keadaan basah kuyup. Lapar dan dingin menikam tubuh mereka di tengah keriuhan terompet tahun baru dan kemeriahan kembang api aneka warna. Dingin dan lapar yang sama pasti dirasakan juga oleh puluhan ribu orang di berbagai daerah yang dilanda banjir. Penderitaan yang dilakoni atau dijalani (sebenarnya agak kurang pas menerjemahkan kata jawa “dilakoni” dengan “dijalani”, tapi apa boleh buat, sulit mencari padanan lainnya) ketiga orang itu mungkin bisa kita cap sebagai “artifisial”. Mengada-ada. Aneh-aneh. Sok. Atau apa saja yang bisa memuaskan orang-orang yang ingin menuding atau hanya terbiasa memberi “cap”. Namun apa pun tudingan orang, sikap ketiga orang itu adalah sebuah pilihan sah. Mereka berhak melakukannya sebagai ekspresi kepedulian dan keprihatinan yang tulus atau bahkan sebagai sikap sok prihatin belaka.

Bagaimana kita menyikapi bencana setelah sekian puluh bencana besar terus-menerus terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Masihkah kita memiliki kepedulian dan keprihatinan? Atau barangkali kita sudah imun atau kebal? Pertanyaan ini relevan untuk kita semua, terutama mereka yang selama ini selalu peduli pada penderitaan sesamanya. Tsunami Aceh kita tahu masih menyisakan begitu banyak permasalahan serius yang terkait dengan pertanyaan ini. Kuatnya indikasi korupsi, penyelewengan, manipulasi, penipuan, dan kolusi dalam penggunaan atau penyaluran dana bantuan yang mencapai trilyunan rupiah, sungguh memicu pertanyaan dasar tentang hati nurani serta harkat dan martabat kita sebagai manusia. Dalam situasi penuh penderitaan, mungkin memang diperlukan ide-ide gila untuk merayakan datangnya tahun baru. Kita memang harus optimis memandang masa depan, ini tak perlu diperdebatkan. Semua orang pasti sepakat tentang sikap dasar ini. Semua orang perlu menghibur diri dan melupakan segala penderitaan. Ini sangat bisa diperdebatkan. Terutama bila penderitaan itu tengah menghajar ratusan ribu atau jutaan orang persis di malam tahun baru.

Kita tetap bisa dan boleh merayakan tahun baru. Masalahnya adalah cara kita merayakannya. Kalau kita masih memiliki nurani, tentulah sangat tidak etis bila kita membeli home theater seharga 2 milyar rupiah hanya untuk mendengarkan gemuruh pembunuhan lain di layar home theater kita atau meriahnya tahun baru di berbagai negara. Seorang fotografer freelance kebetulan pernah memotret sebuah rumah dengan home theater seharga milyaran rupiah yang membuat saya berdecak tak habis mengerti. Bagaimana bisa orang tega membelinya sementara jutaan orang masih kelaparan di sekelilingnya? Ketika saya tanyakan kehebatan perangkat audio visual pada teman fotografer yang memotretnya, dia tak bisa menjelaskan apa. “Mungkin hanya telinga-telinga orang kaya saja yang bisa merasakan kehebatannya,” jelasnya.

Katakanlah orang kaya yang membeli home theater itu memiliki sebuah ide gila yang didasari oleh hasrat show off belaka dan sama sekali tidak memiliki nurani yang membuatnya berpikir tentang penderitaan yang terjadi di sekelilingnya. Sementara tiga orang pengelola radio komunitas yang merayakan tahun baru dengan ikut prihatin pada para korban bencana, memiliki ide gila yang justru berbasis pada nurani mereka. Ada perbedaan yang sangat mendasar di antara orang kaya dan para pengelola radio komunitas itu. Seharusnya kita bisa melihat dengan jernih perbedaan-perbedaan kecil namun prinsip yang ada pada orang-orang di sekitar kita. Tanpa bisa melihat dengan jernih kita hanya akan menjadi tukang tuding, tukang cap yang tak pernah berbuat apa-apa selain menuding dan memberi cap. Menjadi manusia tukang tuding akhirnya juga akan mengikis kepekaan dan kepedulian kita. Perlahan-lahan nurani kita pun akan pupus dan menghilang. Lalu jadilah kita manusia-manusia tanpa nurani yang tidak memiliki ide gila apa pun dan juga tidak mampu untuk show off apa pun. Ini adalah jenis manusia yang sungguh paling memprihatinkan. Apakah kita hanya akan menjadi manusia jenis itu di tahun 2008? Anda sendiri yang menentukan. Selamat tahun baru 2008. Semoga menjadi tahun yang baik bagi kita semua. (frg)

Friday, September 28, 2007

Maaf

Juga dimuat di rubrik Sikap, vhrmedia.com.

Trevor, seorang anak berusia 12-an tahun, mendapat tugas merumuskan sebuah ide untuk membuat dunia menjadi tempat lebih baik melalui suatu kegiatan kongkrit dari guru ilmu sosialnya. Semua anak di kelas Trevor kebingungan dan tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Trevor balik bertanya pada gurunya: “Bapak sendiri melakukan apa untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik?” Si guru, yang wajahnya dipenuhi guratan-guratan bekas luka bakar, tersenyum dan menjawab pasti: “Cukup dengan tidur nyenyak setiap malam sehingga bisa datang ke kelas ini tepat waktu dalam kondisi segar dan mengajar kalian dengan baik. Itu yang saya lakukan.”

Trevor dan murid-murid lain seketika terdiam mendengar jawaban mantap dari guru mereka yang bertampang seram itu. Trevor, anak tunggal seorang ibu pemabuk yang hidup sendiri, tak pernah merasa dunia adalah tempat yang cukup baik untuk ditinggali. Ayah Trevor yang suka memukuli ibunya sudah lama pergi meninggalkan mereka. Bagi Trevor, hidup berdua saja dengan ibunya jauh lebih baik dibanding saat ayahnya masih bersama mereka. Kini, tiba-tiba guru seram itu memintanya memikirkan satu ide yang bisa dilakukannya agar dunia menjadi “lebih baik”. Gila. Mana mungkin seorang bocah umur 12 tahun “mengubah dunia?”. Tapi tugas adalah tugas dan semua murid harus mengerjakannya. Setelah berpikir keras, akhirnya Trevor menemukan satu ide yang “mungkin” bisa dilakukannya.

Ide Trevor sederhana. Intinya adalah berbuat baik, entah itu memaafkan, menolong orang yang kesusahan, mengingatkan orang yang salah, atau apa saja yang bisa dilakukan seorang anak seusianya. Uniknya ide Trevor adalah pada kelanjutan dari perbuatan baik itu. Trevor menggagas agar setiap orang yang berhasil diberi dan menerima perbuatan baiknya, membayar ke depan (pay it forward) dengan melakukan perbuatan baik apa saja pada tiga orang lainnya. Ketentuan ini seterusnya berlaku sama pada orang-orang berikutnya. Semacam konsep multi level marketing tapi diterapkan untuk “menjual” sebuah perbuatan baik. Produknya adalah perbuatan baik. Dan ini sangat relevan dengan kondisi riil dunia yang amburadul sehingga sulit sekali menemukan orang yang mengatakan “dunia ini adalah tempat yang cukup baik untuk ditinggali”.

Apakah perbuatan baik masih bisa memengaruhi dan mengubah dunia? Saya masih memiliki keyakinan seperti Trevor: perbuatan baik harus diperjuangkan, dipelihara, dan ditularkan sebagai virus yang bisa menyebar dengan cepat dan langsung merasuki semua orang tanpa pandang bulu. Dengan cara itu perbuatan baik pasti mampu mengubah dunia. Perbuatan baik yang paling sederhana tapi sekaligus paling mendasar (dan karenanya juga tidak mudah dilakukan) adalah memaafkan. Saat ini, di bulan puasa yang suci, adalah momen paling tepat untuk belajar memaafkan dengan tulus. Memaafkan dengan hati, dari hati, untuk hati yang lain. Bukan memaafkan sekadar ucapan manis di mulut belaka. Sama seperti seorang anak remaja yang selalu bilang maaf pada orang tuanya setiap melakukan kesalahan tapi esoknya kembali melakukan kesalahan yang sama. Atau seorang suami yang tetap saja memukuli istrinya setelah mohon maaf sambil berlinang air mata.

Maaf sebenarnya adalah inti dari harmoni kehidupan bersama dalam sebuah masyarakat yang hibrid seperti Indonesia. Maaf adalah syarat utama bagi perdamaian antarkelompok, antaragama, antarsuku, antarkelas, dan juga antarbangsa. Tapi maaf juga harus dilengkapi dengan perbuatan-perbuatan menolong orang, seperti yang dilakukan tokoh Trevor dalam film "Pay It Forward". Sekalipun resiko yang harus dihadapi sangat besar tapi menolong orang atau berbuat baik adalah satu paket dengan perbuatan memaafkan. Artinya, kita tidak akan bisa memaafkan diri kita sendiri jika kita membiarkan kejahatan, kesewenang-wenangan, penindasan, dan kebejatan manusia berlangsung di depan mata kita. Tegasnya, ketika kita berbuat salah kita harus minta maaf pada orang yang dirugikan atau menjadi korban, sekaligus pada diri kita. Dan kita hanya bisa memaafkan diri kita jika mampu tidak lagi mengulang perbuatan yang sama.

Tokoh Trevor di ending film mati ditikam akibat ketegasan sikapnya menolong kawan yang teraniaya, tak peduli apa pun resikonya. Trevor bukan sok jagoan, tapi ia tahu, ia tak bisa mengubah dunia sekaligus tak akan bisa memaafkan dirinya jika membiarkan kejahatan dan kesewenang-wenangan terjadi di depan matanya. Inilah pelajaran terpenting yang harus kita petik saat kita belajar memaafkan sesama setulusnya. Dengan memahami secara benar makna maaf, saya yakin kita tak akan bertikai atas nama agama, kelompok, kelas, suku, ataupun pembeda-pembeda lainnya. Saya percaya semua agama mengajarkan kita untuk saling memaafkan dan menyayangi sesama. Selamat hari raya Idul Fitri 1428, mohon maaf lahir batin. (frg)

Tuesday, September 25, 2007

Apakah Hitler Seorang Gay?

Tahanan berlabel Pink Triangle mengalami nasib yang 'lebih buruk dan lebih nista' daripada seekor anjing. (A Love to Hide, Christian Faure, 2005)

Rosa Winkel, atau Pink Triangle, adalah badge yang disematkan untuk menandai tahanan gay atau laki-laki homoseksual di kamp konsentrasi Nazi. Antara tahun 1933-1945, sekira 100.000 orang homoseksual masuk tahanan di negeri yang--khususnya di Berlin--sebelum masa Third Reich cukup liberal dalam hal homoseksualitas. Mereka inilah yang diberi label segitiga merah jambu, dan mengalami penyiksaan hingga eksperimen keji yang dilakukan oleh tentara Nazi. Eugene Kogon dalam bukunya Der SS-Stat mengatakan: "Pada musim gugur 1944 ... anggota SS-Strumbannfuhrer DR. Vaernet ... muncul di Kamp Konsentrasi Buchenwald. Dengan izin Himmler ... Vaernet memulai serangkaian eksperimen yang bertujuan untuk menghapus homoseksualitas. Dilakukan penanaman hormon sintetik pada perut bagian bawah sejumlah laki-laki untuk mengubah orientasi seksual mereka. 15 orang yang dijadikan kelinci percobaan ... mati akibat operasi ini. Yang lain tewas beberapa minggu kemudian karena terlalu lemah."

Homoseksualitas, sebagaimana sifilis dan prostitusi, adalah fenomena-fenomena yang oleh Hitler dalam Mein Kampf , disebut-sebut sebagai cultural degeneration (kemerosotan budaya). Gay tidak mendukung reproduksi dan menjaga kemurnian darah Aria, karena itu mereka menjadi musuh Nazi. Kebencian berlebihan Hitler terhadap homoseksualitas menilaskan rumor dan pertanyaan. Apakah Hitler sendiri seorang gay?

Hitler vs Pink Triangle; Perang Nazi Melawan Sifilis, Homoseks, dan Penghancuran Seksologi
FX Rudy Gunawan, Spasi & VHRBook, September 2007
ix + 150 hal: 11,5 x 19 cm
ISBN: 978-979-16852-1-4
Rp 24.000,-