Tuesday, November 22, 2005

Reading Habit

catatan rabu pagi #10
Atas rekomendasi Dewi “Supernova” Lestari alias Dee, Selasa kemarin saya diundang menjadi tamu untuk acara televisi Mobilista BCA yang kebetulan mengangkat tema tentang reading habit di masyarakat kita. Tentu saja saya mau menjadi tamu untuk acara itu. Selain karena teman baik saya, Dee yang memberi rekomendasi, juga karena tema itu memang penting. Salah satu akar segala macam persoalan yang kita hadapi saat ini, saya yakin antara lain disebabkan rendahnya budaya baca masyarakat kita. Rendahnya budaya baca membuat wawasan jadi cetek, wawasan yang cetek membutakan pikiran kita, pikiran yang buta tak bisa bereaksi cepat terhadap perkembangan keadaan. Pikiran yang buta tak kan pernah bisa mengkritisi keadaan.
Akhirnya, yang terjadi adalah kebodohan yang merajalela. Akibatnya, jadilah kita bangsa yang tak pernah bisa menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi. Simak saja berita di koran-koran, bacalah buku sejarah, pelajari saja disertasi dan hasil penelitan para ahli, maka yang kita dapatkan adalah persoalan-persoalan yang teronggok tanpa penyelesaian. Semuanya teronggok bersama puluhan atau ratusan mayat di kuburan-kuburan massal yang membusuk tanpa nisan. Tak ada yang mampu menyibak tuntas peristiwa-peristiwa yang kemudian dijadikan sebagai misteri sejarah itu. Hanya serpihannya yang tercecer di sekitar kita. Tapi bahkan serpihannya pun tak mudah dibaca.
Lalu bagaimana menggairahkan dan meningkatkan reading habit? Ini tema yang diangkat dalam talkshow tersebut. Selain saya, hadir juga Yessy Gusman, mantan bintang film tahun 80-an, yang kebetulan juga bintang idola saya di masa remaja, dan bintang sinetron masa kini yang masih aktif, Eksanti. Yessy Gusman kini adalah aktivis taman bacaan di berbagai daerah yang mencoba mengkampanyekan buku agar disukai dan dicintai anak-anak. Sebuah lompatan yang luar biasa dan perlu diteladani oleh artis-artis yang mulai memasuki usia pensiun. Saya masih ingat betul bagaimana ia menjadi idola bersama Rano Karno lewat film-film yang diangkat dari novel-novel Eddy D Iskandar, seperti Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, dan novel-novel lainnya.
Yessy dan Eksanti sepakat bahwa para Ibu harus mengenalkan buku sedini mungkin pada anak-anak mereka. Caranya dengan membacakan dongeng sebelum tidur, mengajak anak ke toko buku untuk memilih buku yang mereka minati, bukan buku yang menurut selera orang tua. Saya sangat setuju. Tradisi membacakan dongeng sebelum anak tidur memang harus dilestarikan. Saya ditanya tentang meningkatkan reading habit untuk para remaja. Jawaban saya adalah apa yang selama ini saya lakukan, yaitu menulis dan menerbitkan buku yang sesuai dengan selera mereka. Contohnya adalah buku tentang lifestyle mereka, novel adaptasi dari film dan buku guidance untuk persoalan-persoalan yang mereka hadapi.
Di sisi lain, yang terpenting adalah sistem pendidikan dan support pemerintah untuk mengkampanyekan budaya baca secara terus menerus dengan memberi kemudahan pada para pengarang dan penerbit. Saat ini, buku masih dibebani pajak sebagaimana industri umumnya, dan pengarang juga dikenakan pajak penghasilan yang tinggi, 15%. Ini sangat berat untuk kebanyakan pengarang dan penerbit. Saya juga mengusulkan agar para selebriti menulis dan mengkampanyekan buku seperti yang dilakukan oleh Madonna.
Ferdi Hasan yang menjadi host acara tersebut akhirnya menutup acara dengan optimisme bahwa reading habit pasti akan bisa ditingkatkan dengan berbagai cara seperti yang dilakukan oleh Yessy Gusman dan juga penerbit yang bisa memahami cara pendekaran yang pas untuk remaja dan masyarakat kita pada umumnya. Juga para penulis tentunya harus bisa mengemas karya mereka sebaik-baiknya sehingga buku tidak menjadi benda asing bagi siapa saja. Dan bagi para ibu, rajin-rajinlah membaca dongeng pengantar tidur seperti yang dilakukan Eksanti. Ini mungkin sepele, tapi sungguh sebenarnya sama sekali tidak sepele! Reading habit adalah langkah awal untuk masa depan yang lebih baik bagi siapapun! (frg)