<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980</id><updated>2011-04-21T16:05:25.824-07:00</updated><category term='opera'/><title type='text'>Negeri Biru</title><subtitle type='html'>my mind. my works. my project. my breath! my soul! my life.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-6913089971529239760</id><published>2008-09-01T20:36:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T00:36:26.003-07:00</updated><title type='text'>Mari Mendongeng!</title><content type='html'>  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;font style="font-family: Verdana;" size="3" face="Calibri"&gt;&lt;font style="font-weight: bold;" size="2"&gt;Catatan Rabu Pagi&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tutup  ember plastik besar berwarna merah adalah matahari. Ember mandi bayi  yang bolong bagian bawahnya adalah perahu. Kardus bekas berbentuk jajaran  genjang dengan lobang kecil di ujungnya menjadi  seekor hiu besar  dan ganas bermata buta yang siap mencaplok bocah kecil berseragam Sekolah Dasar bernama Pahlawan jika ia tak menyerahkan telor kerang langka yang  ada di kantongnya. Pahlawan berjuang keras mengarungi samudera untuk  mendapatkan telor kerang langka guna mengobati mata ibundanya yang juga  buta. Tapi kini hiu ganas buta itu mengancam akan memangsa dirinya jika  ia tak menyerahkan telor itu. Pahlawan bingung. Ia merajuk dan merayu  hiu itu agar tidak meminta telor kerang langka, tapi si hiu tetap memaksanya.  Negosiasi kemudian terjadi. Pahlawan yang gigih dan pantang menyerah  kemudian berhasil membuat kesepakatan dengan si hiu. Jika ia menyerahkan  telor kerang langka itu maka si hiu harus membantunya mencari obat lain  guna menyembuhkan mata ibundanya. Si hiu setuju. Dan pahlawan kembali  berjuang mengarungi samudera sampai ke berbagai benua untuk mencari  obat buat ibundanya. &lt;/font&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;text-align: justify;"&gt;&lt;font size="3"&gt;      &lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;Dongeng  tentang pahlawan itu tidak ditonton dan didengarkan oleh anak-anak SD  tapi justru para mahasiswa Universitas Indonesia, para aktivis LSM,  para akademisi dan juga seniman dan budayawan, yang menontonnya ketika  pendongeng Aceh yang unik, Agus Nur Amal atau Agus PM Toh, mementaskannya  di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia. Bak kembali ke masa kanak-kanak  yang penuh keceriaan dan kegembiraan, para penonton atau pendengar dongeng  dewasa itu, tertawa tergelak hampir di sepanjang pertunjukan. Agus,  dengan busana khas Aceh berwarna hitam, membawa semua hadirin kembali  menjadi kanak-kanak yang selalu menjalani kehidupan dengan semangat  kegembiraan, kepolosan, dan ketulusan. Anak-anak yang secara spontan  tertawa atau menangis ketika bergembira atau bersedih. Anak-anak yang  secara gigih berjuang untuk membantu orang lain tanpa pamrih apapun.  Inilah sifat-sifat kebaikan yang mampu memunculkan jiwa kepahlawan pada  orang-orang yang memilikinya. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;text-align: justify;"&gt;&lt;font size="3"&gt;      &lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;Namun  seiring bertumbuh dewasanya seseorang, sifat-sifat yang mengandung potensi  kepahlawanan itu terkikis, menipis, dan pada sebagian besar orang bahkan  sama sekali habis. Hilang. Lenyap tanpa bekas.  Dan terjadilah  kemudian pertikaian, perkelahian, saling jegal, saling fitnah, kekerasan,  pembunuhan, bahkan pembantaian. Kehidupan lalu menjadi begitu mengerikan.  Bahkan anak-anak masa kini terancam oleh kehidupan yang mengerikan ini.  Ruang-ruang untuk kejujuran, ketulusan, kepolosan, persahabatan, tanpa  terasa semakin mengecil. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;text-align: justify;"&gt;&lt;font size="3"&gt;      &lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;Di  zaman ini, anak-anak sudah sejak lahir dihisap masuk ke dalam kotak  kaca bernama televisi yang tidak memiliki dongeng-dongeng indah yang  sederhana, mendidik dan mengarahkan mereka pada imajinasi bernilai kepahlawan  seperti dalam dongeng PM Toh.  Yang ada di televisi hanya sinetron-sinetron  yang justru berpotensi merusak potensi kepahlawanan pada jiwa anak-anak.  Mungkin masih ada satu-dua produk sinetron televisi yang cukup baik  sebagai pengganti dongeng yang semakin hari semakin musnah. Tapi itu  sangat jarang. Hanya satu-dua dalam kurun waktu yang lama. Mengapa?  Sederhana saja, karena produk semacam itu umumnya tidak laku. Sebuah  televisi swasta yang pernah menampilkan Agus PM Toh, terbukti tidak  cukup mampu mempertahankan acara dongeng PM Toh yang mereka tayangkan.   Acara-acara dongeng lainnya yang pernah dicoba diproduksi dan ditayangkan  oleh sejumlah televisi swasta lainnya, juga rata-rata bernasib sama.   Menyedihkan melihat anak-anak tumbuh tanpa dongeng-dongeng yang sederhana  tapi sungguh mampu mengembangkan imajinasi kepahlawanan mereka.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;text-align: justify;"&gt;&lt;font size="3"&gt;      &lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;Dongeng  Pahlawan dipentaskan Agus PM Toh dalam sebuah konperensi tentang demokrasi  dan perlawanan terhadap tirani modal yang menguasai masyarakat Indonesia  dan masyarakat di negara-negara lainnya. Konperensi yang berlangsung  pada awal bulan Agustus ini memang tidak secara khusus membahas persoalan-persoalan  anak di Indonesia masa kini, tapi karena tujuannya untuk mencari wajah  Indonesia baru yang lebih baik di masa mendatang, maka nasib anak-anaklah  sebenarnya yang menjadi pokok soal utama dalam acara tersebut.   Nasib anak-anaklah yang dibicarakan dan dibahas oleh para pemikir, para  seniman dan budayawan, para ahli ekonomi dan politik yang menjadi narasumber  dalam acara itu. Dan persoalan Indonesia baru yang lebih baik, lebih  damai dan sejahtera, adalah tanggung jawab setiap rakyat Indonesia tanpa membedakan  apa status sosial-ekonomi,  agama, suku, profesi, maupun jenis  kelamin. Lalu apa wujud sumbangsih paling kongkrit dan paling penting  yang bisa diberikan oleh setiap rakyat Indonesia tak peduli dia miskin  atau kaya, lelaki atau perempuan, Aceh atau Papua, Islam atau Hindu?&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;text-align: justify;"&gt;&lt;font size="3"&gt;      &lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;Jawabnya  sederhana. Mari beramai-ramai menjadi Agus PM Toh! Ya, mari kita kembali  mendongeng untuk anak-anak kita! Dulu, entah berapa puluh tahun yang  lampau, masih banyak orang tua mendongeng untuk meninabobokan anak-anak  mereka. Kini, tradisi ini semakin terancam punah. Ini sangat menyedihkan  karena bahkan di negara-negara maju sekalipun, tradisi mendongeng masih  dicoba dipertahankan oleh banyak orang tua. Mengapa? Karena dongeng  memang penting dan efektif untuk mendidik dan menaburkan benih-benih  kebaikan pada jiwa anak-anak. Karena dongeng terbukti berhasil menjadikan  dirinya sebagai sarana pendidikan dini yang disukai anak-anak. Jadi,  wahai semua orang dewasa di Indonesia, mari mulai mendongeng untuk anak-anak  kita demi masa depan Indonesia yang lebih baik. (frg)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-6913089971529239760?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/6913089971529239760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=6913089971529239760&amp;isPopup=true' title='37 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/6913089971529239760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/6913089971529239760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2008/09/mari-mendongeng_01.html' title='Mari Mendongeng!'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>37</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-3480074595562676406</id><published>2008-09-01T20:34:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T00:34:34.941-07:00</updated><title type='text'>Mari Mendongeng!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;font style="font-family: Verdana;" size="3" face="Calibri"&gt;&lt;font style="font-weight: bold;" size="2"&gt;Catatan Rabu Pagi&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tutup  ember plastik besar berwarna merah adalah matahari. Ember mandi bayi  yang bolong bagian bawahnya adalah perahu. Kardus bekas berbentuk jajaran  genjang dengan lobang kecil di ujungnya menjadi  seekor hiu besar  dan ganas bermata buta yang siap mencaplok bocah kecil berseragam Sekolah Dasar bernama Pahlawan jika ia tak menyerahkan telor kerang langka yang  ada di kantongnya. Pahlawan berjuang keras mengarungi samudera untuk  mendapatkan telor kerang langka guna mengobati mata ibundanya yang juga  buta. Tapi kini hiu ganas buta itu mengancam akan memangsa dirinya jika  ia tak menyerahkan telor itu. Pahlawan bingung. Ia merajuk dan merayu  hiu itu agar tidak meminta telor kerang langka, tapi si hiu tetap memaksanya.  Negosiasi kemudian terjadi. Pahlawan yang gigih dan pantang menyerah  kemudian berhasil membuat kesepakatan dengan si hiu. Jika ia menyerahkan  telor kerang langka itu maka si hiu harus membantunya mencari obat lain  guna menyembuhkan mata ibundanya. Si hiu setuju. Dan pahlawan kembali  berjuang mengarungi samudera sampai ke berbagai benua untuk mencari  obat buat ibundanya. &lt;/font&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;text-align: justify;"&gt;&lt;font size="3"&gt;      &lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;Dongeng  tentang Pahlawan itu tidak ditonton dan didengarkan oleh anak-anak SD  tapi justru para mahasiswa Universitas Indonesia, para aktivis LSM,  para akademisi dan juga seniman dan budayawan, yang menontonnya ketika  pendongeng Aceh yang unik, Agus Nur Amal atau Agus PM Toh, mementaskannya  di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia. Bak kembali ke masa kanak-kanak  yang penuh keceriaan dan kegembiraan, para penonton atau pendengar dongeng  dewasa itu, tertawa tergelak hampir di sepanjang pertunjukan. Agus,  dengan busana khas Aceh berwarna hitam, membawa semua hadirin kembali  menjadi kanak-kanak yang selalu menjalani kehidupan dengan semangat  kegembiraan, kepolosan, dan ketulusan. Anak-anak yang secara spontan  tertawa atau menangis ketika bergembira atau bersedih. Anak-anak yang  secara gigih berjuang untuk membantu orang lain tanpa pamrih apapun.  Inilah sifat-sifat kebaikan yang mampu memunculkan jiwa kepahlawan pada  orang-orang yang memilikinya. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;text-align: justify;"&gt;&lt;font size="3"&gt;      &lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;Namun  seiring bertumbuh dewasanya seseorang, sifat-sifat yang mengandung potensi  kepahlawanan itu terkikis, menipis, dan pada sebagian besar orang bahkan  sama sekali habis. Hilang. Lenyap tanpa bekas.  Dan terjadilah  kemudian pertikaian, perkelahian, saling jegal, saling fitnah, kekerasan,  pembunuhan, bahkan pembantaian. Kehidupan lalu menjadi begitu mengerikan.  Bahkan anak-anak masa kini terancam oleh kehidupan yang mengerikan ini.  Ruang-ruang untuk kejujuran, ketulusan, kepolosan, persahabatan, tanpa  terasa semakin mengecil. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;text-align: justify;"&gt;&lt;font size="3"&gt;      &lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;Di  zaman ini, anak-anak sudah sejak lahir dihisap masuk ke dalam kotak  kaca bernama televisi yang tidak memiliki dongeng-dongeng indah yang  sederhana, mendidik dan mengarahkan mereka pada imajinasi bernilai kepahlawan  seperti dalam dongeng PM Toh.  Yang ada di televisi hanya sinetron-sinetron  yang justru berpotensi merusak potensi kepahlawanan pada jiwa anak-anak.  Mungkin masih ada satu-dua produk sinetron televisi yang cukup baik  sebagai pengganti dongeng yang semakin hari semakin musnah. Tapi itu  sangat jarang. Hanya satu-dua dalam kurun waktu yang lama. Mengapa?  Sederhana saja, karena produk semacam itu umumnya tidak laku. Sebuah  televisi swasta yang pernah menampilkan Agus PM Toh, terbukti tidak  cukup mampu mempertahankan acara dongeng PM Toh yang mereka tayangkan.   Acara-acara dongeng lainnya yang pernah dicoba diproduksi dan ditayangkan  oleh sejumlah televisi swasta lainnya, juga rata-rata bernasib sama.   Menyedihkan melihat anak-anak tumbuh tanpa dongeng-dongeng yang sederhana  tapi sungguh mampu mengembangkan imajinasi kepahlawanan mereka.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;text-align: justify;"&gt;&lt;font size="3"&gt;      &lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;Dongeng  Pahlawan dipentaskan Agus PM Toh dalam sebuah konperensi tentang demokrasi  dan perlawanan terhadap tirani modal yang menguasai masyarakat Indonesia  dan masyarakat di negara-negara lainnya. Konperensi yang berlangsung  pada awal bulan Agustus ini memang tidak secara khusus membahas persoalan-persoalan  anak di Indonesia masa kini, tapi karena tujuannya untuk mencari wajah  Indonesia baru yang lebih baik di masa mendatang, maka nasib anak-anaklah  sebenarnya yang menjadi pokok soal utama dalam acara tersebut.   Nasib anak-anaklah yang dibicarakan dan dibahas oleh para pemikir, para  seniman dan budayawan, para ahli ekonomi dan politik yang menjadi narasumber  dalam acara itu. Dan persoalan Indonesia baru yang lebih baik, lebih  damai dan sejahtera, adalah tanggung jawab setiap rakyat Indonesia tanpa membedakan  apa status sosial-ekonomi,  agama, suku, profesi, maupun jenis  kelamin. Lalu apa wujud sumbangsih paling kongkrit dan paling penting  yang bisa diberikan oleh setiap rakyat Indonesia tak peduli dia miskin  atau kaya, lelaki atau perempuan, Aceh atau Papua, Islam atau Hindu?&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;text-align: justify;"&gt;&lt;font size="3"&gt;      &lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;Jawabnya  sederhana. Mari beramai-ramai menjadi Agus PM Toh! Ya, mari kita kembali  mendongeng untuk anak-anak kita! Dulu, entah berapa puluh tahun yang  lampau, masih banyak orang tua mendongeng untuk meninabobokan anak-anak  mereka. Kini, tradisi ini semakin terancam punah. Ini sangat menyedihkan  karena bahkan di negara-negara maju sekalipun, tradisi mendongeng masih  dicoba dipertahankan oleh banyak orang tua. Mengapa? Karena dongeng  memang penting dan efektif untuk mendidik dan menaburkan benih-benih  kebaikan pada jiwa anak-anak. Karena dongeng terbukti berhasil menjadikan  dirinya sebagai sarana pendidikan dini yang disukai anak-anak. Jadi,  wahai semua orang dewasa di Indonesia, mari mulai mendongeng untuk anak-anak  kita demi masa depan Indonesia yang lebih baik. (frg)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-3480074595562676406?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/3480074595562676406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=3480074595562676406&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/3480074595562676406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/3480074595562676406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2008/09/mari-mendongeng.html' title='Mari Mendongeng!'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-2208338369098734947</id><published>2008-05-13T04:31:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T04:32:13.766-07:00</updated><title type='text'>"Gie"</title><content type='html'>&lt;div class="bodytext"&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;juga dimuat di rubrik Sikap, vhrmedia.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;catatan rabu pagi &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Di sebuah kantor Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), seorang office boy (OB) tengah asyik memasak menu makan siang. Panggil saja dia Gie. Dia bukan Soe Hok Gie, aktivis angkatan 66 yang melegenda itu tentunya, tapi namanya memang mengandung kata “gie”, yakni Tugimin. Wajah Gie berkeringat dipanggang hawa panas kompor yang memenuhi dapur berukuran 2x1meter persegi. Otot-otot lengannya tampak kekar saat Gie serius mengulek sambal sebagai pelengkap menu utama, sayur asem, dan ikan asin. Tidak setiap hari Gie memasak makan siang untuk para aktivis di tempat kerjanya; dan justu karena itulah masakan Gie selalu dinanti-nanti. Semua aktivis suka masakan Gie. Meskipun berkeringat, wajah Gie terlihat ceria dan bersemangat. Tak ada beban di wajahnya, yang terlihat adalah ketulusan untuk melayani. Beberapa kali ia mengusap keringat dengan menggunakan lengan baju kaosnya, mencegah butir keringatnya terjatuh ke atas cobek. Siang itu, ia mengenakan kaos bertuliskan “Ayo Perangi dan Lawan Korupsi!”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Siapa saja yang melihat Gie asyik memasak biasanya langsung berkomentar, memberikan satu-dua pujian, sambil menahan liur mereka menetes. Siapa saja yang melihat Gie memasak, pasti akan mendapatkan wajah sederhana yang sungguh tulus, asyik meracik, menguleg, atau mengaduk sesuatu. Mungkin ini sesuatu yang sepele bagi sebagian besar orang, tapi bila kita mau menyempatkan diri untuk sengaja mencari sebuah ketulusan pada wajah-wajah yang berseliweran di pasar, mal, alun-alun, restoran-restoran, kantor-kantor pemerintah, kantor-kantor swasta, kampus-kampus, atau di mana saja, saya berani bertaruh, kita tidak akan mudah menemukannya. Mungkin di antara seribu wajah yang kita pelototi, hanya ada satu wajah setengah tulus yang kita temukan. Kalau beruntung, mungkin kita akan menemukan dua-tiga wajah tulus di antara seribu wajah itu. Sungguh, ketulusan untuk melayani sesama sudah lama menjadi barang langka di dunia yang kita hidupi kini. Setidaknya menurut pengamatan saya, orang-orang kini lebih banyak berpamrih dalam segala hal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang yang tulus melayani biasanya masih bisa kita temukan di desa-desa kecil yang kebetulan kita kunjungi dalam sebuah perjalanan. Kita mungkin masih mendapatkan orang-orang yang menawarkan bantuan dengan spontan ketika ban mobil kita kempes dan tak ada tukang tambal ban di sekitar kita. Kita mungkin masih mendapatkan keramahtamahan yang jujur dan bukan basa-basi ketika kita bertanya arah pada seorang penduduk desa kecil di pelosok Indonesia. Di kota-kota besar memang tetap ada peluang kita mendapatkan ketulusan, tapi probabilitasnya tetap lebih kecil dibandingkan dengan di desa-desa. Gie adalah contoh kongkrit profil orang desa karena ia memang berasal dari desa kecil di pelosok Jawa Tengah. Desanya, menurut Gie, adalah sebuah desa miskin dengan tingkat pendidikan masyarakat yang sangat rendah karena tidak ada kemampuan untuk membiayai sekolah. Padahal, menurut cerita Gie pada saya dalam suatu kesempatan kami ngobrol berdua, orang-orang desanya, lelaki maupun perempuan, adalah orang-orang yang sangat rajin bekerja, tidak pernah malas untuk melakukan pekerjaan apa pun asal tidak melanggar hukum. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya tak bisa menjawab pertanyaan polos Gie tentang kemiskinan desanya. “Mengapa kami hidup miskin, Mas? Kan kami semua bukan orang-orang yang malas, kami selalu rajin bekerja tiap hari. Mengapa kami tetap miskin?” Saya sungguh ingin menjawabnya dengan sesederhana mungkin, tapi apakah ada penjelasan sederhana tentang kemiskinan? Masalahnya pasti selalu kompleks dan pelik. Saya membuang muka sejenak dari tatapan Gie yang sungguh polos dan mengharap sebuah penjelasan. Saya harus memilih satu jawaban yang paling bisa menjelaskan mengapa orang-orang desa Gie yang rajin bekerja dan tulus melayani sesamanya harus hidup dalam kemiskinan?  Jawaban sederhana apa yang harus saya sampaikan? Jangan-jangan sebenarnya saya memang tidak bisa menjawab pertanyaannya. Sejujurnya saya memang malah ingin belajar bagaimana bisa memiliki ketulusan seperti dirinya. Tapi saya harus menjawab pertanyaannya, saya tidak ingin mengecewakan Gie dan juga mengecewakan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Pripun, Mas? Bagaimana?  Apa jawaban pertanyaan saya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya menghela nafas panjang. Saya sudah menemukan sebuah jawaban, tapi jawaban itu sungguh pahit dan menyakitkan untuk disampaikan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Baiklah, Gie. Saya akan menjawab pertanyaanmu dengan jujur, tapi jawaban ini hanya salah satu dari sekian banyak penyebab lainnya. Jawaban ini juga mungkin menyakiti hatimu. Kamu paham?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Paham, Mas.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Kamu siap untuk mendengar  jawaban saya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Inggih, siap, Mas.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Gie, menurut saya, salah satu penyebab miskinnya desamu adalah karena kalian memiliki ketulusan yang luar biasa dalam melayani pada sesama manusia….”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Hah, kok bisa, Mas? Kulo  mboten ngertos, ndak ngerti saya….”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Itulah Gie, pahit kan? Tapi justru karena itulah, orang-orang pinter, para pemimpin, para politisi, para aktivis, para pejabat, para mahasiswa, seharusnya belajar dari kamu dan orang-orang desamu tentang ketulusan. Barulah orang-orang desamu tidak akan miskin lagi!”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gie &lt;span style="font-style: italic;"&gt;manthuk-manthuk&lt;/span&gt;, menggangguk-anggukkan kepalanya. Saya menatapnya dengan perasaan kacau-balau. Sungguh saya ingin belajar ketulusan padanya. Sungguh saya ingin semua orang meneladaninya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tebet Barat, Maret 2008.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-2208338369098734947?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/2208338369098734947/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=2208338369098734947&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/2208338369098734947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/2208338369098734947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2008/05/gie.html' title='&quot;Gie&quot;'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-7000174993099308805</id><published>2008-04-01T17:44:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T21:45:00.520-07:00</updated><title type='text'>Matinya Tukang Gorengan</title><content type='html'>     &lt;p style="font-family: georgia,times new roman,times,serif; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; juga dimuat di rubrik &lt;a href="http://www.vhrmedia.com/vhr-story/sikap.php"&gt;S&lt;/a&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;a href="http://www.vhrmedia.com/vhr-story/sikap.php"&gt;ikap&lt;/a&gt;, Maret 2008&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: georgia,times new roman,times,serif; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saat untuk pertama kalinya harga minyak goreng melejit, kira-kira beberapa minggu sebelum Soeharto mulai kritis, seorang tukang gorengan diberitakan mati gantung diri. Mungkin peristiwa itu sudah mulai terkikis dari memori Anda, tertumpuk oleh begitu banyak peristiwa lain yang lebih penting, lebih dramatik, atau lebih menyedihkan lagi. Penderitaan seorang tukang gorengan barangkali hanya sebuah peristiwa kecil saja yang tidak terlalu penting bagi banyak orang. Tapi bagi saya, seorang tukang gorengan sama pentingnya dengan seorang pejuang hak asasi sekaliber Munir atau seorang Marsinah. Ia juga sama hebatnya dengan seorang diktator seperti Marcos atau Soeharto yang bisa berjaya sebagai diktator selama puluhan tahun. Tukang gorengan itu juga seorang pejuang yang tak kalah hebatnya dibandingkan para aktivis Green Peace yang sangat getol memprotes tindakan-tindakan para perusak lingkungan. Mengapa ia begitu hebat di mata saya?&lt;o:p&gt; &lt;br&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: georgia,times new roman,times,serif; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Ia hebat karena penderitaannya sebagai rakyat kecil adalah penderitaan yang memungkinkan seorang diktator seperti Soeharto atau Marcos terus berkuasa sampai kematian merenggut nyawa mereka. Berkat penderitaan merekalah, para diktator bisa berpesta pora menghamburkan kekayaan negara yang kemudian melahirkan gerakan-gerakan perlawanan dari para pembela rakyat. Dalam mata rantai ini, rakyat seperti tukang gorengan yang mati bunuh diri lalu pantas menyandang gelar martir bagi kehidupan yang lebih baik. Memang, nasib mereka diperjuangkan, dijadikan pertaruhan politik, atau ditindas secara kejam seolah merekalah kaum lemah paling tak berdaya. Tapi sebenarnya merekalah yang paling kuat. Merekalah yang paling kuat menghadapi penindasan dan penderitaan, merekalah yang paling kuat menahan badai kerusuhan politik. Mereka jelas menjadi korban dalam banyak lapisan peristiwa yang didalangi oleh para elit politik, tapi mereka tetap bertahan.&lt;o:p&gt; &lt;br&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: georgia,times new roman,times,serif; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Seorang tukang gorengan juga sama hebatnya dengan Munir atau Marsinah karena api semangat perjuangan seorang Munir atau seorang Marsinah bersumber dari rakyat kecil seperti tukang gorengan itu. Nasib dan kehidupan merekalah yang mengobarkan darah perlawanan seorang pejuang kemanusiaan. Cerita perjuangan orang-orang semacam Munir atau Marsinah tak &lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; pernah lepas dari akar perjuangan hidup rakyat kecil seperti tukang gorengan itu. Bayangkanlah bagaimana seorang tukang gorengan menjalani kehidupannya. Jika Anda seorang eksekutif muda, seorang karyawan bank, seorang manajer pabrik sabun, seorang birokrat pemda, atau seorang mahasiswa, dan ternyata tidak bisa menemukan bayangan kehidupan tukang gorengan, cobalah beli gorengan untuk menemani secangkir teh yang baru Anda seduh. Saat itu, ngobrollah dengan tukang gorengan untuk mengetahui seperti apa kehidupannya. Mungkin Anda perlu beberapa kali membeli untuk membangun keakraban dengan si tukang gorengan sampai dia mau bercerita tentang kehidupannya. Abaikan dulu soal kolestrol atau darah tinggi akibat minyak goreng curah.&lt;o:p&gt; &lt;br&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: georgia,times new roman,times,serif; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Setelah tiga-empat kali ngobrol, mungkin bayangan seperti ini akan terbangun di benak Anda: “Tukang gorengan hidup di rumah petak kontrakan di daerah yang kumuh dan sumpek, ia memiliki seorang istri dan tiga anak yang semuanya sudah putus sekolah di tingkat sekolah dasar. Istrinya sakit-sakitan dan tak bisa lagi menjadi buruh cuci &lt;span style="font-style: italic;"&gt;freelance&lt;/span&gt; sehingga jatah makan mereka semakin berkurang karena tak ada tambahan penghasilan. Si tukang gorengan harus berhutang untuk menambah modal jualannya setiap hari. Dari hari ke hari seiring kenaikan harga &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;tempe&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan minyak goreng, hutangnya makin menggunung……” &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: georgia,times new roman,times,serif; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Anda bisa meneruskan kisah ini sampai sejauh-jauhnya untuk mengeksplorasi penderitaan rakyat kecil seperti tukang gorengan. Di luar profesi ini, kehidupan rakyat kecil lainnya juga tak kalah penuh oleh cerita pilu yang tak ingin Anda simpan dalam memori otak belakang. Dari cerita rekaan itu, mungkin sebagian Anda tetap tidak bisa memahami mengapa seorang tukang gorengan harus bunuh diri karena harga minyak goreng melambung. Bunuh diri memang bukan solusi yang baik dari sudut pandang agama khususnya, tapi kematian seorang tukang gorengan yang bunuh diri tidak akan menjadi sia-sia jika sesudahnya pemerintah berupaya keras menurunkan harga minyak, harga &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;tempe&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, dan harga bahan kebutuhan lainnya. Kematian seorang tukang gorengan juga tidak menjadi sia-sia jika para koruptor dan pengusaha kaya lantas berhenti melakukan pemiskinan dan mempermainkan nasib rakyat. Kita bisa menambahkan daftar ketidaksia-siaan ini untuk diri kita di bidang masing-masing.&lt;o:p&gt; &lt;br&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: georgia,times new roman,times,serif; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Jadi ketika seorang tukang gorengan mati bunuh diri, apakah dia kalah dalam perjuangannya sebagai rakyat? Ya, dia kalah tapi kekalahannya adalah sekaligus kemenangan, jika kemudian menggerakkan kita untuk berbuat sesuatu guna memperbaiki keadaan di sekeliling kita. (frg) &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-7000174993099308805?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/7000174993099308805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=7000174993099308805&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/7000174993099308805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/7000174993099308805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2008/04/matinya-tukang-gorengan.html' title='Matinya Tukang Gorengan'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-5202335707423229937</id><published>2008-01-24T15:59:00.000-08:00</published><updated>2008-01-24T20:59:10.921-08:00</updated><title type='text'>Si Gila dari Muara Bondet </title><content type='html'>&lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font size="2"&gt;juga dimuat di rubrik &lt;a href="http://www.vhrmedia.com/vhr-story/sikap-detail.php?.g=stories&amp;.s=sikap&amp;.e=22"&gt;Sikap&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://vhrmedia.com/"&gt;vhrmedia.com&lt;/a&gt;.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;br&gt;Kegilaan masih menjadi tema  kita yang menarik dan relevan saat ini. Seperti pagi ini, sebuah peristiwa  membuat saya bertanya lagi tentang kegilaan. Alkisah, adalah seorang  perempuan mengalami gangguan pikiran dan mental di sebuah kampung nun  jauh di pinggiran Jakarta. Orang-orang bilang perempuan itu gila  karena ditinggal suaminya. Ada yang kasihan, ada yang tidak  peduli, ada juga yang senang karena membenci ayah si perempuan gila, yang adalah mantan lurah di kampung tersebut. Perhatian pada perempuan  itu meredup seiring waktu. Tingkah aneh seperti berdandan cantik tapi  dengan lipstik belepotan di pipi dan berjalan membelah jalan raya di  garis tengahnya (sehingga membuat mobil, motor, angkot, dan kendaraan  lain yang melintas terkaget-kaget), sudah dianggap biasa oleh masyarakat.  Perempuan gila itu lalu hanya menjadi objek penderita yang tidak menarik  lagi. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Kegilaan yang disetempelkan  masyarakat pada kening perempuan itu tentu tetap melekat pada dirinya. Cap masyarakat itu semacam stempel seumur hidup. Tak  peduli ada kala di mana si perempuan tidak pernah terlihat aneh lagi  dan juga tidak berkeliaran di jalanan, stempel itu tetap melekat. Kalaupun  misalnya ia sembuh, orang-orang tetap akan mengatakan bahwa dia pernah  gila, atau masih sedikit gila, atau tetap gila tapi sedang tidak kumat.  Berbulan-bulan kemudian, masyarakat tiba-tiba kembali membicarakan perempuan  itu. Si gila itu hamil! Ini lalu menjadi topik pembicaraan hangat di  seluruh lapisan masyarakat. Bapak-bapak di pos ronda dalam kibaran sarung  mereka (meminjam puisi Joko Pinurbo), ibu-ibu berdaster seksi di tukang  sayur langganan mereka, remaja karang taruna di kompleks perumahan kumuh,  sopir angkot, tukang ojek, dan anak-anak sekolah dasar pun, sibuk membahas  berbagai spekulasi, analisa, hipotesa, dan prediksi-prediksi tentang  kehamilan perempuan itu. Sama persis dengan perhatian media massa dan  masyarakat luas pada kasus sakitnya Soeharto, tapi dalam level dan skala  yang berbeda. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Spekulasi, analisa, hipotesa,  dan prediksi yang secara serius dibahas selama beberapa minggu berkisar  soal siapa gerangan yang menghamili perempuan gila itu, bagaimana  caranya dia menyetubuhi si gila, bagaimana si pemerkosa bisa bernafsu,  di mana dan berapa kali itu terjadi. Lalu ada juga bagian-bagian yang  dibahas sambil berbisik-bisik: bagaimana ya rasanya? Dan seterusnya , dan seterusnya. Tentu ada juga yang awalnya dimulai dengan penuh keprihatinan:  kok tega ya? Gila benar tuh orang! Siapa sebenarnya yang gila? Tapi  selanjutnya tetap akan sampai juga pada fokus serupa. &lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Seiring waktu,  perut si perempuan malang itu pun makin membuncit. Kegilaan-kegilaan  perilakunya pun mulai berbeda. Kalau dulu ia suka berdandan, semenjak  perutnya membuncit ia lebih senang hanya berpakaian celana pendek dan  membiarkan payudara dan perut buncitnya tanpa sehelai pakaian pun. Kalau  dulu ia suka tertawa-tawa histeris, kini ia kerap terlihat sedih. Awalnya,  ini membuat orang-orang kembali memberi perhatian besar pada dirinya. Tapi siklus yang sama tetap terulang. Seiring waktu orang-orang kembali  mengacuhkan dan menjadikannya objek penderita yang tidak penting.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Orang-orang kembali pada rutinitas  mereka. Pada ketidakpedulian dan pada pembiaran yang sudah menjadi bagian  integral eksistensi orang-orang. Hidup yang melelahkan sebagai orang  kecil di pinggiran Jakarta membuat orang-orang hanya peduli pada apa  yang bisa menghibur mereka. Tak peduli seberapa “sakit” atau seberapa  “keji” atau seberapa “gila” hiburan itu. Soeharto sakit, artis  pacaran, artis kawin, artis cerai, koruptor disidang, tukang gorengan  bunuh diri karena harga tempe dan minyak tanah, Lumpur lapindo, gempa,  longsor, dan banjir, orang-orang di barak, bandar narkoba ditangkap,  atau orang gila hamil, sampai batas tertentu adalah hiburan yang dikemas  sebagai berita. Industri media melihat dengan jeli kondisi ini sebagai  celah peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Semua penderitaan dihibur  dengan penderitaan yang lebih dramatis lagi. Itu realitas yang berlaku  kini. Masyarakat dilanda epidemi masokis. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Alkisah beberapa bulan kemudian,  tepatnya pada suatu pagi, tersiar kabar bahwa perempuan malang itu telah  melahirkan. Tak banyak orang yang tahu kapan dan bagaimana persisnya  proses persalinan itu. Hanya kabar bahwa dia dan bayinya selamat. “Perempuan  gila itu melahirkan bayi perempuan.” Orang-orang terus menyiarkan  kabar itu seakan infotainmen yang menyiarkan sebuah gosip. Tapi tak  ada yang terlalu antusias untuk membahasnya. Semua perhatian masih tersedot  pada sakitnya Soeharto, dan jelas si perempuan malang yang dicap gila  itu tak mungkin bersaing dengan seorang Soeharto. Tapi pagi ini (24/1/2008),  tiba-tiba jalanan dihebohkan oleh perempuan malang itu. Seorang pengendara  motor nyaris terpelanting jatuh, sebuah mobil menginjak rem sampai mendecit,  dan orang-orang berkerumun di pinggir jalan. Mereka semua tengah menyaksikan  si perempuan malang bersama bayinya yang masih merah dalam gendongannya  berguling-guling di jalan raya. Perempuan itu menangis histeris, menggoncangkan  bayinya ke arah orang-orang dan bergerak liar tanpa peduli kendaraan  yang melintas. Ia bahkan sengaja hendak menabrakkan diri dan bayinya  pada kendaraan-kendaraan itu. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Orang-orang yang menyaksikan  terpekur entah oleh apa. Sesuatu di benak mereka mungkin berusaha merumuskan  reaksi apa yang seharusnya mereka ekspresikan, tapi sepertinya upaya  itu gagal. Saya yang juga kebetulan melintas pada saat peristiwa itu  berlangsung, juga tak tahu harus berbuat apa. Saya hanya terdiam beberapa  menit dengan perasaan kacau balau. Si perempuan malang itu terus berteriak-teriak  dan kemudian mulai berlari di tengah jalan raya. Bayinya tergoncang-goncang  tanpa suara. Saya tidak tahu hidup atau matikah bayi itu. Orang-orang  terus mematung meski perempuan malang itu semakin menjauh dari mereka.  Saya melanjutkan perjalanan dengan perasaan kacau-balau. Di benak saya,  terbayang seorang tokoh komik ciptaan komikus Djair yang dijuluki “si  gila dari muara bondet”. Tokoh yang dicap gila oleh orang-orang tapi  sebenarnya adalah seorang pendekar pembela kebenaran yang sakti. Selama  beberapa saat, saya berharap Si Gila dari Muara Bondet bukan sekadar  tokoh komik, tapi tokoh nyata yang bisa menyelamatkan orang-orang bernasib  sangat malang seperti perempuan itu. Sungguh, pagi itu, saya benar-benar  merasa sedih. Kini saya ingin berbagi kesedihan pada anda semua, agar  kita bisa menanggungnya bersama-sama dan kemudian bergerak bersama-sama  untuk membuat hidup ini lebih baik seperti yang dilakukan Si Gila dari Muara Bondet. (frg)&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-5202335707423229937?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/5202335707423229937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=5202335707423229937&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/5202335707423229937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/5202335707423229937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2008/01/si-gila-dari-muara-bondet.html' title='Si Gila dari Muara Bondet '/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-743462205905880651</id><published>2008-01-10T20:53:00.000-08:00</published><updated>2008-01-11T01:53:40.631-08:00</updated><title type='text'>Ide Gila, Show off, atau Nurani? </title><content type='html'>&lt;p style="font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;juga dimuat di rubrik &lt;a rel="nofollow" href="http://www.vhrmedia.com/vhr-story/sikap-detail.php?.g=stories&amp;.s=sikap&amp;.e=21"&gt;Sikap&lt;/a&gt;, 8 Januari 2008&lt;br&gt;&lt;/font&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Tiga orang pengelola radio  komunitas dari Malang, Brebes, dan Gebang (perbatasan Jawa Barat-Jawa  Tengah) terdampar di Jakarta pada saat perayaan malam tahun baru 2008.  Lazimnya, “orang daerah” akan antusias merayakan tahun baru di Monas,  Taman Impian Jaya Ancol, atau pusat-pusat keramaian lain di Jakarta.  Tapi ketiga orang pengelola radio komunitas ini bukan orang yang lazim.  Mereka tidak pergi melihat kembang api atau nonton konser musik pergantian  tahun. Di tengah guyuran hujan deras yang sudah menenggelamkan beberapa  daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan juga Sumatera Utara, ketiga  orang ini memutuskan untuk melakukan “solidaritas” pada para korban  bencana di berbagai daerah yang tidak bisa merayakan tahun baru. Mereka  memutuskan untuk berjalan sejauh kaki melangkah. Rute awal adalah  kawasan Senayan ke patung Pancoran. Maka berjalanlah mereka beberapa  waktu sebelum lonceng tahun baru berbunyi. Mereka sepakat untuk hanya  berbekal sebotol air mineral ukuran tanggung. Tidak makan dan tidak  ngemil.  &lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Dan di tengah guyuran hujan  deras, ketiga orang itu memulai perjalanan mereka menuju patung Pancoran.  Tidak jelas, rute mana yang mereka ambil, tapi yang jelas mereka baru  tiba di patung Pancoran pukul tiga dini hari. Setidaknya 4-5 jam mereka  berjalan terus menerus walaupun dalam keadaan basah kuyup. Lapar dan  dingin menikam tubuh mereka di tengah keriuhan terompet tahun baru dan  kemeriahan kembang api aneka warna. Dingin dan lapar yang sama pasti  dirasakan juga oleh puluhan ribu orang di berbagai daerah yang dilanda  banjir. Penderitaan yang dilakoni atau dijalani (sebenarnya agak kurang  pas menerjemahkan kata jawa “dilakoni” dengan “dijalani”, tapi  apa boleh buat, sulit mencari padanan lainnya) ketiga orang itu mungkin  bisa kita cap sebagai “artifisial”. Mengada-ada. Aneh-aneh. Sok.  Atau apa saja yang bisa memuaskan orang-orang yang ingin menuding atau  hanya terbiasa memberi “cap”.  Namun apa pun tudingan orang,  sikap ketiga orang itu adalah sebuah pilihan sah. Mereka berhak melakukannya  sebagai ekspresi kepedulian dan keprihatinan yang tulus atau bahkan  sebagai sikap sok prihatin belaka.  &lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Bagaimana kita menyikapi bencana  setelah sekian puluh bencana besar terus-menerus terjadi di berbagai  wilayah Indonesia. Masihkah kita memiliki kepedulian dan keprihatinan?  Atau barangkali kita sudah imun atau kebal? Pertanyaan ini relevan untuk  kita semua, terutama mereka yang selama ini selalu peduli pada penderitaan  sesamanya. Tsunami Aceh kita tahu masih menyisakan begitu banyak permasalahan  serius yang terkait dengan pertanyaan ini. Kuatnya indikasi korupsi,  penyelewengan, manipulasi, penipuan, dan kolusi dalam penggunaan atau  penyaluran dana bantuan yang mencapai trilyunan rupiah, sungguh memicu  pertanyaan dasar tentang hati nurani serta harkat dan martabat kita  sebagai manusia. Dalam situasi penuh penderitaan, mungkin memang diperlukan  ide-ide gila untuk merayakan datangnya tahun baru. Kita memang harus  optimis memandang masa depan, ini tak perlu diperdebatkan. Semua orang  pasti sepakat tentang sikap dasar ini. Semua orang perlu menghibur diri  dan melupakan segala penderitaan. Ini sangat bisa diperdebatkan. Terutama  bila penderitaan itu tengah menghajar ratusan ribu atau jutaan orang  persis di malam tahun baru.   &lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Kita tetap bisa dan boleh merayakan  tahun baru. Masalahnya adalah cara kita merayakannya. Kalau kita masih  memiliki nurani, tentulah sangat tidak etis bila kita membeli &lt;span style="font-style: italic;"&gt;home theater  &lt;/span&gt;seharga 2 milyar rupiah hanya untuk mendengarkan gemuruh pembunuhan  lain di layar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;home theater&lt;/span&gt; kita atau meriahnya tahun baru di berbagai  negara. Seorang fotografer &lt;span style="font-style: italic;"&gt;freelance&lt;/span&gt; kebetulan pernah memotret sebuah  rumah dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;home theater&lt;/span&gt; seharga milyaran rupiah yang membuat saya  berdecak tak habis mengerti. Bagaimana bisa orang tega membelinya sementara  jutaan orang masih kelaparan di sekelilingnya? Ketika saya tanyakan  kehebatan perangkat audio visual pada teman fotografer yang memotretnya,  dia tak bisa menjelaskan apa. “Mungkin hanya telinga-telinga  orang kaya saja yang bisa merasakan kehebatannya,” jelasnya.  &lt;br&gt;&lt;/font&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;font style="font-family: Verdana;" face="Times New Roman" size="2"&gt;Katakanlah orang kaya yang  membeli &lt;span style="font-style: italic;"&gt;home theater&lt;/span&gt; itu memiliki sebuah ide gila yang didasari oleh  hasrat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;show off&lt;/span&gt; belaka dan sama sekali tidak memiliki nurani yang membuatnya  berpikir tentang penderitaan yang terjadi di sekelilingnya. Sementara  tiga orang pengelola radio komunitas yang merayakan tahun baru dengan  ikut prihatin pada para korban bencana, memiliki ide gila yang justru  berbasis pada nurani mereka. Ada perbedaan yang sangat mendasar di antara  orang kaya dan para pengelola radio komunitas itu. Seharusnya kita bisa  melihat dengan jernih perbedaan-perbedaan kecil namun prinsip yang ada  pada orang-orang di sekitar kita. Tanpa bisa melihat dengan jernih kita  hanya akan menjadi tukang tuding, tukang cap yang tak pernah berbuat  apa-apa selain menuding dan memberi cap. Menjadi manusia tukang tuding  akhirnya juga akan mengikis kepekaan dan kepedulian kita. Perlahan-lahan  nurani kita pun akan pupus dan menghilang. Lalu jadilah kita manusia-manusia  tanpa nurani yang tidak memiliki ide gila apa pun dan juga tidak mampu  untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;show off&lt;/span&gt; apa pun. Ini adalah jenis manusia yang sungguh paling  memprihatinkan. Apakah kita hanya akan menjadi manusia jenis itu di  tahun 2008? Anda sendiri yang menentukan. Selamat tahun baru 2008. Semoga  menjadi tahun yang baik bagi kita semua. (frg) &lt;/font&gt;&lt;font size="2"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;  &lt;/div&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-743462205905880651?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/743462205905880651/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=743462205905880651&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/743462205905880651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/743462205905880651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2008/01/ide-gila-show-off-atau-nurani.html' title='Ide Gila, Show off, atau Nurani? '/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-5714311767225702015</id><published>2007-09-28T18:20:00.000-07:00</published><updated>2007-09-28T22:21:01.179-07:00</updated><title type='text'>Maaf </title><content type='html'>&lt;DIV&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana size=2&gt;Juga dimuat di rubrik &lt;A href="http://vhrmedia.com/vhr-story/sikap.php"&gt;Sikap&lt;/A&gt;, &lt;A href="http://vhrmedia.com/"&gt;vhrmedia.com&lt;/A&gt;.&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana size=2&gt;Trevor, seorang anak berusia 12-an tahun, mendapat tugas merumuskan sebuah ide untuk membuat &lt;FONT style="BACKGROUND-COLOR: #ffffff" color=#3366ff size=3&gt;dunia menjadi tempat lebih baik&lt;/FONT&gt; melalui suatu kegiatan kongkrit dari guru ilmu sosialnya. Semua anak di kelas Trevor kebingungan dan tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Trevor balik bertanya pada gurunya: “Bapak sendiri melakukan apa untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik?” Si guru, yang wajahnya dipenuhi guratan-guratan bekas luka bakar, tersenyum dan menjawab pasti: “Cukup dengan tidur nyenyak setiap malam sehingga bisa datang ke kelas ini tepat waktu dalam kondisi segar dan mengajar kalian dengan baik. Itu yang saya lakukan.”  &lt;BR&gt;&lt;/P&gt;&lt;/FONT&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana size=2&gt;Trevor dan murid-murid lain seketika terdiam mendengar jawaban mantap dari guru mereka yang bertampang seram itu. Trevor, anak tunggal seorang ibu pemabuk yang hidup sendiri, tak pernah merasa dunia adalah tempat yang cukup baik untuk ditinggali. Ayah Trevor yang suka memukuli ibunya sudah lama pergi meninggalkan mereka. Bagi Trevor, hidup berdua saja dengan ibunya jauh lebih baik dibanding saat ayahnya masih bersama mereka. Kini, tiba-tiba guru seram itu memintanya memikirkan satu ide yang bisa dilakukannya agar dunia menjadi “lebih baik”. Gila. Mana mungkin seorang bocah umur 12 tahun “mengubah dunia?”. Tapi tugas adalah tugas dan semua murid harus mengerjakannya. Setelah berpikir keras, akhirnya Trevor menemukan satu ide yang “mungkin” bisa dilakukannya. &lt;BR&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana size=2&gt;Ide Trevor sederhana. Intinya adalah berbuat baik, entah itu memaafkan, menolong orang yang kesusahan, mengingatkan orang yang salah, atau apa saja yang bisa dilakukan seorang anak seusianya. Uniknya ide Trevor adalah pada kelanjutan dari perbuatan baik itu. Trevor menggagas agar setiap orang yang berhasil diberi dan menerima perbuatan baiknya, membayar ke depan (pay it forward) dengan melakukan perbuatan baik apa saja pada tiga orang lainnya. Ketentuan ini seterusnya berlaku sama pada orang-orang berikutnya. Semacam konsep &lt;EM&gt;multi level marketing &lt;/EM&gt;tapi diterapkan untuk “menjual” sebuah perbuatan baik. Produknya adalah perbuatan baik. Dan ini sangat relevan dengan kondisi riil dunia yang amburadul sehingga sulit sekali menemukan orang yang mengatakan “dunia ini adalah tempat yang cukup baik untuk ditinggali”.  &lt;BR&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana size=2&gt;Apakah perbuatan baik masih bisa memengaruhi dan mengubah dunia? Saya masih memiliki keyakinan seperti Trevor: perbuatan baik harus diperjuangkan, dipelihara, dan ditularkan sebagai virus yang bisa menyebar dengan cepat dan langsung merasuki semua orang tanpa pandang bulu. Dengan cara itu perbuatan baik pasti mampu mengubah dunia. Perbuatan baik yang paling sederhana tapi sekaligus paling mendasar (dan karenanya juga tidak mudah dilakukan) adalah memaafkan. Saat ini, di bulan puasa yang suci, adalah momen paling tepat untuk belajar memaafkan dengan tulus. Memaafkan dengan hati, dari hati, untuk hati yang lain. Bukan memaafkan sekadar ucapan manis di mulut belaka. Sama seperti seorang anak remaja yang selalu bilang maaf pada orang tuanya setiap melakukan kesalahan tapi esoknya kembali melakukan kesalahan yang sama. Atau seorang suami yang tetap saja memukuli istrinya setelah mohon maaf sambil berlinang air mata.  &lt;BR&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana size=2&gt;Maaf sebenarnya adalah inti dari harmoni kehidupan bersama dalam sebuah masyarakat yang hibrid seperti Indonesia. Maaf adalah syarat utama bagi perdamaian antarkelompok, antaragama, antarsuku, antarkelas, dan juga antarbangsa. Tapi maaf juga harus dilengkapi dengan perbuatan-perbuatan menolong orang, seperti yang dilakukan tokoh Trevor dalam film "Pay It Forward". Sekalipun resiko yang harus dihadapi sangat besar tapi menolong orang atau berbuat baik adalah satu paket dengan perbuatan memaafkan. Artinya, kita tidak akan bisa memaafkan diri kita sendiri jika kita membiarkan kejahatan, kesewenang-wenangan, penindasan, dan kebejatan manusia berlangsung di depan mata kita. Tegasnya, ketika kita berbuat salah kita harus minta maaf pada orang yang dirugikan atau menjadi korban, sekaligus pada diri kita. Dan kita hanya bisa memaafkan diri kita jika mampu tidak lagi mengulang perbuatan yang sama.    &lt;BR&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana size=2&gt;Tokoh Trevor di &lt;EM&gt;ending&lt;/EM&gt; film mati ditikam akibat ketegasan sikapnya menolong kawan yang teraniaya, tak peduli apa pun resikonya. Trevor bukan sok jagoan, tapi ia tahu, ia tak bisa mengubah dunia sekaligus tak akan bisa memaafkan dirinya jika membiarkan kejahatan dan kesewenang-wenangan terjadi di depan matanya. Inilah pelajaran terpenting yang harus kita petik saat kita belajar memaafkan sesama setulusnya. Dengan memahami secara benar makna maaf, saya yakin kita tak akan bertikai atas nama agama, kelompok, kelas, suku, ataupun pembeda-pembeda lainnya. Saya percaya semua agama mengajarkan kita untuk saling memaafkan dan menyayangi sesama. Selamat hari raya Idul Fitri 1428, mohon maaf lahir batin. (frg)    &lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt;&lt;/DIV&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-5714311767225702015?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/5714311767225702015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=5714311767225702015&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/5714311767225702015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/5714311767225702015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/09/maaf.html' title='Maaf '/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-8952706542696034284</id><published>2007-09-25T23:34:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T00:07:34.230-08:00</updated><title type='text'>Apakah Hitler Seorang Gay?</title><content type='html'>&lt;p class="mobile-photo"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_-niwxhXx5ZU/Rvn9nZOzgZI/AAAAAAAAAAM/MXEGNROVlkU/s1600-h/Buku+Hitler-707536.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114397705085616530" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_-niwxhXx5ZU/Rvn9nZOzgZI/AAAAAAAAAAM/MXEGNROVlkU/s320/Buku+Hitler-707536.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Tahanan berlabel Pink Triangle mengalami nasib yang 'lebih buruk dan lebih nista' daripada seekor anjing. (&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;A Love to Hide&lt;/span&gt;, Christian Faure, 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa Winkel, atau Pink Triangle, adalah badge yang disematkan untuk menandai tahanan gay atau laki-laki homoseksual di kamp konsentrasi Nazi. Antara tahun 1933-1945, sekira 100.000 orang homoseksual masuk tahanan di negeri yang--khususnya di Berlin--sebelum masa Third Reich cukup liberal dalam hal homoseksualitas. Mereka inilah yang diberi label segitiga merah jambu, dan mengalami penyiksaan hingga eksperimen keji yang dilakukan oleh tentara Nazi. Eugene Kogon dalam bukunya &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Der SS-Stat&lt;/span&gt; mengatakan: "Pada musim gugur 1944 ... anggota SS-Strumbannfuhrer DR. Vaernet ... muncul di Kamp Konsentrasi Buchenwald. Dengan izin Himmler ... Vaernet memulai serangkaian eksperimen yang bertujuan untuk menghapus homoseksualitas. Dilakukan penanaman hormon sintetik pada perut bagian bawah sejumlah laki-laki untuk mengubah orientasi seksual mereka. 15 orang yang dijadikan kelinci percobaan ... mati akibat operasi ini. Yang lain tewas beberapa minggu kemudian karena terlalu lemah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Homoseksualitas, sebagaimana sifilis dan prostitusi, adalah fenomena-fenomena yang oleh Hitler dalam &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Mein Kampf &lt;/span&gt;, disebut-sebut sebagai cultural degeneration (kemerosotan budaya). Gay tidak mendukung reproduksi dan menjaga kemurnian darah Aria, karena itu mereka menjadi musuh Nazi. Kebencian berlebihan Hitler terhadap homoseksualitas menilaskan rumor dan pertanyaan. Apakah Hitler sendiri seorang gay?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://fxrudygunawan.multiply.com/journal/item/61"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Hitler vs Pink Triangle; Perang Nazi Melawan Sifilis, Homoseks, dan Penghancuran Seksologi&lt;/span&gt;&lt;br style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;/a&gt;FX Rudy Gunawan, Spasi &amp;amp; VHRBook, September 2007&lt;br /&gt;ix + 150 hal: 11,5 x 19 cm&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-16852-1-4&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rp 24.000,-&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-8952706542696034284?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/8952706542696034284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=8952706542696034284&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/8952706542696034284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/8952706542696034284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/09/apakah-hitler-seorang-gay.html' title='Apakah Hitler Seorang Gay?'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-niwxhXx5ZU/Rvn9nZOzgZI/AAAAAAAAAAM/MXEGNROVlkU/s72-c/Buku+Hitler-707536.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-8527690927959488124</id><published>2007-09-12T19:17:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T23:17:09.561-07:00</updated><title type='text'>Segera Terbit!!!</title><content type='html'>&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="/photos/hi-res/upload/RujVKQoKCsoAAH9XMKY1"&gt;&lt;img class="alignleft" src="http://images.fxrudygunawan.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RujVKQoKCsoAAH9XMKY1/Buku%20Hitler.JPG?et=cUHXPUC%2BUEx4vUcPEXkYww" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;font style="font-weight: bold;" size="5"&gt;Hitler vs Pink Triangle: Perang Nazi Melawan Sifilis, Homoseks, dan Penghancuran Seksologi&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br&gt;author: FX Rudy Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;publisher: _sp@si &amp; VHRb++k&lt;/span&gt;&lt;br style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br&gt;&lt;font size="4"&gt;SEGERA DAPATKAN DI TOKO-TOKO BUKU TERDEKAT!&lt;/font&gt;&lt;br&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-8527690927959488124?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/8527690927959488124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=8527690927959488124&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/8527690927959488124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/8527690927959488124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/09/segera-terbit.html' title='Segera Terbit!!!'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-4236164984758076107</id><published>2007-09-12T18:30:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T22:31:01.522-07:00</updated><title type='text'>Jika Hitler Seorang Gay</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Dalam film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Love to Hide &lt;/span&gt;yang berkisah tentang &lt;font size="2"&gt;cinta &lt;/font&gt;dan nasib seorang gay di masa Hitler berkuasa, dituturkan betapa nista dan ngerinya menjadi seorang gay di bawah kekuasaan Hitler. Adalah Jean, pemuda tampan, baik, dan pintar, kesayangan keluarga yang ternyata seorang gay atau homoseks. Di masa remajanya, Jean sempat menjalani cinta monyet bersama seorang perempuan Yahudi bernama Sara. Sara sekian lama menghilang karena ditangkap tentara Nazi, tetapi kemudian berhasil meloloskan diri dan menemui Jean dalam keadaan syok dan trauma. Jean yang sudah menjadi seorang gay menampung Sara dan menempatkannya di rumah pasangan homoseksualnya. Jean juga memberikan identitas baru pada Sara sebagai seorang perempuan Perancis bernama Yvonne Brunner dan mempekerjakannya di tempat binatu milik keluarga Jean. &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;Sara yang masih tetap mencintai Jean sempat syok ketika mengetahui bahwa ternyata Jean sudah berubah menjadi seorang gay. Tapi perlahan ia mulai bisa menerima kenyataan itu dan bahkan tetap mencintai Jean dengan setulus hatinya. Ia bahkan mengangankan Jean bisa kembali normal atau setidaknya menjadi seorang biseksual sehingga mereka bisa hidup bahagia bertiga. Tapi film ini bukan film kisah cinta segitiga yang biasa-biasa saja. Persoalan yang diangkat kemudian bukanlah kisah cinta Jean atau Sara, melainkan tentang apa yang dialaminya Jean ketika akhirnya ditangkap polisi Perancis dan diserahkan pada tentara Nazi. Jean sebagai homoseksual ditempatkan dan dikelompokkan oleh tentara Nazi bersama tahanan lain yang mengenakan simbol Pink Triangle atau segitiga merah jambu di dada mereka. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;“Tahanan berlabel Pink Triangle mengalami nasib yang 'lebih buruk dan lebih nista' daripada seekor anjing,” jelas seorang tahanan Pink Triangle pada Jean saat mereka dalam perjalanan menuju sebuah kamp konsentrasi. Pada awalnya Jean tidak mau mempercayai yang dikatakan tahanan itu, tapi kenyataan yang dilihat dan dialaminya memang membuktikan kebenaran penjelasan tahanan itu. Ketika seorang tahanan berlabel Pink Triangle terjatuh di tempat kerja paksa, maka seketika itu, detik itu juga, tentara pengawas langsung menembaknya di kepala. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:City w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; juga tahanan lain yang ditelanjangi dan dibakar hidup-hidup di depan Jean. Semua kekejaman mengerikan itu dilakukan oleh tentara Nazi sambil tertawa-tawa, seolah mereka membunuh seekor anjing yang paling hina. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;Jean yang terjebak dalam penyekapan mengerikan karena ulah jahat adiknya sendiri yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mencintai Sara, selalu berusaha melawan dan membela kekejian tentara Nazi dalam menyiksa dan membantai kaum homoseks. Ia tidak dibunuh karena ia orang Perancis, bukan gay warga Jerman atau Yahudi. Istilah yang menjadi alasan penahanannya adalah re-edukasi. Tapi karena keberaniannya membela tahanan Pink Triangle lainnya, Jean akhirnya dibuang ke kamp konsentrasi &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:City w:st="on"&gt;Dachau&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang terkenal sebagai kamp konsentrasi paling keji dan mengerikan. Di Dachau Jean benar-benar disiksa habis-habisan dan dijadikan kelinci percobaan. Ia mengalami penyiksaan secara seksual dan juga berbagai eksperimen mengerikan yang dilakukan tentara-tentara Nazi. Ketika akhirnya Jean dikembalikan ke negaranya, saat kekuasaan Hitler berakhir, ia sudah seperti mayat hidup yang menunggu mati. Sara dan ayah-ibu Jean yang setia menantinya, menerima kedatangan kembali Jean dengan tangis pilu tanpa suara. Hanya beberapa hari bersama orang-orang yang mencintainya, Jean akhirnya meninggal di tengah-tengah mereka. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;Dalam salah satu dialog antara Jean dengan adiknya saat rahasia dirinya terbongkar oleh sang adik, Jean berkata: “Apakah kau memilih bermata biru saat dilahirkan? Apakah kau memilih berambut pirang saat dilahirkan? Aku pun tidak memilih untuk mencintai sesama lelaki. Seperti itulah cinta. Kau tidak pernah tahu betapa beratnya menanggung dan merahasiakan cintamu karena masyarakat menistakan cintamu.” Di bagian lain, ketika tentara Hitler menyiksanya, mereka mengutuk dan menyumpahi Jean sebagai aib bagi bangsa dan negaranya. “Kau mempermalukan bangsa dan negaramu, Homo! Kau adalah aib besar bagi bangsamu karena itu kau dikirim kemari!” Lalu tentara-tentara itu menghajar dan menyiksanya lagi. Tapi Jean jelas tak mungkin berubah meski disiksa dan dianiaya sampai mati. Ia memang seorang gay, seorang lelaki yang mencintai lelaki lainnya sama seperti lelaki yang mencintai seorang perempuan. Seperti dikatakan Jean pada adiknya, ia menjadi homoseksual sama seperti seseorang dilahirkan dengan mata biru atau rambut pirang.&lt;o:p&gt; &lt;br&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;Jean menegaskan bahwa kondisi dirinya adalah sesuatu yang berada di luar kekuasaannya. Kondisi itu adalah satu keterbatasan yang diberikan pada dirinya tanpa bisa ditawar, sebagaimana seseorang dilahirkan tanpa bisa memilih kualitas-kualitas tertentu. Di era kekuasaan Hitler, argumen semacam ini jelas tak mungkin diterima oleh masyarakat, bangsa, dan negara. Yang terjadi justru sebaliknya. Menurut catatan US Memorial Holocaust, pada masa Hitler berkuasa, persisnya sepanjang tahun 1933 sampai 1945, tercatat sedikitnya 100.000 orang homoseksual ditangkap dan disiksa di kamp-kamp konsentrasi. Dari jumlah itu, 10.000 sampai 15.000 meninggal karena penyiksaan dan eksperimen keji yang dilakukan tentara Nazi. Sungguh jumlah yang sangat besar sebagai sebuah pembantaian atau kejahatan terhadap kemanusiaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;crime against humanity&lt;/span&gt;). Pembantaian terhadap kaum homoseksual dan perang Hitler melawan pelacuran adalah sebuah penghancuran sistematis terhadap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sexology&lt;/span&gt; dan sekaligus merupakan kejahatan kemanusiaan yang sangat besar. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;Entah apa yang merasuki Hitler sampai kebenciannya teramat sangat besar pada kaum homoseks dan praktik-praktik perilaku seksual lainnya yang dianggap tidak bermoral atau menodai bangsa. Hitler memang seorang maniak dan psikopat yang haus darah, tapi ini pun tidak cukup menjelaskan tindakan yang dilakukannya pada kaum homoseksual. Bagaimana Hitler melihat dan mengonsepkan perilaku homoseksual memang tak dapat dilepaskan dari ideologinya yang berbasiskan kebencian dan angkara pada bangsa Yahudi. Jika Hitler pernah sekali saja membayangkan dirinya sebagai seorang gay, mungkin tragedi kemanusiaan yang dialami kaum gay tidak akan dan tidak perlu terjadi. Atau jika Hitler ternyata sebenarnya seorang gay maka apa yang dilakukannya pada kaum gay mungkin merupakan sebuah cerminan kebencian terhadap dirinya sendiri yang tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa dirinya adalah seorang gay. Tentu saja kita tak pernah tahu kebenaran apa yang ada dalam sosok Hitler. Bisa saja ia biseksual atau memang dia heteroseksual fanatik-fundamentalis yang sangat membenci orientasi seks sesama jenis. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:City w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; begitu banyak kemungkinan yang bersifat personal dan sulit diungkap pada sosok Hitler, karena itulah sosoknya selalu menjadi kontroversi yang terus-menerus hidup dan menarik perhatian masyarakat dunia, bahkan hingga saat ini. Munculnya generasi muda sekarang yang terinspirasi dan mengidolakan Hitler adalah bukti betapa kontroversi, ideologi, dan gerakan Nazi yang dipimpin Hitler ternyata masih menyimpan potensi. Sosok Hitler secara fisik memang unik. Dengan perawakan yang terbilang mungil untuk ukuran orang Jerman, ia mampu mengguncang dunia. Kumis khas dan rambut cepak khas Hitler yang klimis dengan seragam militer kebesarannya sebagai pemimpin besar, juga tetap unik dan mampu menarik perhatian. Dari penampilannya yang cenderung pesolek, sebenarnya tak berlebihan juga bila ada kemungkinan homo atau biseksual pada diri Hitler. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;Namun melihat apa yang dilakukannya pada kaum gay di Jerman dan sejumlah negara tetangganya seperti Perancis, maka jika Hitler seorang gay, ia mungkin adalah gay yang sakit hati, frustrasi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;broken heart&lt;/span&gt;, dan akhirnya mendendam sampai ke tulang sumsum. Mungkin ia dikhianati oleh kekasih gay-nya pada masa muda atau bahkan pada masa ia baru saja mulai berkuasa. Mungkin ia pernah sangat mencintai dan terobsesi pada seorang lelaki yang sama sekali tak mencintainya dan selalu menolak, apa pun usaha yang dilakukannya. Mungkin juga Hitler adalah homo yang tak pernah berani mengakui dan menyatakan ke-homo-annya sehingga ia sangat frustrasi dan kemudian berbalik membenci kaum gay habis-habisan. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:City w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; banyak kemungkinan di balik alasan Hitler membantai dan membasmi kaum gay sedemikian kejinya. Ironisnya, kemungkinan-kemungkinan itu justru lebih kuat jika ternyata Hitler sebenarnya adalah seorang gay. &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;Mungkinkah hal ini benar? Mungkinkah Hitler sebenarnya seorang homoseksual? Dalam teori kehidupan yang sederhana saja, kemungkinan adalah sebuah keluasan samudera yang dalamnya tak terukur. Ini kata orang-orang bijak di seantero dunia. Dalam film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Love to Hide&lt;/span&gt; juga digambarkan bagaimana para perwira tinggi Jerman dalam pasukan Hitler ternyata banyak yang sebenarnya adalah gay atau homoseks. Salah satunya diceritakan naksir Jean dan menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backing&lt;/span&gt; sebuah pub khusus kaum gay di Perancis. Perwira ini kemudian diceritakan bunuh diri dan memicu tuduhan pada Jean sebagai salah satu penyebabnya. Nasib Jean di kamp konsentrasi pun semakin buruk karena tuduhan itu. Film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi dan dialami kaum gay yang ditangkap tentara Hitler. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:City w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; kebenaran faktual yang mendasari film ini. Bisa saja kebenaran ini memperkuat dugaan terhadap Hitler sebagai gay. Jika tidak memperkuat pun, tetap saja ada kemungkinan--sekecil apa pun--Hitler adalah seorang homoseksual. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: Verdana; text-align: justify;"&gt;Dalam sejumlah referensi dan hasil penelitian yang juga menjadi sumber-sumber utama buku ini, diungkapkan juga hal serupa. Para perwira SS, tentara khusus Nazi yang sangat kejam itu, ternyata banyak di antaranya adalah gay. Di bagian akhir film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Love to Hide&lt;/span&gt;, tokoh Sara yang sudah memiliki dua orang cucu, diceritakan berziarah di pemakaman khusus gay korban kekejaman Nazi yang telah dijadikan sebagai monumen khusus untuk memberi pengakuan pada hak-hak kaum gay yang di kamp-kamp konsentrasi pada masa Hitler diberi tanda Pink Triangle. Sara bersama dua orang cucunya meletakkan setangkai bunga untuk jean yang dimakamkan bersama para gay lainnya di pemakaman khusus itu. Sementara di suatu tempat yang entah di mana--mungkin di neraka--Hitler mungkin menyaksikan kaum gay yang berkumpul di situ dengan perasaan menyesal paling dalam yang bisa dimiliki seseorang. Suatu perasaan yang terus menghantui dan menyiksanya, melebihi siksa neraka apa pun.[]&lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-4236164984758076107?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/4236164984758076107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=4236164984758076107&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/4236164984758076107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/4236164984758076107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/09/jika-hitler-seorang-gay.html' title='Jika Hitler Seorang Gay'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-7634182127665014482</id><published>2007-08-18T01:38:00.000-07:00</published><updated>2007-08-18T05:38:49.896-07:00</updated><title type='text'>Tujuh Belasan  </title><content type='html'>&lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;font style="font-weight: bold;" size="2"&gt;catatan rabu pagi 34&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dimuat pula di rubrik &lt;a href="http://vhrmedia.com/vhr-story/sikap.php"&gt;Sikap (vhrmedia.com)&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Jika  Anda harus menjawab satu pertanyaan sederhana “apakah makna tujuh  belasan bagi Anda?” dengan sejujur-jujurnya, apa jawaban Anda? Tujuh  belasan, hari kemerdekaan Indonesia, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Independence Day&lt;/span&gt; bangsa kita, masihkah  menyimpan makna di hati kita? Jangan-jangan, maknanya tak lebih dari  sekadar hari libur nasional yang dipenuhi serangkaian lomba di mana-mana.  Jangan-jangan maknanya hanya sebuah kewajiban pengibaran bendera sang  saka merah putih belaka. Atau upacara bendera di istana negara, sekolah-sekolah  dan instansi-instansi pemerintah. Mungkin juga ada yang memaknainya  sebagai hari pesta diskon berbagai produk, mulai dari rumah, mobil,  berlian, barang-barang elektronik, pakaian, perabot rumah tangga, sampai  beras, daging dan sayuran. Ini sah-sah saja karena makna sangat tergantung  pada konteks kehidupan si pemberi makna dengan seluruh kompleksitas  persoalannya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Si  Ucok yang seorang sopir Metromini jurusan Tanah Abang-Kota, mungkin  akan memberi makna tujuh belasan sebagai terbebasnya Jakarta dari kemacetan  lalu lintas yang menjadi santapannya setiap hari. Si Joko yang guru  honorer di sebuah SD Negeri, barangkali akan memaknai tujuh belasan  dengan mengenang Ki Hajar Dewantara sebagai figur pendidik yang dikaguminya.  Teh Ninis yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lady escort&lt;/span&gt; di sebuah karaoke bisa saja memaknai tujuh  belasan dengan tangis kebencian dan sakit hati pada Bapak Pejabat Tinggi  yang pernah mencampakkan dirinya setelah 3 bulan dijadikan simpanan  oleh Bapak Pejabat itu. Bu Siti yang pemilik Warung Tegal di atas sebuah  selokan di Bekasi, memaknai setiap tujuh belasan sebagai hari amal kerupuk  untuk lomba makan kerupuk di pemukiman kumuh tempat tinggalnya. Koh  A Liong yang pemilik pabrik tahu hanya bisa memaknai tujuh belasan dengan  mendoakan saudara-saudaranya yang menjadi korban peristiwa Mei 1998.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Tujuh  belasan memang seharusnyalah terus dimaknai secara kontekstual oleh  seluruh rakyat Indonesia. Para akademisi, politikus, cendekiawan dan  budayawan pun beramai-ramai menulis artikel, esai, bahkan makalah untuk  mencari apa makna tujuh belasan setiap tahun. Ada yang mempertanyakan  kembali nilai-nilai kebangsaan, ada yang menggugat ketidakadilan dan  ketidakmerdekaan rakyat kecil dari kemiskinan, ada juga yang menggugah  rasa nasionalisme dan partriotisme generasi muda yang semakin hilang  atau memupus. Atau bahkan ada juga yang memaki-maki penuh amarah pada  para pejabat korup dan para wakil rakyat yang tidak juga lulus dari  TAMAN KANAK KANAK meskipun sudah 5 tahun belajar. Dari berbagai aspek  kehidupan, pemaknaan terhadap tujuh belasan, menyimpan banyak sekali  pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Satu  pemaknaan yang mendasar tentang apa itu “merdeka” juga selalu berubah  dan tak pernah bisa tuntas. Dalam perayaan tujuh belasan tahun ini,  mungkin saja Simon merdeka secara ekonomi; artinya rejeki cukup melimpah  untuk mengepulkan asap dapur dan beli mobil baru atau beli rumah ketiga dengan harga diskon tujuh belasan. Tapi dalam perayaan tujuh belasan  tahun ini, Simon ternyata tidak merdeka secara hukum karena duit melimpah  yang dibelanjakan itu adalah duit hasil penggelapan pajak sejumlah pengusaha  yang menjadi kliennya sebagai seorang petugas pajak. KPK pun kemudian  membuat Simon tidak merdeka secara hukum. Simon deg-degan setiap hari  dan sama sekali tidak merdeka karenanya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Di  tahun lalu, Parman, seorang aktivis, merasa tidak merdeka karena tidak  bisa mengekspresikan pendapat secara bebas tentang praktik-praktik pembalakan  hutan, pencemaran lingkungan, dan penggusuran tanah yang terjadi di  berbagai wilayah pelosok Indonesia. Hak untuk bebas berpendapat dan  berekspresi pun sangat dibelenggu oleh berbagai peraturan. Ini membuat  Parman merasa semakin tidak merdeka meski ikut aktif merayakan tujuh  belasan di rumahnya dan menang lomba balap karung. Dan di tahun ini,  Parman merasa semakin tidak merdeka karena secara ekonomi ia juga semakin  kehilangan penghasilan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Funding&lt;/span&gt; yang mendanai lembaganya tidak mau lagi  melanjutkan kontrak untuk program baru yang diajukan Parman. Parman  memang tetap ikut merayakan tujuh belasan dan kembali menang lomba balap  karung, tapi ia sungguh merasa sangat tidak merdeka. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Makna  kemerdekaan memang sangat luas dan sekaligus sangat kontekstual. Setiap  tahun kita bisa memaknai tujuh belasan sesuai kondisi-kondisi yang terjadi  pada diri kita secara personal maupun kondisi-kondisi yang dialami bangsa  kita secara keseluruhan. Tahun ini, saya sendiri hanya memaknai tujuh  belasan sebagai kemerdekaan dari belenggu-belenggu keserakahan yang  kerap menjebak kita dalam kehidupan yang mematikan. Mungkin karena pemaknaan  yang sederhana inilah, saya mendapat undangan dari Istana Negara untuk  hadir dalam tujuh belasan tahun ini.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Merdeka! [frg]&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-7634182127665014482?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/7634182127665014482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=7634182127665014482&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/7634182127665014482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/7634182127665014482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/08/tujuh-belasan.html' title='Tujuh Belasan  '/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-215575281375041038</id><published>2007-07-31T22:37:00.000-07:00</published><updated>2007-08-01T02:37:20.385-07:00</updated><title type='text'>Sastra dan Gaya Hidup Remaja Perkotaan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Verdana; font-weight: bold;"&gt;catatan rabu pagi 41&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Verdana; font-weight: bold;"&gt;&lt;br style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;font style="font-family: Verdana;" face="Times New Roman" size="3"&gt;Sastra  bagi remaja perkotaan bukanlah sastra yang terwakili oleh para sastrawan  dari generasi Putu Wijaya sampai Linda Christanty sekalipun. Sastra  bagi remaja perkotaan juga bukanlah sastra koran, majalah sastra seperti  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Horison&lt;/span&gt;, maupun jurnal-jurnal kebudayaan yang memuat cerpen, puisi,  dan esai-esai serius. Sastra remaja perkotaan adalah sastra pergaulan  yang terekspresikan dalam medium-medium baru yang melekat pada gaya  hidup mereka. Sastra remaja perkotaan saat ini adalah sesuatu yang sama  sekali terlepas dari mata rantai sejarah sastra sebelumnya. Sejarah  sastra yang saya maksud adalah sejarah sastra resmi versi para kritikus,  teoritisi, akademisi dan para sastrawan sendiri. Sejarah sastra resmi  ini sama halnya dengan sejarah pada umumnya yang berpihak pada kepentingan  kekuasaan tertentu dengan muatan subjektivitas yang juga kental di dalam  historiografi-nya. Dalam konteks remaja perkotaan secara riil, sebenarnya  apa yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mainstream&lt;/span&gt; sastra itu bahkan tidak eksis. Ada gap yang  sangat jauh antara sastra dan kehidupan riil remaja perkotaan sekarang. &lt;/font&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Medium-medium  ekspresi kesusasteraan dalam gaya hidup remaja perkotaan sekarang kurang  lebih merupakan sebuah dekonstruksi terhadap medium ekspresi sebelumnya  yang terjadi sebagai akibat dari perkembangan teknologi. Pretensi menulis  sebuah karya sastra tidak lagi dilandasi oleh motivasi mimpi-mimpi besar,  ide-ide pemberontakan, maupun pemikiran-pemikiran jenial untuk mengubah  dunia. Remaja perkotaan sekarang cukup menulis di blog mereka tentang  hal-hal personal keseharian yang remeh-temeh, mengirim sms romantis  pada pacarnya, atau menciptakan syair lagu cinta yang juga sederhana  saja. Itulah medium-medium ekspresi sastra remaja perkotaan sekarang.  Di sisi lain para penulis generasi “tua” tetap asyik dengan mimpi-mimpi,  keyakinan, arogansi, dan ide-ide besar untuk melahirkan sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;magnum  opus&lt;/span&gt; dalam “sejarah” kepenulisan mereka. Tanpa sadar, gap yang  ada semakin curam dan dalam, mengingatkan kita pada kritik-kritik berpuluh  tahun silam tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ivory tower&lt;/span&gt;-nya para sastrawan dan seniman  secara keseluruhan.   &lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Tentu  masalahnya memang tak bisa dilepaskan dari “nilai-nilai, kriteria,  teori-teori” tentang apa yang disebut dan dianggap sebagai “sastra”.  Hal ini pun adalah persoalan lama yang terus menggantung tanpa penyelesaian.  Bagi sejumlah sastrawan, sebut misalnya Seno Gumira Ajidarma, Sapardi  Djoko Damono, atau Budi Darma, apa yang disebut dan dianggap sebagai  “kriteria dan nilai-nilai” sastra adalah relatif dan subjektif.  Pandangan ini memberi ruang kebebasan yang luas untuk menganggap dan  menyebut apa itu karya sastra. Di lain pihak, masih banyak sastrawan  dan kritikus yang berpegang pada teori-teori baku yang entah apa atau  entah yang mana untuk mengategorisasikan sebuah karya sebagai “sastra”.  Pandangan inilah yang kemudian mungkin membuat buku-buku semacam ensiklopedi  sastra Indonesia tidak pernah lengkap dan utuh.  Di buku-buku itu  pastilah tidak pernah ada nama Agni Amorita Dewi misalnya, penulis cerpen  remaja generasi tahun 80-an yang kerap mengisi lembar cerpen di berbagai  majalah remaja dan pernah pula menjadi pemenang lomba cerber &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Femina&lt;/span&gt;.  Di buku-buku itu pastilah tidak akan ada nama Raditya Dika atau Aditya  Mulya, dua novelis muda masa kini yang penggemarnya menyebar di kalangan  remaja perkotaan seluruh Indonesia. Dan di buku-buku itu juga tidak  pernah ada nama FX Rudy Gunawan, penulis cerpen, esai, dan novel yang  karya-karyanya juga kerap dimuat di sastra koran (non-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;) dan puluhan  bukunya telah diterbitkan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Ini  adalah sebuah stagnansi yang ironis. Generasi remaja sekarang merasa  tidak ada perlunya membaca karya sastra adiluhung yang tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;connect &lt;/span&gt; dengan kehidupan riil mereka. Telah terjadi sebuah perubahan paradigma  yang tidak pernah diantisipasi oleh para sastrawan. Program sastra masuk  sekolah mungkin merupakan sebuah upaya yang pernah dilakukan untuk menjembatani  gap atau mencairkan stagnansi ini. Tapi karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;frame&lt;/span&gt; yang dibawa adalah  “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mindset&lt;/span&gt; lama” dan yang dilakukan dengan “cara lama” pula, maka  bisa dikatakan upaya ini kurang membuahkan hasil. Sejumlah SMA yang  didatangi mungkin jadi lebih mengenal sastrawan-sastrawan dan karya-karyanya,  tapi hanya sebatas itulah hasilnya. Padahal yang dibutuhkan sekarang  adalah menciptakan generasi baru pecinta sastra dan menumbuhkan iklim  atau atmosfir yang subur bagi lahirnya generasi penulis sastra yang  baru, segar, dan sama sekali berbeda. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Dalam  gaya hidup remaja perkotaan sekarang, film dan musiklah yang paling  populer sebagai bagian dari kehidupan kesenian dan kebudayaan mereka.  Ini terbukti dari suksesnya novel-novel adaptasi film yang digagas dan  diterbitkan oleh penerbit spesialis novel remaja, GagasMedia. Hampir  semua novel adaptasi film-film nasional terjual puluhan ribu kopi dalam  hitungan bulan saja. Genre novel ini telah berhasil menjadi bagian dari  gaya hidup remaja perkotaan berkat kolaborasi antara dunia film dan  dunia sastra. Kolaborasi berarti sebuah persinggungan yang nyata dengan  kehidupan. Kolaborasi menjadi sebuah pola untuk mencairkan stagnansi  dan melahirkan karya yang “membumi”. Sebuah contoh kolaborasi ideal  dari dunia musik adalah grup rock gaek Santana yang berkolaborasi dengan  penyanyi remaja popular dalam tiga album terakhir mereka yang dirilis beberapa tahun belakangan. Kesadaran Santana sebagai grup yang melegenda untuk tetap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tune  in &lt;/span&gt;dengan perkembangan zaman sungguh sebuah kerendahan hati yang patut  diteladani di dunia sastra kita.       &lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: Verdana;"&gt;      &lt;font size="3"&gt;Sastra  seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup remaja perkotaan karena sastra  seharusnya menjadi bagian dari kehidupan nyata termasuk kehidupan sehari-hari  dengan segala tetek-bengek persoalannya yang mungkin cengeng, menyebalkan,  dan tidak mutu. Tapi atas dasar apa seseorang berhak men-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;judge&lt;/span&gt; seperti  itu terhadap kenyataan hidup yang nyata? Atas dasar apa seseorang atau  sejumlah orang berhak menghakimi sebuah karya? Tiada satu dasar pun  yang bisa membenarkan sikap-sikap seperti itu. Sebaliknya, justru pengikisan  terhadap sikap-sikap seperti inilah yang akan mampu mengintegrasikan  sastra dalam gaya hidup remaja perkotaan. (frg)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-215575281375041038?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/215575281375041038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=215575281375041038&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/215575281375041038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/215575281375041038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/07/sastra-dan-gaya-hidup-remaja-perkotaan.html' title='Sastra dan Gaya Hidup Remaja Perkotaan'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-5280769577992439014</id><published>2007-07-23T15:45:00.000-07:00</published><updated>2007-07-23T19:45:12.645-07:00</updated><title type='text'>Kompor Mleduk</title><content type='html'>&lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana size=2&gt;&lt;STRONG&gt;catatan rabu pagi 40&lt;/STRONG&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana&gt;&lt;FONT size=3&gt;Pernah dengar lagu “Kompor Mleduk” ciptaan seniman serba bisa, almarhum Benyamin Sueb? Lagu itu sungguh berhasil menangkap persoalan keseharian dengan jeli. Syairnya jenaka dan sangat mengena dengan kehidupan rakyat kecil di Jakarta (dan kota-kota besar lainnya). Dan persoalan kompor ternyata tetap relevan hingga kini, bahkan kembali menjadi topik hangat di warung-warung kopi, warung-warung tegal, warung-warung sunda, dan warung-warung tempat nongkrong rakyat kecil lainnya. Masalahnya adalah kebijakan pemerintah DKI untuk mengganti minyak tanah yang digunakan rakyat kecil dengan gas elpiji. &lt;/FONT&gt; &lt;BR&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana&gt;&lt;FONT size=3&gt;Ini sebuah persoalan serius karena menyangkut hajat hidup orang banyak di seantero pelosok Jakarta. Minyak tanah dan kompornya menjadi bahan bakar pilihan rakyat kecil karena fleksibilitasnya untuk diakses. Orang bisa membeli hanya setengah liter dan mengepulkan asap dapurnya hanya dengan setengah liter minyak tanah. Sementara gas elpiji, meskipun tabungnya diberikan gratis dan berukuran kecil, tetap saja tidak mungkin dibeli eceran. Orang tak bisa membeli setengah tabung gas saja ketika benar-benar bokek! Akibatnya? Asap dapur tak akan bisa ngebul dan sejumlah perut akan keroncongan. Amat, seorang Betawi penggemar Benyamin Sueb, melontarkan argumen ini dengan berapi-api karena ia tak bisa paham mengapa pemerintah DKI mengambil keputusan penggantian itu. &lt;/FONT&gt; &lt;BR&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana&gt;&lt;FONT size=3&gt;Kemarahan Amat jelas &lt;EM&gt;sufficient reason&lt;/EM&gt;. Cukup alasan. Kompor minyak tanah baginya adalah pilihan ideal bagi rakyat kecil yang harus berjuang untuk bisa &lt;EM&gt;survive&lt;/EM&gt; di ibukota yang kejam. Bahwa rakyat Indonesia di akar rumput sudah sangat teruji daya tahan atau resistensinya menghadapi kejamnya kemiskinan, bencana banjir, dan segala bentuk deraan derita, ini soal lain. Ini juga jelas tidak bisa menjadi pembenaran untuk semakin mengeksploitasi dan menindas mereka atau melakukan pembiaran terhadap kemiskinan. Minyak tanah mungkin dianggap sebagai simbol kemiskinan, tapi menggantinya dengan gas elpiji tanpa solusi riil untuk peningkatan kesejahteraan mereka adalah konyol. &lt;/FONT&gt; &lt;BR&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana&gt;&lt;FONT size=3&gt;Kebijakan-kebijakan yang bersifat parsial memang seakan sudah menjadi ciri pemerintah kita. Pendekatan legal-formal untuk mengatasi persoalan di dunia nyata seakan menjadi solusi termudah yang selalu diambil. Padahal jelas, yurisprudensi hanyalah perangkat normatif yang harus dibarengi oleh tindakan-tindakan kongkrit untuk penyelesaian masalah. Belum lagi berbagai kepentingan politik dari segala macam kelompok yang pasti akan ikut bermain untuk menggolkan berbagai rancangan undang-undang sesuai kepentingan mereka. Situasi yang tercipta dari pendekatan semacam ini untuk menyelesaikan berbagai masalah, adalah ibarat kompor yang bisa “mleduk” setiap saat dan mengakibatkan kebakaran besar. Akibatnya pasti kembali pada rakyat kecil. &lt;/FONT&gt; &lt;BR&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt; &lt;P&gt;&lt;FONT face=Verdana size=3&gt;Mungkin tanpa sadar kita sudah mengamini asumsi “rakyat selalu menjadi korban” sebagai kebenaran. Sungguh menyedihkan. Asumsi ini jelas salah karena tak seorang pun, terutama yang tak bersalah, pantas menjadi korban. Apalagi dikorbankan! Sejarah sudah membuktikan dan mengajarkan banyak hal tentang rakyat yang seharusnya mendapatkan semua hak-haknya yang paling asasi, tapi mengapa sepertinya otak kita begitu bebal? Mengapa “mengorbankan rakyat” terus saja menjadi cerita dan berita dalam kehidupan kita sejak Orde Baru sampai Orde Pasca Reformasi kini? Anda punya jawaban jitu untuk pertanyaan-pertanyaan di atas? Kalau punya, cobalah masak sampai matang di atas kompor minyak tanah agar benar-benar beraroma rakyat kecil. Agar satu kompor minyak tanah terselamatkan dan satu keluarga miskin di Jakarta bisa melanjutkan hidup, setidaknya satu hari lagi. (frg)&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-5280769577992439014?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/5280769577992439014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=5280769577992439014&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/5280769577992439014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/5280769577992439014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/07/kompor-mleduk.html' title='Kompor Mleduk'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-7319530781758606650</id><published>2007-06-24T17:04:00.000-07:00</published><updated>2007-06-24T21:04:12.285-07:00</updated><title type='text'>Kebebasan</title><content type='html'>&lt;P&gt;Rubrik &lt;EM&gt;Sikap&lt;/EM&gt;, &lt;A href="http://www.vhrmedia.com/vhr-story/sikap-detail.php?.g=stories&amp;.s=sikap&amp;.e=10"&gt;VHR News Center&lt;/A&gt;, 3 Mei 2007&lt;/P&gt; &lt;P&gt;Mei adalah bulan penuh perayaan. Kita memperingati Hari Buruh Sedunia 1 Mei, 2 Mei peringatan Hari Pendidikan Nasional, 3 Mei memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia, 8 Mei ada peringatan Hari Palang Merah Internasional, lalu 20 Mei kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Bila dikaji lebih dalam, semua hari besar nan penting yang kita peringati di bulan Mei terkait dengan satu tema besar perjuangan hidup manusia, yakni "kebebasan". &lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Buruh berjuang sepanjang sejarah untuk mendapatkan hak-hak dasar yang melekat pada diri mereka sebagai pekerja. Tujuannya jelas, membebaskan diri dari penindasan para pemilik modal, membebaskan diri dari kemiskinan, dan membebaskan diri dari belenggu perbudakan modern. Perjuangan buruh adalah perjuangan untuk kebebasan diri sebagai manusia seutuhnya dengan harkat dan martabat yang sama serta kesejahteraan yang layak.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Hari Pendidikan Nasional juga merupakan monumen peringatan untuk membebaskan manusia dari belenggu kebodohan. Melalui pendidikan, manusia diberdayakan untuk memaksimalkan seluruh potensi diri agar menjadi manusia yang berguna dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakatnya. Dengan potensinya yang maksimal, setiap orang akan mempunyai kebebasan untuk memilih bidang-bidang pekerjaan atau profesi yang sesuai dengan dirinya. Pendidikan yang baik dan bermutu adalah sarana untuk mencapai kebebasan memilih. Pendidikan juga merupakan hak dasar yang harus dijamin pemerintah bagi seluruh rakyat.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Hak lain yang juga seharusnya dijamin oleh pemerintah adalah kebebasan untuk memperoleh informasi yang sekaligus terkait dengan kebebasan pers sebagai sumber utama berbagai informasi. Hari Kebebasan Pers Sedunia yang dirayakan setiap 3 Mei adalah upaya untuk terus memperjuangkan kebebasan pers di seantero jagat raya. Tujuan perayaan Hari Kebebasan Pers yang dicanangkan PBB sejak 1993 ini adalah meningkatkan kesadaran akan pentingnya kebebasan pers bagi masyarakat dan negara, serta untuk mengingatkan pemerintah (negara mana pun) akan tugas mereka untuk menghormati dan menjaga kebebasan pers. Kebebasan pers adalah bagian dari kebebasan untuk berekspresi yang merupakan hak asasi manusia dan tercantum dalam &lt;EM&gt;Article 19 Universal Declaration of Human Rights&lt;/EM&gt;. &lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Kebebasan pers di Indonesia saat ini, harus diakui, telah mengalami banyak kemajuan terbilang sejak runtuhnya rezim Soeharto. Kasus terbaru yang menyangkut kebebasan pers adalah kasus majalah &lt;EM&gt;Play Boy &lt;/EM&gt;Indonesia, dan kasus ini pun dimenangi pihak &lt;EM&gt;Play Boy&lt;/EM&gt;. Suatu pencapaian yang sungguh menggembirakan dan membuktikan adanya kemajuan dalam kebebasan pers di Indonesia. Front Pembela Islam (FPI) sebagai pihak penggugat mungkin tak akan menerima kekalahan mereka begitu saja. Namun itu soal lain, yang takkan mengubah kenyataan kebebasan pers di Indonesia telah melangkah maju ke tahap yang lebih baik. Dan bahwa kebebasan pers tak bisa dikekang oleh kelompok masyarakat tertentu, baik yang mengatasnamakan agama maupun kelompok masyarakat lainnya. &lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Ukuran kebebasan pers berbeda-beda di setiap negara, karena disesuaikan dengan konteks nilai-nilai lokal yang berlaku. &lt;EM&gt;Play Boy &lt;/EM&gt;Indonesia jelas berbeda dari versi Amerika. Jadi, wajar bila pengadilan pun memenangkan &lt;EM&gt;Play Boy&lt;/EM&gt;. Lain halnya bila versi Indonesia sama persis dengan &lt;EM&gt;Play Boy &lt;/EM&gt;Amerika, sangat mungkin pengadilan tidak akan memenangkan majalah itu. Dan, pada dasarnya, mempertentangkan nilai-nilai satu agama dengan hak asasi, dalam hal ini hak kebebasan pers, adalah sesuatu yang tak bisa dilakukan secara naif atau harfiah. &lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Kebebasan pers adalah salah satu tonggak demokrasi. Dan, demokrasi berarti juga pluralisme, sebagaimana kenyataan adanya perbedaan warna kulit, perbedaan suku, perbedaaan agama, perbedaan ideologi, dan perbedaan-perbedaan lain yang terhampar di depan mata kita. Semua mempunyai hak yang sama untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Bila ada kelompok mencoba menindas, meniadakan, mendominasi, memonopoli, menjajah, atau menguasai kelompok lain, itu adalah pelanggaran hak asasi. Sesederhana itulah duduk perkaranya. Sebab, setiap orang pada hakikatnya memiliki kebebasan yang sama. Selamat merayakan Hari Kebebasan Pers Sedunia. (*)&lt;/P&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-7319530781758606650?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/7319530781758606650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=7319530781758606650&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/7319530781758606650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/7319530781758606650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/06/kebebasan.html' title='Kebebasan'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-4522639663977947829</id><published>2007-06-24T17:01:00.000-07:00</published><updated>2007-06-24T21:01:06.589-07:00</updated><title type='text'>Face Off</title><content type='html'>&lt;P&gt;&lt;FONT size=2&gt;Rubrik &lt;EM&gt;Sikap&lt;/EM&gt;, VHR News Center, 10 Mei 2007&lt;/FONT&gt;&lt;/P&gt; &lt;P&gt;Nicholas Cage dan John Travolta dalam film &lt;EM&gt;Face Off &lt;/EM&gt;garapan John Woo berperan sebagai gembong penjahat dan polisi yang sama-sama tangguh. Dalam satu duel maut, keduanya sama-sama terkapar dan dirawat di rumah sakit yang sama. Castor Troy, sang gembong penjahat, berhasil memaksa dokter untuk menukar wajahnya dengan wajah Sean Archer, sang polisi tangguh. Troy lolos dari maut dan disambut oleh rekan-rekan Archer sebagai Archer, sang polisi. Ia kini menjadi seorang penjahat berwajah polisi. Adapun Archer asli yang berwajah Troy akhirnya juga tersadar dan &lt;EM&gt;shock &lt;/EM&gt;mendapati dirinya sebagai Troy. Sebagai musuh bebuyutan, keduanya mengenal dengan baik seluk-beluk kehidupan masing-masing. Tentu saja sangat mengerikan bagi seorang polisi bersih seperti Archer ketika menyadari dirinya berwajah penjahat. &lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Ide cerita film ini sangat realistis dan sederhana, tapi sekaligus jenial. Dalam kehidupan nyata, polisi kotor (&lt;EM&gt;dirty cop&lt;/EM&gt;) ada di mana-mana. Mereka tak ubahnya penjahat meski berwajah penegak hukum dan pelindung masyarakat. Mereka melakukan pemerasan, penipuan, perampokan, dan bahkan mungkin juga pembunuhan. Sebaliknya, polisi berwajah penjahat boleh dibilang hampir tidak ada dalam kehidupan nyata, kecuali dalam tugas-tugas &lt;EM&gt;undercover &lt;/EM&gt;atau penyamaran yang mengharuskan seorang polisi masuk ke dunia para penjahat dengan berpura-pura menjadi bagian dari mereka. Penegak hukum atau pelindung masyarakat berwajah penjahat mungkin hanya tinggal dongeng masa lalu seperti Robin Hood atau The Seven Samurai. Tapi mereka pun bukan polisi. Mereka hanya warga sipil yang berjuang untuk menegakkan keadilan dan melindungi masyarakat miskin secara langsung, berani, dan frontal.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Secara akal sehat, takkan ada seorang polisi idealis dan tangguh seperti Sean Archer dalam &lt;EM&gt;Face Off &lt;/EM&gt;yang mau berwajah penjahat. Setiap polisi baik pasti akan berupaya keras membangun citra polisi baik yang ramah, siap melayani, tulus, dekat dengan masyarakat, dan selalu siap memberantas kejahatan apa pun. Pencitraan ini sangat penting untuk diperjuangkan oleh setiap polisi baik untuk melawan pencemaran dan pencorengan citra polisi oleh polisi-polisi jahat atau &lt;EM&gt;dirty cop &lt;/EM&gt;seperti Castor Troy yang berwajah Sean Archer. Pencitraan menjadi sangat penting karena dari pencitraanlah kemudian seluruh aspek kehidupan seseorang atau sebuah lembaga, termasuk lembaga seperti Voice of Human Rights, ditentukan. Pencitraan yang salah akan menciptakan persepsi dan &lt;EM&gt;image &lt;/EM&gt;yang melenceng dari substansi seseorang atau sebuah lembaga. Karena itulah membangun &lt;EM&gt;image &lt;/EM&gt;kemudian menjadi persoalan besar bagi pencapaian tujuan atau idealisme apa pun. &lt;EM&gt;Image &lt;/EM&gt;yang salah akan menimbulkan persoalan dan dampak yang juga substansial.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;&lt;EM&gt;Image &lt;/EM&gt;atau citra hak asasi manusia di Indonesia, celakanya juga telah terbentuk (dan dibentuk) secara "agak" keliru. Apa yang muncul secara spontan di benak masyarakat awam saat mendengar kata &lt;EM&gt;hak asasi &lt;/EM&gt;atau &lt;EM&gt;human rights&lt;/EM&gt;, umumnya adalah sebuah ketegangan antara pemerintah dan rakyat: entah berupa unjuk rasa di Istana Negara; bentrokan tentara dengan rakyat di daerah konflik seperti Poso, Ambon, Aceh, atau Papua; penggusuran lapak-lapak kaki lima di pasar tradisional; penculikan para aktivis; penderitaan petani atau buruh akibat kesewenang-wenangan para pejabat; dan peristiwa semacamnya. Secara parsial, &lt;EM&gt;image &lt;/EM&gt;semacam itu tentu juga memiliki kebenaran, karena persoalan hak asasi memang selalu melibatkan hubungan negara sebagai &lt;EM&gt;duty bearer &lt;/EM&gt;dan rakyat sebagai &lt;EM&gt;claim holder&lt;/EM&gt;. Tapi hubungan ini hanya salah satu bagian dari "wajah" hak asasi, dan bisa menimbulkan masalah serius bila kemudian dianggap sebagai keseluruhan "wajah" hak asasi.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Untuk mencegah dampak lebih serius kesalahkaprahan persepsi dari &lt;EM&gt;image &lt;/EM&gt;yang keliru itu perlu dilakukan upaya-upaya serius membangun &lt;EM&gt;image &lt;/EM&gt;yang lebih tepat dan benar. Pertama, tentu kita harus kembali pada dimensi-dimensi elementer yang tidak dipahami masyarakat awam karena kesalahkaprahan yang terjadi. Dimensi elementer dari hak asasi manusia yang tidak muncul dalam pencitraannya di Indonesia, antara lain dimensi hak asasi dalam kehidupan sehari-hari yang sesungguhnya melekat pada hampir semua aspek kehidupan setiap orang. Sebut misalnya soal toleransi. Sikap toleran adalah perwujudan dari penghargaan pada perbedaan yang ada dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Artinya, toleransi adalah penerapan langsung hak asasi dalam kehidupan sehari-hari. &lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Penerapan langsung lainnya yang juga melekat pada kehidupan sehari-hari adalah solidaritas. Seorang wartawan, Bambang Putranto, melihat indikasi penurunan solidaritas dalam bencana banjir tahun 2007 dibandingkan misalnya dengan solidaritas dalam bencana banjir tahun 2002. Penurunan solidaritas ini berbahaya dan perlu dicegah, karena akan memunculkan sikap tidak peduli yang parah. Penurunan solidaritas juga merupakan indikasi serius dari penghargaan pada hak asasi manusia, karena solidaritas adalah bukti pemahaman dan pewujudan hak asasi. Selain toleransi dan solidaritas yang menjadi dimensi elementer hak asasi manusia, kita juga bisa menambahkan sikap antidiskriminasi, sikap antikekerasan, cinta damai, cinta lingkungan, dan kebersamaan atau persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Dimensi-dimensi inilah yang seharusnya menjadi bagian penting dari citra hak asasi manusia.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Dengan citra yang tepat dan benar, kepedulian masyarakat pada persoalan-persoalan hak asasi manusia akan lebih mudah dibangun dan ditingkatkan terus-menerus. Dalam konteks inilah lembaga seperti VHR dan lembaga-lembaga seperjuangan lainnya perlu berjuang untuk mengubah pencitraan yang "agak" keliru selama ini. VHR akan memulai perjuangan ini dengan mengubah dan membenahi diri dalam waktu dekat, baik konsep konten maupun tampilan. Nantikan "wajah" baru VHR, dan mari bersama-sama menegakkan hak asasi dalam kehidupan sehari-hari kita. (*)&lt;/P&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-4522639663977947829?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/4522639663977947829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=4522639663977947829&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/4522639663977947829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/4522639663977947829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/06/face-off.html' title='Face Off'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-3713780597366010548</id><published>2007-06-20T03:19:00.000-07:00</published><updated>2007-06-20T03:33:10.858-07:00</updated><title type='text'>Haru</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;catatan rabu pagi 37&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu perasaan penting yang agak tersisih dari kehidupan manusia modern adalah rasa haru. Mengapa? Sebab rasa haru tidak mudah dimanipulasi seperti halnya rasa sedih atau gembira yang banyak dieksploitasi di sinetron-sinetron secara norak, kampungan, dan over-dramatik. Rasa haru sulit dimanipulasi karena perasaan ini menuntut ketulusan dan empati pada seseorang dalam satu peristiwa yang tidak terkait langsung dengan si pemilik perasaan. Sementara rasa sedih dan/atau gembira nyaris selalu terfokus dan menyangkut langsung sesuatu dalam diri si pemilik perasaan. Kita gembira ketika berhasil mendapatkan kenaikan pangkat, jabatan, harta berlimpah, mempersunting gadis idaman, atau menjadi terkenal misalnya. Dan kita sedih ketika gagal mendapatkan sesuatu atau kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haru memang jenis perasaaan yang subtil. Saat ini dan berjuta-juta saat sebelum kini, seharusnya kita dikepung oleh rasa haru. Diharu biru oleh begitu banyak peristiwa yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia. Rasa haru adalah tanda kepedulian seseorang terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Tersisih atau bahkan hilangnya rasa haru berarti tersisih atau hilangnya kepedulian. Untunglah, sekitar seminggu lalu saya masih menemukan seonggok haru di relung hati. Rasa itu menyeruak keluar dari keremangan dan balutan sarang laba-laba yang memenuhi relung hati saya. Ya, saya terharu oleh teman-teman Teater Meldict (Melihat dengan Ilmu dan Cinta) yang semuanya tuna netra atau “tidak awas”, saat tampil membawakan lakon berjudul “Eksekutif Modar” di Goethe Institut (13/6/07) dalam rangkaian acara “Menyimak Cerita, Memihak Kemanusiaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan singkat Teater Meldict sendiri sangatlah menghibur. Semua pemain tampil total sebagai konglomerat-konglomerat dari berbagai bidang industri, dan para penonton –baik yang tunanetra maupun yang bermata awas—juga berulang kali terpingkal-pingkal. Dan di sela-sela derai tawa itulah rasa haru tiba-tiba menyeruak dan menohok hati dengan telak. Jumlah penonton yang tidak sampai seratusan orang –setengahnya adalah tuna netra—membuat tawa terasa merambat pelan dari satu pojok ke pojok lain. Sebagai salah satu penonton bermata awas, saya mendadak merasakan sebuah ironi menyusup di antara derai tawa para penonton. Tidakkah seharusnya orang-orang bermata awas seperti saya yang menghibur mereka-mereka yang “tidak awas”? Pernahkah pertanyaan ini tebersit sekali saja di hati dan pikiran kita sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haru juga menohok hati saya ketika sejumlah orang tiba-tiba tergugah oleh keceriaan, semangat, dan ketulusan teman-teman tunanetra dalam menyikapi dan menerima kenyataan hidup mereka. Rina, seorang penyanyi “tidak awas” dari grup band difabel “Diferensia” yang tampil memukau dan sangat ceria membawakan lagu "Sir Duke"-nya Stevie Wonder juga menjadi salah seorang pemicu ketergugahan sejumlah orang bermata “awas” yang menonton penampilannya. Aktor kawakan Didi Petet adalah salah seorang yang tergugah secara spontan menyaksikan kiprah teman-teman tunanetra mengekspresikan diri mereka secara bebas melalui media kesenian dan sekaligus membuktikan bahwa mereka mampu. Didi Petet juga terhenyak oleh haru. Oleh kesadaran yang bangkit sebagai &lt;em&gt;zombie&lt;/em&gt; dan langsung meneror hati kita. Ke mana saja mata kita yang “awas” selama ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara Menyimak Cerita Memihak Kemanusiaan, yang merupakan hasil kolaborasi Yayasan Mitra Netra, Voice of Human Rights News Center, Swiss Embassy, Goethe Institut, dan Perkumpulan Seni Indonesia, memang bukan acara heboh yang diberitakan besar-besaran oleh media massa, tapi secara nyata, acara ini mampu menumbuhkan dan menghidupkan rasa haru semua orang yang terlibat atau menyaksikannya. Saya bahkan semakin terharu menerima telepon dari pianis tunanetra, Yussak, sehari seusai acara. Yussak tidak bicara banyak di telepon, ia hanya mengatakan terima kasih dan rasa bahagianya bisa menjadi bagian dari acara itu. (frg)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-3713780597366010548?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/3713780597366010548/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=3713780597366010548&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/3713780597366010548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/3713780597366010548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/06/haru.html' title='Haru'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-2541454076953729540</id><published>2007-04-05T02:07:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T02:20:27.621-07:00</updated><title type='text'>Toleransi</title><content type='html'>&lt;div style="margin: 1ex; font-family: verdana;"&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;      &lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;     &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;catatan rabu pagi 36&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Satu hal yang selalu menjauhkan perdamaian dalam hidup kita adalah menipisnya toleransi. Premis inilah yang melatarbelakangi sebuah diskusi dalam rangkaian acara Abu Dhabi International Book Fair 2007. Pada hari ketiga pameran buku internasional di Abu Dhabi itu, forum diskusi menghadirkan dua pembicara untuk membahas topik &lt;b&gt;Tolerance as a Pre-Condition for Peace&lt;/b&gt;. Para pembicara adalah Profesor Azmi Bihara, seorang filosof dan pengarang dari Israel dan Profesor George Tamer dari Libanon yang mendalami studi filsafat Islam dan krisis modernisasi dan menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;visiting professor&lt;/span&gt; untuk Arabic Studies di Berlin. Diskusi ini melacak kembali masa-masa di mana toleransi masih kental dalam kehidupan manusia, baik dalam sebuah masyarakat di sebuah negara maupun dalam hubungan masyarakat antar-negara. Masa itu di kawasan Arab antara lain adalah masa Ibnu Khaldoun atau masa Ibnu Rushd beberapa abad yang lalu di Andalous. Fakta yang terjadi pada masa itu sungguh indah dan mengagumkan, karena bahkan masyarakat Arab dan Eropa pun bisa hidup dengan penuh toleransi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lantas mengapa semua keindahan hidup yang penuh toleransi itu semakin hari semakin menipis dalam kehidupan manusia modern? Di era global dengan modernisasi di semua bidang kehidupan, toleransi justru menguap entah ke mana. Pepatah lama yang mengatakan “perang biasanya bermula dari ucapan atau kata-kata”, sepertinya tetap relevan sebagai salah satu pemicu menguapnya toleransi dan terjadinya perpecahan di berbagai belahan dunia. Keberagaman yang seharusnya bisa hidup berdampingan dalam damai dan harmoni, malah menjadi sumber konflik berkepanjangan yang tak jarang meminta banyak korban, termasuk korban jiwa. Perbedaan kepercayaan, perbedaan adat dan kebudayaan, perbedaan kelas sosial-ekonomi, perbedaan bahasa, dan segala bentuk perbedaan kecil sekalipun, bisa dengan mudah memicu pertikaian besar karena tiadanya toleransi. Ilustrasi yang paling mencolok, misalnya, konflik berkepanjangan antara Irak dan Amerika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perbedaan seharusnya menjadi kekayaan hidup. Tak ada yang salah dengan perbedaan yang ada secara alamiah. Namun apa yang terjadi kemudian adalah cara pandang yang salah terhadap perbedaan. Cara pandang yang salah ini bisa bermula dari banyak sebab, misalnya kurangnya pengetahuan antara satu sama lain yang kemudian memicu miskomunikasi. Contoh kecil yang menarik saya dapatkan dari seorang turis Mesir. Seorang sopir taksi asal Banglades di Abu Dhabi membuat seorang turis asal Mesir marah besar karena sikapnya yang dianggap seenaknya dan kasar. Sopir taksi itu, entah karena apa tidak membawa si turis Mesir ke tempat tujuannya tapi malah mengembalikannya ke hotel tempat di mana ia naik taksi itu. Dan si turis Mesir tetap diharuskan membayar. Ia akhirnya terpaksa membayar dengan ngomel-ngomel luar biasa. Peristiwa kecil itu menjelaskan pada kita akan rentannya perbedaan terhadap konflik yang dipicu oleh ketidakmengertian dan miskomunikasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Diskusi yang berlangsung di Abu Dhabi International Book Fair tanggal 1 April 2007 itu, memang tidak menawarkan hal baru dalam membangun toleransi karena toleransi hanya perlu direvitalisasi. Toleransi sudah ada sejak berabad-abad lalu pada banyak kebudayaan di berbagai pelosok dunia. Jika kini kita kehilangan toleransi dalam kehidupan kita masing-masing, penyebabnya pastilah diri kita sendiri yang membiarkan intoleransi terjadi di sekeliling kita. Pastilah diri kita sendiri yang membiarkan tumbuhnya kebencian, arogansi, dan fundamentalisme dalam diri kita. Lingkungan memang memengaruhi dan membentuk diri setiap manusia, tapi jika lingkungan memengaruhi kita dengan hal-hal buruk, hati kita pastilah bisa merasakan dan kemudian menolaknya. Sayangnya, kita mungkin sudah terlalu lama tidak pernah lagi mendengarkan hati kita, dan inilah sumber awal hilangnya toleransi dalam hidup kita. (frg)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-2541454076953729540?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/2541454076953729540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=2541454076953729540&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/2541454076953729540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/2541454076953729540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/04/toleransi.html' title='Toleransi'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-4566316027159472496</id><published>2007-03-28T22:30:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T02:14:05.018-07:00</updated><title type='text'>550 Thukul</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;catatan rabu pagi 35&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Salah satu dampak demam Thukul Arwana yang popular dengan kalimat “kembali ke laptop” dalam acara talkshow-nya, adalah demam laptop di kalangan anggota DPR. Tentu kita tak bisa menyalahkan Thukul yang sudah sangat berjasa besar menghibur rakyat (satu hal yang nyaris tak pernah dipikirkan dan dilakukan oleh para wakil rakyat kita di DPR/DPRD) yang selalu diserbu dan dihujani penderitaan. Demam laptop para anggota DPR sama sekali berbeda dengan kalimat “kembali ke laptop”-nya Thukul. Entah karena tak mau kalah oleh Thukul atau dipicu hal lain, para wakil rakyat –meski penjelasan resmi mengatakan anggaran sudah disetujui dan masuk APBN tahun lalu—tak peduli masyarakat mencibir, kecewa, sedih, atau marah sekalipun. Sebagian anggota yang tak mau menerima laptop pun sudah menegaskan sikapnya pada para wartawan, sayangnya hanya segelintir anggota saja yang emoh. Lainnya, kira-kira bersikap “tak boleh dong menolak rejeki, pamali!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Laptop yang diminta pun tak tanggung-tanggung. Harganya 21 juta sekian rupiah. Harga yang sungguh ajaib dan pasti membuat para pedagang laptop berlomba saling baku-hantam untuk memenangkan tender senilai belasan milyar itu. Harga ini jelas keterlaluan karena dengan sepuluh juta saja, saat ini kita bisa mendapatkan laptop canggih sesuai spesifikasi yang diinginkan para anggota DPR. Dan bicara tentang spesifikasi, terus terang agak membingungkan juga mencari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;spec&lt;/span&gt; yang pas untuk para wakil rakyat yang terhormat itu. Masalahnya, hampir semua aktivitas pekerjaan mereka sebenarnya bahkan tak membutuhkan laptop. Mereka bukan pengarang, bukan ilustrator, bukan desainer, bukan wartawan yang harus menenteng laptop ke mana-mana. Pekerjaan mereka adalah memikirkan perbaikan nasib rakyat yang mereka wakili dan memperjuangkannya habis-habisan. Itu saja. Syukur kalau bisa menghibur rakyat seperti yang dilakukan Thukul Arwana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika mereka mau kembali ke laptop, eh maaf, kembali ke pekerjaan utama mereka, yang diperlukan adalah integritas, ketulusan, keberanian, dan kredibilitas yang harus terus dijaga. Semua kebutuhan itu tak bisa didapatkan dari sebuah laptop. Tak ada program atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;software&lt;/span&gt;-nya. Secanggih apa pun sebuah laptop, bagi para anggota DPR yang belum tentu bisa memakainya, benda itu tetaplah alat kerja yang kurang relevan dengan tugas dan kebutuhan mereka. Apa yang ada di kepala mereka sebenarnya ketika mengajukan anggaran untuk sebuah laptop? Seharusnya dengan gaji mereka yang puluhan kali lebih tinggi dari gaji seorang wartawan, mereka bisa membeli laptop sendiri kalau merasa memerlukannya sebagai alat kerja. Apakah ada Thukul di kepala mereka saat itu? Apakah mereka bermaksud melawak seperti Thukul dengan menyetujui permohonan anggaran laptop itu? Mungkin. Ya, mungkin saja seperti itu, karena di dunia para wakil rakyat yang terhormat itu, hal yang paling tidak masuk akal pun kerap terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Satu hal yang pasti benar dan penting untuk mereka lakukan sebagai wakil rakyat adalah belajar lebih serius pada Thukul Arwana sebelum mengatakan “kembali ke laptop” dalam sidang-sidang serius yang membahas nasib rakyat. Jika tidak, mungkin lebih baik duit untuk membeli laptop digunakan saja untuk meng-kloning 550 Thukul yang siap menggantikan mereka sebagai anggota DPR/DPRD. Dijamin rakyat lebih bahagia dan tertawa setiap saat dalam penderitaan mereka. Untunglah, akhirnya, kemarin (27/3/07) Ketua DPR, Agung Laksono, mengumumkan pembatalan pembelian laptop untuk para anggota DPR sementara sejumlah DPRD tetap mengeksekusi pembelian laptop. Lalu bagaimana dengan alokasi dana 12 milyaran perak yang sudah cair? Saya rasa, usulan saya untuk mengkloning 550 Thukul Arwana, bisa dibahas di rapat paripurna DPR sesegera mungkin! (frg) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-4566316027159472496?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/4566316027159472496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=4566316027159472496&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/4566316027159472496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/4566316027159472496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/03/laptop.html' title='550 Thukul'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-8170563258267089824</id><published>2007-03-19T23:46:00.000-07:00</published><updated>2007-03-19T23:57:21.127-07:00</updated><title type='text'>Nyepi</title><content type='html'>&lt;div style="margin: 1ex; font-family: verdana;"&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;      &lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;     &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;catatan rabu pagi 34&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mari menepi sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan yang tak pernah memberimu ruang untuk keheningan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mari menepi sejenak dari hingar-bingar dunia yang memenuhimu dengan kekosongan jiwa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mari menepi sesaat dari raung  mesin-mesin yang menggilasmu jadi kepingan-kepingan logam dingin. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mari menepi sekejap saja dari  lenguh dan desah birahi yang memacu hasratmu menuju kehampaan belaka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mari menepi dari kebisingan  panggung kekuasaan yang hanya menjerumuskanmu dalam arus liar sungai  darah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mari menepi sajalah dari benda-benda  yang membiusmu dengan kenikmatan semu. Tinggalkan saja semua omong kosong  para penipu yang menjebakmu dalam mimpi-mimpi tanpa makna. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mari menepi sekejap dari frekuensi  satelit yang mengepung dan memasungmu dalam kotak televisi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mari menepi segera dari keserakahan  yang menggerogoti tubuhmu sekerat demi sekerat. Mari menepi, walau hanya  sejenak, dari permainan-permainan keangkuhan hati yang membodohimu atas  nama cinta. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mari menepi untuk diam di tepian  jiwa kita yang belum terjamah polusi duniawi, sedetik saja. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Barangkali, hanya dengan menepi  barang sekejap, kita akan menemukan kembali sesuatu yang telah lama  hilang dari hati dan jiwa kita. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Barangkali, hanya dengan sesaat  saja menepi, kau akan tahu betapa indahnya sepi. Betapa pentingnya diam  dan hening dalam hidupmu yang selalu bising oleh kegelisahan dan ketidakpuasan.  (frg)  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-8170563258267089824?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/8170563258267089824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=8170563258267089824&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/8170563258267089824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/8170563258267089824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/03/nyepi.html' title='Nyepi'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-7987058727609309249</id><published>2007-03-14T03:34:00.000-07:00</published><updated>2007-03-14T03:35:13.385-07:00</updated><title type='text'>Grand Design Dunia Penyiaran Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-family: verdana;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;catatan rabu pagi 33&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Paradigma komunikasi untuk membangun kebersamaan dikenal sebagai “humanistic values paradigm”, yang menekankan bahwa pada dasarnya tujuan hidup semua manusia itu sama, walau memiliki kepentingan-kepentingan yang berbeda. Perbedaan kepentingan ini sebenarnya hanyalah perbedaan “bahasa” saja, dan karenanya sangat bisa diselesaikan dengan komunikasi untuk menyamakan “bahasa”. Bukankah pada dasarnya setiap manusia memang selalu menginginkan kualitas hidup yang baik yang penuh dengan kedamaian, kesamaan di bidang sosial-ekonomi, dan kemerdekaan serta otonomi individu? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Melalui komunikasi, melalui media massa, melalui KPI, kesamaan tujuan hidup ini bisa diperjuangkan bersama-sama sehingga perbedaan tidak lagi menjadi sesuatu yang mengakibatkan terjadinya konflik dan perpecahan. KPI dan media massa bersama-sama harus membangun pemahaman akan indahnya perbedaan demi kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berikut beberapa catatan saya  tentang “grand design dunia penyiaran Indonesia”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. Yang saya maksud dengan  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grand design &lt;/span&gt;dunia penyiaran Indonesia adalah sebuah konsep komprehensif  yang menjadi tujuan bersama dari seluruh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stake holder &lt;/span&gt;dunia penyiaran, mulai dari pelaku industri penyiaran, penyiaran publik, penyiaran komunitas, KPI, pemerintah, dan masyarakat. Di dalamnya ada desain struktur dunia penyiaran secara utuh, pola hubungan antara seluruh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stake holder&lt;/span&gt; (berdasar peran, kewenangan, dan tanggung jawab), mekanisme kerja bersama antara seluruh pelaku dan bentuk koordinasinya, orientasi produk ideal (bukan sekadar pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran), pola kepemilikan media, dan kode etik untuk pelaku industri penyiaran non-jurnalis. Regulasi dunia penyiaran yang bisa dijadikan acuan model adalah regulasi penyiaran “demokratis-partisipatif” yang salah satu substansinya memandang radio dan televisi sebagai agen perubahan sosial, pengembangan kebudayaan, dan pembangunan bangsa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Untuk mampu menjadikan dunia penyiaran sebagai agen perubahan sosial, pengembangan kebudayaan, dan pembangunan bangsa, harus ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;regulation of fairness &lt;/span&gt;yang memuat prinsip objektivitas, imparsialitas, dan akuntabilitas agar tercipta dunia penyiaran yang sehat dan hubungan yang seimbang dan dinamis antara pengelola penyiaran, pemerintah, KPI, dan audiens.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3. Yang saya maksud sebagai  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;watchdog &lt;/span&gt;media penyiaran adalah termasuk menjaga dan mengembalikan fungsi  sosial media penyiaran publik sebagai: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;social surveillance &lt;/span&gt;dalam penyebaran  informasi yang dilakukan dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;socialization &lt;/span&gt;dalam upaya pewarisan nilai-nilai  budaya bangsa dari satu generasi ke generasi lainnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4. Mutu sinetron yang memprihatinkan dan perilaku para produser yang menghalalkan penjiplakan sinetron asing secara keterlaluan menjadi persoalan serius dalam industri penyiaran. Keadaan ini harus diatasi sesegera mungkin dengan program-program peningkatan kualitas sinetron yang kongkrit sebagai bagian dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grand design &lt;/span&gt;dunia penyiaran Indonesia. Hal serupa juga terjadi pada tayangan-tayangan lain seperti berita kriminal yang cenderung mengekspos kekerasan secara berlebihan dan ditayangkan pada jam-jam anak-anak menonton tv, dan tayangan bermuatan mistik yang berlebihan dan menanamkan tahayul pada pola pikir anak dan remaja. Kita harus memunculkan kembali sinetron keluarga yang bermutu dan bernuansa budaya lokal seperti “Keluarga Cemara”, atau memperbanyak sinetron komedi situasi yang membumi dan cerdas seperti “Bajaj Bajuri”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5. Pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran yang telah ada hanya mengatur apa yang boleh apa yang tidak dalam penyiaran dan dalam produk tayangan. Menurut saya yang lebih perlu adalah pembuatan pedoman standar mutu sebuah tayangan yang memberikan orientasi, wacana, dan pedoman praktis/petunjuk teknis untuk menghasilkan tayangan yang bermutu. Pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran yang ada juga harus terbuka untuk ditinjau ulang dengan melibatkan masukan dari masyarakat luas. Saat ini, menurut Muhamad Mufid dalam buku “Komunikasi dan Regulasi Penyiaran”, setidaknya masih ada sejumlah pasal krusial dalam pedoman tersebut, seperti pasal 24 (larangan menyiarkan langsung penjarahan serta tindakan merusak oleh massa), pasal 44 (larangan menyiarkan adegan tarian dan atau lirik yang sensual, menonjolkan seks, membangkitkan hasrat, atau memberi kesan hubungan seks), dan pasal 57 ayat 1 (aturan jam tayang program gaib). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;6. UU no 32 tahun 2002 yang merupakan produk hukum dari begitu banyak kompromi (politik) memang menimbulkan banyak kendala atau kesulitan dalam pelaksanaannya. Pembagian kewenangan untuk pemberian ijin frekuensi penyiaran antara pemerintah dan KPI jelas memunculkan konflik berkepanjangan antara KPI dan pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;7. Saya mengatakan KPI juga  harus menjadi dinamisator dunia penyiaran berdasarkan logika ruang publik  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;public sphere) &lt;/span&gt;dalam pemikiran Jurgen Habermas, yang berpendapat bahwa faktor struktural yang penting bagi kelahiran pengelolaan penyiaran yang demokratis adalah adanya badan regulator (KPI dalam konteks kita) yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;powerfull &lt;/span&gt;dalam sistem penyiaran yang ada. Pengelolaan penyiaran demokratis harus dapat menyeimbangkan penguasaan besar-besaran kalangan bisnis dan kepentingan publik untuk mendapat informasi yang sehat, menghibur, dan bermutu dalam wilayah komunikasi publik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: verdana;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;8. Terkait dengan ruang publik  dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grand design &lt;/span&gt;penyiaran, persoalan mendasar yang muncul kemudian adalah bagaimana membuat struktur sistem media yang kondusif bagi keragaman opini (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;diversity of opinion&lt;/span&gt;), keberagaman konten (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;diversity of contents&lt;/span&gt;),  yang juga kondusif bagi terciptanya iklim kebebasan berbicara (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;freedom  of speech&lt;/span&gt;) dan kebebasan untuk melakukan jurnalisme penyiaran. Jadi, tegasnya, harus ada kebijakan yang jelas untuk menciptakan kondisi di atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-family: verdana;font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Saudara-Saudara (cie … kayak pejabat ya?), dengan demikian selesailah sudah seri Catatan Rabu Pagi bertema “calon anggota KPI yang gagal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fit and proper test &lt;/span&gt;ini”. Terimakasih  atas waktu dan kesediaan Saudara-Saudara untuk membacanya. Semoga bermanfaat.  (frg)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-7987058727609309249?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/7987058727609309249/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=7987058727609309249&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/7987058727609309249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/7987058727609309249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/03/grand-design-dunia-penyiaran-indonesia.html' title='Grand Design Dunia Penyiaran Indonesia'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-3170574565122008482</id><published>2007-03-06T21:22:00.000-08:00</published><updated>2007-03-06T21:28:36.763-08:00</updated><title type='text'>Relasi KPI, Kuasa, dan Modal</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;catatan rabu pagi 32&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Catatan Rabu Pagi pekan ini,  seperti yang saya sampaikan pekan lalu, masih berkutat pada tema “dibuang  sayang”; tentang pretilan-pretilan gagasan seputar KPI yang memang  menjadi sebuah wacana seru dalam dunia persilatan politik Indonesia  dan kait-mengaitnya dengan soal tatanan baru masyarakat Indonesia yang  kita harapkan. Inilah secuil lagi unek-unek saya sebagai calon anggota  KPI Pusat yang gagal ketika di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;fit and proper test&lt;/span&gt; oleh para wakil rakyat  kita yang terhormat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Relasi  KPI, Kuasa, dan Modal&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Relasi  segitiga antara KPI, pemerintah (kekuasaan), dan pemilik modal industri  penyiaran merupakan struktur dasar yang menentukan dan membentuk kualitas  siaran yang dihasilkan industri penyiaran dan dinikmati masyarakat.  Peran KPI dalam segitiga ini sangat penting karena KPI harus menjaga  dan memperjuangkan hak masyarakat untuk mendapatkan siaran yang mengandung:  informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas,  watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan,  serta mengamankan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia (bab IV, pasal  35 UU No.32 Tahun 2002). Pertanyaannya kemudian: benarkah dibutuhkan  KPI yang mampu menjalin hubungan “harmonis” dengan industri penyiaran  agar tercipta iklim yang “produktif”? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya  berpendapat sebaliknya. Kita tidak perlu hubungan yang “harmonis”,  kita justru perlu hubungan yang “dinamis” dengan industri penyiaran.  Kita juga tidak perlu produktif kalau hanya menghasilkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;junk information  &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;junk electronic cinema &lt;/span&gt;(sinetron). Lebih baik meningkatkan kualitas daripada kuantitas tayangan sebuah industri penyiaran. Dalam Bab III, pasal 9 ayat 2, UU No.32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, antara lain disebutkan bahwa KPI memiliki wewenang untuk menetapkan standar program siaran. Wewenang inilah yang seharusnya menjadi landasan hubungan KPI dengan industri penyiaran. Harus dibedakan dengan tegas antara substansi sebuah hubungan dengan sifat sebuah hubungan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Substansi  sebuah hubungan terletak pada pembagian peran dan wewenang yang jelas, di mana pihak-pihak yang saling berhubungan menghormati dan menghargai  peran dan wewenang masing-masing. Artinya, dalam konteks hubungan dengan  industri penyiaran, maka semua lembaga penyiaran baik swasta maupun  publik, harus pertama-tama menghormati wewenang KPI. Demikian juga dalam  konteks hubungan antara KPI dengan pemerintah, kedua pihak harus saling  menghormati peran, wewenang, fungsi, dan tanggungjawab masing-masing.  Jika substansi hubungan ini terjamin, maka sifat hubungan yang terjalin  akan sekaligus harmonis dan dinamis karena sebenarnya sebuah hubungan  yang harmonis adalah hubungan yang dinamis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengingat  besarnya kontribusi yang bisa diberikan oleh KPI dalam meningkatkan  kualitas siaran dari lembaga penyiaran apa pun agar menyiarkan materi  siaran yang bermutu, mencerdaskan, edukatif, berwawasan kebangsaan,  dan sekaligus menarik sebagai sebuah siaran, maka  semua anggota  KPI harus memiliki totalitas dalam menjalankan peran dan fungsinya sesuai  wewenang dan tanggungjawabnya. Era ini adalah era informasi, dan selangkah  saja kita lengah, kita bisa terancam menjadi bangsa yang terus “jadul”.   Semua anggota KPI juga harus memiliki kearifan untuk melihat setiap  persoalan secara holistik dan kritis sehingga tidak mengambil keputusan  atau tindakan yang partial dan sepihak. Semua anggota KPI juga harus  memiliki visi jauh ke depan, modernis, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;open minded&lt;/span&gt;, menghargai dan menghormati  pluralisme, sehingga bisa dipastikan KPI tidak akan menjadi KPI yang  “jadul”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;KPI  yang tidak “jadul” pasti tidak akan sampai “kecolongan” oleh  tayangan semacam Smack Down yang memang sangat mengerikan. KPI yang  “gaul” pasti tidak akan melupakan bagian Lembar Penjelasan Undang  Undang No.32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran yang menegaskan tugas: &lt;i&gt;  terciptanya siaran yang berkualitas, bermartabat, mampu menyerap, dan  merefleksikan aspirasi masyarakat yang beraneka ragam, untuk meningkatkan  daya tangkal masyarakat terhadap pengaruh buruk nilai budaya asing”. &lt;/i&gt; Dan Smack Down adalah contoh ekstrim budaya asing dengan pengaruh sangat  buruk pada masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.  Apa kita mau menjadi bangsa tukang &lt;i&gt;piting, pithes, pelintir, dan  pethuk&lt;/i&gt;? Saya yakin kita akan sama-sama berteriak keras menjawab:  “Tidaakk!”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hubungan  antara KPI, kuasa, dan para pemilik modal, sekali lagi, sangat menentukan  dalam meletakkan fondasi tatanan masyarakat Indonesia masa depan yang  cerdas, kritis, demokratis, dan menghargai keberagaman. (frg)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-3170574565122008482?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/3170574565122008482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=3170574565122008482&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/3170574565122008482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/3170574565122008482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/03/relasi-kpi-kuasa-dan-modal.html' title='Relasi KPI, Kuasa, dan Modal'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-2756850349087346667</id><published>2007-02-26T22:34:00.000-08:00</published><updated>2007-02-26T22:40:19.003-08:00</updated><title type='text'>Catatan Seputar KPI</title><content type='html'>&lt;div style="margin: 1ex; font-family: verdana;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;catatan rabu pagi 31&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beberapa waktu  lalu, setidaknya sejak bulan Agustus 2006 sampai Februari 2007, saya  mengikuti seleksi calon anggota Komisi Penyiaran Indonesia periode 2007-2010.  Mulai dari seleksi awal sampai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fit and proper test &lt;/span&gt;oleh DPR, saya menjadi  salah satu kandidat yang “lumayan” menurut versi para pemantau independen.  Tapi di DPR saya gugur. Alasannya saya tidak tahu; mungkin karena saya  tidak melakukan lobi politik (karena semua sudah menjadi politik dan  ekonomi di DPR kita), atau karena alasan lain yang saya tidak akan paham.  Selama proses itu saya sempat menulis beberapa catatan tentang KPI yang  saya pikir dibuang sayang. Lagi pula, sekian lama saya absen dari catatan  rabu pagi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;shame on me&lt;/span&gt;!), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;so&lt;/span&gt;, inilah beberapa catatan saya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;KPI yang  tidak “Jadul”&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Seperti  apakah KPI yang tidak “jadul”? Jadul, sekadar informasi, adalah  akronim gaul anak muda sekarang yang merupakan kependekan dari  “jaman dulu”. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tergelitik  oleh pertanyaan itu dan juga kasus Smack Down beberapa waktu lalu yang  mengerikan, muncul jawaban sederhana di kepala saya: KPI yang tidak  “jadul” adalah KPI yang “gaul”. Segala sesuatu yang berbau “jadul”  dalam konotasi negatif (korupsi, kolusi, nepotisme, otoriterianisme,  arogansi birokrasi, dan sejenisnya) yang tumbuh subur di era Orde Baru,  harus dienyahkan terlebih dulu. Ini syarat mutlak yang tak bisa ditawar.  Hal-hal positif dari era “jadul” bisa dicerap dan dijadikan orientasi  nilai, meski dalam konteks dunia penyiaran dan informasi, tidak terlalu  banyak hal positif yang bisa kita dapat dari era “jadul”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ilustrasi  yang gamblang untuk menjelaskan syarat tidak “jadul” ini mutlak  adalah kegagalan 7 agenda reformasi, terutama pada agenda supremasi  hukum, penegakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;good governance&lt;/span&gt;, penguatan masyarakat sipil, dan reformasi  perekonomian. Kegagalan ini, dalam bahasa dan analisa sederhana adalah  kegagalan mengenyahkan semua hal negatif yang berbau “jadul”. Dalam  bahasa yang lebih radikal dan “ngilmiah”: kita harus memutus-tus  rantai sejarah dan memulai lembaran baru yang benar-benar baru. Dan  KPI harus menjadi pengisi lembaran baru yang benar-benar baru itu dengan  benar-benar menjadi lembaga baru yang tidak “jadul”. Hal ini mutlak  dan tidak bisa dikompromikan. Komisi-komisi independen, seperti KPI,  KPU, KPK, dan lain-lain sebagai produk reformasi, setidaknya masih bisa  diharapkan jika berfungsi dengan baik dan bersih. Untuk itu pertama-tama  kita perlu memahami dengan baik soal negosiasi dan kompromi dalam tatanan  kehidupan sosial-politik bangsa kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Negosiasi dan Kompromi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Banyak  pendapat mengatakan kompromi adalah kunci sekaligus seni menjalani hidup  dengan sukses. Ini perlu diluruskan. Asumsinya adalah tidak semua hal  bisa dan harus dikompromikan. Semua hal mungkin bisa dinegosiasikan,  termasuk hal-hal yang tidak bisa dikompromikan. Jadi negosiasi-lah sebenarnya  yang merupakan seni dan kunci penting dalam menjalani hidup ini. KPI,  misalnya, tidak perlu kompromi dengan tindakan-tindakan pelanggaran  yang dilakukan pemerintah (dalam hal ini Menteri Komunikasi dan Informasi)  maupun oleh lembaga-lembaga penyiaran yang jelas-jelas melanggar UU  Penyiaran Nomor 32 tahun 2002. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut  anggota Komisi I DPR F-PAN, Tristanti Mitayani, KPI periode 2003-2006  masih sangat sedikit memakai wewenang yang dimilikinya untuk menyelesaikan  persoalan-persoalan yang mereka hadapi dalam relasinya dengan pemerintah.  Peran sebagai regulator, bahkan relatif belum “dimainkan”. Padahal  tugas dan tanggungjawab KPI sebagai wakil masyarakat sangatlah besar,  terutama untuk membuat regulasi-regulasi yang berpihak pada hak masyarakat  untuk mendapatkan informasi yang sehat, menghibur, dan mencerdaskan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan  sebagai regulator dengan kewenangan yang setara dengan Menteri, KPI  seharusnya memang tidak perlu banyak kompromi dalam berurusan dengan  ketidakberesan-ketidakberesan dari pihak mana pun, apalagi mengingat  KPI adalah representasi dari rakyat/publik. Tidak kompromi bukan lantas  berarti tidak membuka komunikasi dengan pihak-pihak yang melakukan pelanggaran.  Komunikasi, entah berupa pengarahan, negosiasi, ataupun diskusi, tetap  bisa dan harus dilakukan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;KPI  adalah lembaga yang mengurusi kegiatan penyiaran sebagai kegiatan komunikasi  massa. Menurut pasal 4 ayat 1 UU No.32 Tahun 2002, penyiaran sebagai  kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi,  pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial. Jadi ketika  berurusan dengan pemerintah yang mungkin memiliki kebijakan atau keputusan  yang bertentangan, hal yang seharusnya dilakukan adalah menjadikannya  sebagai wacana debat publik yang sehat dan demokratis. Untuk menghilangkan  hal-hal yang berbau jadul, KPI pasti akan banyak berurusan dengan pihak  pemerintah yang memang masih dipenuhi atmosfir jadul di berbagai lapisan  birokrasi.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadi  sebenarnya agak aneh bila kita mempertanyakan KPI yang seperti apakah  yang kita butuhkan? Tentu saja KPI yang (anggota-anggotanya) mampu menjalankan  fungsi, peran, kewajiban, dan tanggungjawabnya sebagaimana telah ditetapkan  dan diatur oleh UU No.32 Tahun 2002. Itulah (anggota-anggota) KPI yang  kita butuhkan. Fungsi, peran, kewajiban dan tanggungjawab itu sangatlah  berat. Wajar bila KPI yang ada sekarang yang baru berumur tiga tahun  mungkin belum secara tuntas memenuhi semua itu. Mungkin baru KPI sepuluh  sampai lima belas tahun ke depan yang benar-benar mampu menjalankan  fungsi, peran, kewajiban dan tanggungjawabnya. Bagi KPI pengurus baru  tiga tahun ke depan, hal paling mendasar dan substansial untuk dicapai  adalah meninggalkan segala tradisi dan budaya destruktif-negatif dari  era “jadul”. Ini artinya upaya menciptakan sebuah fondasi untuk  tatanan kultur yang baru melalui televisi dan radio sebagai sarana penyiaran.     &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tugas  penting yang dipikul KPI dan para anggota tiga tahun ke depan adalah  melakukan program-program kegiatan yang bisa mempercepat atau melakukan  akselerasi terhadap pemenuhan semua hal tersebut. Konsentrasi pada konten siaran menjadi sangat prioritas bagi KPI tiga tahun mendatang. Para  anggotanya harus memiliki semangat mencintai kebenaran, memiliki integritas  yang teruji, memiliki kapasitas intelektual dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;leadership &lt;/span&gt;yang memadai,  dan juga tidak “jadul” tentunya. “Ke-jadul-an” memang menjadi  sebuah indikator atau parameter yang cukup penting bila kita ingin menjadikan  KPI sebagai lembaga independen yang benar-benar memiliki semangat baru  dan berorientasi ke masa depan. Dan untuk tidak “jadul”, KPI harus  menjadi KPI yang “gaul” karena hanya dengan “gaul”, KPI akan  bisa mencerap persoalan-persoalan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grass root &lt;/span&gt;dan mengatasinya di  tingkat regulasi dan kebijakan sebagai wakil dari rakyat yang memperjuangkan  dan membela hak rakyat untuk mendapatkan informasi yang bermutu, sehat,  mendidik dan mencerdaskan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Satu  fondasi penting untuk mewujudkan KPI yang tidak “jadul” adalah kualitas  para anggotanya. Banyaknya persoalan yang harus dihadapi agar menjadi  KPI yang tidak “jadul” menuntut pemenuhan kebutuhan akan anggota-anggota  yang memiliki etos kerja dan resistensi tinggi. Para anggota yang tidak  mengenal kompromi terhadap segala sesuatu yang “jadul”, tetapi sekaligus  mampu bernegosiasi untuk mencari solusi terbaik dari setiap persoalan,  baik yang muncul dalam relasi dengan pemerintah maupun persoalan dalam  relasi dengan industri penyiaran. Dalam bahasa pejabat, dibutuhkan para  anggota yang “berjiwa besar” untuk menghadapi semua itu, termasuk  untuk mengelola dinamika internal di tubuh KPI sendiri agar tetap dan  terus bergerak maju meninggalkan “ke-jadul-an”.[]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-2756850349087346667?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/2756850349087346667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=2756850349087346667&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/2756850349087346667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/2756850349087346667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2007/02/catatan-seputar-kpi.html' title='Catatan Seputar KPI'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-6659919967749676804</id><published>2006-11-26T19:03:00.000-08:00</published><updated>2006-11-26T19:19:12.915-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opera'/><title type='text'>Opera Kontemporer Rasa Teater Garasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;F.X Rudy Gunawan&lt;br /&gt;(Tulisan dimuat di Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seputar Indonesia &lt;/span&gt;edisi Minggu, 26 November 2006)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;        &lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;B&lt;/span&gt;agaimanakah  reaksi Yudi Ahmad Tajudin, pendiri Teater Garasi, ketika komponis Tony  Prabowo meminangnya untuk bekerja sama dalam pertunjukan opera kontemporer &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The King’s Witch&lt;/span&gt;? Opera kontemporer yang akan dipentaskan tanggal  1 dan 2 Desember 2006 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta,  itu jelas merupakan suatu hal baru bagi Yudi.  Meskipun telah lama  berkiprah dalam grup teater yang berkarakter eksperimental, Yudi  tetap merasa “berkeringat dingin” selama beberapa waktu. Pertama  ia meminta waktu untuk mempelajari, merasakan, dan menghayati musik  Tony Prabowo. Maklumlah, Yudi dan semua anggota Teater Garasi, menurut  pengakuan mereka, baru sampai tahap menjadi pendengar musik pop, sementara  musik Tony Prabowo berada pada dimensi dan wilayah yang sangat berjauhan  dengan dimensi dan wilayah musik pop. Perlu ketajaman telinga yang berbeda  untuk masuk dan menikmati musik Tony.&lt;/span&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yudi  dan Teater Garasi akhirnya menerima “pinangan” Tony Prabowo setelah  mempelajari berbagai referensi yang terkait dan memengaruhi musik Tony.  Kata kuncinya adalah kolaborasi yang bebas dan independen. Kebetulan  karakter Garasi memang bebas dan tidak pernah berafiliasi pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;style&lt;/span&gt;  tertentu dalam berteater. Mereka menjajaki semua kemungkinan bentuk  untuk mengekspresikan ide-ide apa saja yang muncul di kepala sebagai  hasil interaksi dengan realitas. Itulah yang membuat Garasi bisa menghasilkan  “Waktu Batu” yang terkesan absurd dan modern, dan sekaligus bisa  juga menggelar teater rakyat yang tradisional bersama masyarakat Aceh  dengan isu yang kontekstual dan riil. Tidak hanya lokal, Garasi juga  beberapa kali diundang ke berbagai negara, baik untuk pentas, festival  (antara lain D’Avignon Festival, Perancis) maupun workshop. Salah  satunya ke Jepang untuk berkolaborasi dengan seniman teater Jepang,  dan Yudi didaulat untuk menyutradarai lakon &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Antigone&lt;/span&gt;-nya Sophocles dalam  pertunjukan kolaborasi itu. Pengalaman di tingkat multinasional ini  juga menjadi modal Teater Garasi untuk berkolaborasi dengan Tony Prabowo  dalam opera kontemporer &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The King’s Witch&lt;/span&gt;, yang naskahnya ditulis oleh  Goenawan Mohamad dan musiknya dimainkan oleh Continuum Ensemble (New  York) dengan Joel Sachs sebagai konduktor, dan Batavia Madrigal Singers  dengan Avip Priatna sebagai &lt;i&gt;chorus master.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tentang  Continuum Ensemble, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;New York Times&lt;/span&gt; menulis: "Simply put, there  is no musical organization in New York that produces more intellectually  enticing or more viscerally satisfying programs than Continuum... Year  after year, its explorations in 20th-century repertory prove to be not  only unusual and unexpected but also important and enduring... This  ensemble has a long history of acting in behalf of composers whom others  discover years or decades later."  Sebuah apresiasi luar biasa  dari media bergengsi. Tapi Joel Sachs sendiri bukanlah sosok asing bagi  Tony Prabowo karena mereka pernah berkolaborasi pada November 2000 untuk  mementaskan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The King’s Witch&lt;/span&gt; di Alice Tully Hall, Lincoln Center,  New York. Dalam kesempatan itu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The King’s Witch&lt;/span&gt; dipentaskan  tanpa aktor-aktor pendukung. Inilah yang membedakannya dengan pertunjukan  di Graha Bakti Budaya, tanggal 1 dan 2 Desember 2006 nanti. Dan inilah  untuk pertama kalinya sebuah opera kontemporer digelar di Indonesia.  Garasi mendapat kesempatan untuk menjadi yang pertama mengambil peran  dalam opera kontemporer karya Tony Prabowo dan Goenawan Mohamad ini.  Dengan didukung oleh musisi-musisi tingkat dunia, nampaknya pertunjukan  ini akan menjanjikan sesuatu yang spektakuler dan fenomenal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yudi  dan Teater Garasi menyiapkan diri untuk pertunjukan ini dengan proses  latihan yang ketat dan profesional. Mereka memilih latihan setiap hari  selama berbulan-bulan di aula terbuka bekas gedung ASRI (Akademi Seni  Rupa Indonesia) yang terletak di daerah Gampingan, Yogyakarta. Setelah  melewati proses interpretasi dan diskusi yang alot antara Yudi dan aktor-aktornya,  ditemukanlah sebuah pola gerak yang senyawa dengan musik Tony Prabowo.  Tahap inilah yang paling rumit bagi mereka. Tahap selanjutnya, menginterpretasi  teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;libretto&lt;/span&gt; Goenawan Mohamad yang diangkat dari cerita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Calon Arang&lt;/span&gt;  relatif lebih mudah bagi mereka karena teks memang sudah menyatu dengan  diri mereka dalam setiap proses kreatif. Berbeda dengan musik Tony yang  membuat mereka harus belajar tentang sejarah musik kontemporer. Terutama  satu periode penting setelah periode Post-Romantik.  Periode itu  disebut impresionisme dengan tokoh seperti Claude Debussy dan Maurice  Ravel yang lebih bebas mengekspresikan diri. Lalu juga tentang kelompok  3 Wina (Arnold Shoenberg, dengan dua muridnya, Anton von Webern dan  Alban Berg) yang memelopori musik modern khususnya pada penggunaan 12  nada. Kelompok 3 Wina inilah yang kemudian memicu lahirnya musik a-tonal  yang intinya tidak ada lagi “nada pusat yang paling penting” dalam  musik. Tony menganut idiom musik a-tonal dalam karya-karyanya. Semua  nada sama nilai dan arti pentingnya, tidak ada lagi orientasi pada satu  pusat nada. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Itulah  sekelumit proses kreatif Yudi dan Teater Garasi dalam kolaborasinya  dengan Tony Prabowo, Goenawan Mohamad, Continuum Ensemble, Joel Sachs,  Stephanie Griffin, Batavia Madrigal Singers, dan juga Nyak Ina Raseuki  (Ubiet) dan Binu D. Sukaman. Akan seperti apakah hasilnya? Paling tidak  para penonton pasti akan bisa merasakan citarasa Garasi dalam pertunjukan  opera kontemporer ini. Ini bisa dipastikan karena, baik Tony Prabowo  maupun Goenawan Mohamad memberi Yudi dan Teater Garasi kebebasan penuh  untuk menginterpretasi musik dan teks mereka sampai ke tingkat bentuk-bentuk  ekspresi yang dihasilkan dari proses interpretasi itu.  Kebebasan  yang sama juga menjadi prinsip dalam kolaborasi antara Tony dan Goenawan  Mohamad. Tony Prabowo tidak ikut campur dalam proses kreatif Goenawan  Mohamad menulis dan menginterpretasikan ulang cerita Calon Arang. Goenawan  Mohamad pun menyerahkan sepenuhnya teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;libretto&lt;/span&gt; yang ditulisnya pada  Tony untuk di-bahasa-musik-kan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semua  memiliki otonomi dan kewenangan penuh di bidang kreatif masing-masing  karena seni memang menuntut kebebasan untuk berekspresi dan bereksperimen.  Semua punya hak dan kewajiban yang sama. Setiap orang memiliki harkat  dan martabat setara. Tanpa memandang warna kulit, agama, status sosial-ekonomi,  ras, ideologi, dan perbedaan-perbedaan lain. Ini memang sebuah kolaborasi  multinasional, karena itu hal yang sama juga diterapkan dalam relasi  dengan para pemusik dari New York yang latihan sendiri di negaranya.  Sungguh sebuah proses kreatif yang demokratis dan patut dijadikan acuan  pelaksanaan demokrasi di negara ini. Jadi, melalui tulisan pendek ini,  akhirnya saya juga ingin menghimbau pada para politisi, pejabat tinggi,  penguasa ekonomi, para aktivis, dan tentunya, seniman-budayawan, agar  ramai-ramai menontonnya. Terutama para pejabat, politikus, dan pengusaha. [] &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-6659919967749676804?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/6659919967749676804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=6659919967749676804&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/6659919967749676804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/6659919967749676804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/11/opera-kontemporer-rasa-teater-garasi.html' title='Opera Kontemporer Rasa Teater Garasi'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-115632122326121578</id><published>2006-08-23T01:05:00.000-07:00</published><updated>2006-08-23T01:20:23.273-07:00</updated><title type='text'>Anak-anak adalah Keajaiban</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;catatan rabu pagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sesaat setelah gempa menghancurkan sebagian kehidupan di dusun Pengkol, Kelurahan Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo, anak-anak terperosok dalam kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan. Keceriaan dan kegembiraan mereka direnggut dalam waktu 1 menit saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tapi anak-anak adalah keajaiban. Merekalah yang pertama kali memotivasi para orang tua untuk mempertahankan hidup yang tinggal sepenggal saja. Merekalah yang pertama kali menyentuh hati para dermawan untuk merogoh lebih dalam pundi-pundi uangnya. Mereka jugalah yang pertama tersenyum kembali setelah menghabiskan air mata dalam tangis tanpa suara. Ya, anak-anak adalah keajaiban yang membuat kehidupan terus berjalan menuju masa depan yang lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Puluhan anak di Pengkol, persisnya 45 anak berusia 5 sampai 13 tahun, juga membuktikan keajaiban diri mereka. Merekalah yang menggerakkan Miranda, Landung Simatupang, Hari Santoso, Piet Santoso, Ina, Denko, Antok, Ivan, Dewi, dan teman-teman mereka, untuk terus melakukan pendampingan kegiatan menggambar dan menulis (yang sudah dilakukan sejak 1 Juli 2006 lalu), di saat orang-orang—entah petinggi pemerintah ataupun para dermawan—mulai kembali pada kehidupan mereka dan sibuk mengurusi pekerjaan mereka. Ya, anak-anak di Pengkol telah menyatukan dan membulatkan hati para pekerja seni yang tergabung dalam Perkumpulan Seni Indonesia (PSI) itu, untuk meneruskan pendampingan. Bukan karena hal-hal yang muluk semacam “jiwa besar” atau “hati mulia”, tapi lebih karena “anak-anak adalah keajaiban”.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bukti lanjut keajaiban itu adalah berdirinya sebuah sanggar dan taman baca yang asri dan indah, meski hanya sederhana. PSI tidak pernah merencanakan membuat sebuah sanggar dan taman baca, sesederhana apa pun. Bukan karena tidak mau, tapi karena memang tidak memiliki sumber daya dan sumber dana. Konsep PSI adalah menyumbangkan tenaga, waktu, dan pikiran karena PSI memang bukan sebuah lembaga yang memiliki sumber finansial tetap. Tapi keajaiban kemudian terjadi karena dan untuk anak-anak itu. Tiba-tiba sejumlah orang muncul dan menawarkan bantuan material bangunan untuk membangun sebuah sanggar baca sederhana yang dimaksudkan sebagai basis kegiatan menggambar dan menulis, dan kegiatan kesenian lainnya. Karena tidak ada dana untuk tukang, masyarakat Pengkol pun menyingsingkan lengan baju dan ternyata mereka bahkan lebih dari tukang bangunan mana pun. Mereka adalah seniman dalam membangun sebuah bangunan.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ini adalah sebuah keajaiban. Ya, sanggar dan taman pustaka Pengkol ini adalah sungguh sebuah keajaiban. Keajaiban yang melekat pada diri dan kehidupan anak-anak sebagai penggerak kereta kehidupan. [frg] &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-115632122326121578?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/115632122326121578/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=115632122326121578&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/115632122326121578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/115632122326121578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/08/anak-anak-adalah-keajaiban.html' title='Anak-anak adalah Keajaiban'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-115449452185654366</id><published>2006-08-01T21:17:00.000-07:00</published><updated>2006-08-01T21:55:21.903-07:00</updated><title type='text'>Melawan Hegemoni Budaya Pop</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Masih adakah martabat manusia yang luhur dan mulia sebagaimana secara kodrati manusia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;diyakini &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;adalah mahkluk paling sempurna di muka bumi ini? Mari melihat kenyataan. Kemiskinan, yang karena sedemikian strukturalnya menjadi sangat sulit diuraikan benang merahnya, semakin hari semakin parah di negeri kita yang gemah ripah ini. Sejak masa Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, sampai SBY, masalah kemiskinan tetap tak menemukan solusi yang membuahkan hasil nyata. Kemiskinan jelas membuat kualitas kehidupan manusia terperosok dalam jurang kehinaan. Jangankan martabat yang luhur, makan saja harus mengais dari tong sampah atau mengemis di jalanan. Mengais tong sampah biasanya hanya dilakukan oleh anjing, tikus, atau kecoa got. Bukan oleh manusia. Mengemis? Mungkin hanya bisa dimaklumi pada kondisi-kondisi ekstrim yang dialami manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dalam sebuah pandangan sederhana, barangkali apa yang dikatakan oleh Dewi “Dee” Lestari, penulis Supernova, ada benarnya. Dee berpendapat bahwa “kemiskinan adalah masalah orang kaya yang tidak mau berbagi.” Sayang, kenyataannya; semakin kaya seseorang, semakin tak mau ia berbagi untuk sesamanya. Sekecil apapun. Keserakahan sepertinya melekat pada setiap pundit kekayaan. Ini yang membutakan mata hati kebanyakan orang kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kemiskinan yang mengandung kekejaman dan kejahatan terhadap manusia, kekejaman dan kejahatan yang sistematis juga terus memerosokan martabat manusia dalam kubangan kenistaan. Sebut saja kriminal-kriminal kelas kampung yang semakin kejam dalam melakukan operasi kejahatan mereka; merampok, menganiaya, memerkosa, sampai memutilasi korban, sampai para penjahat kemanusiaan kelas super kakap atau kelas hiu yang berlindung di balik ketiak kekuasaan yang mereka kangkangi. Semua benar-benar kejam dan tak sedikit pun menghargai harkat dan martabat manusia. Sejak peristiwa G-30-S tahun 65 sampai peristiwa Mei 1998, kekejaman yang meluluhlantakkan martabat manusia sampai pada dimensi penghancuran tubuh manusia sehingga mayat-mayat pun terkapar hangus tanpa bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana memiliki kembali martabat manusia yang sepantasnya? Belum tega rasanya mengajukan pertanyaan ini di saat bencana menghancurkan banyak kehidupan di negara ini. Terbilang sejak SBY naik tahta, cobaan yang luar biasa menghantam kehidupan sebagian rakyat Indonesia. Tentu hal ini tidak bisa serta-merta berhubungan secara langsung satu sama lain. Siapapun presiden yang berkuasa, bencana bisa saja terjadi. Jadi, pertanyaan di atas justru tetap harus diajukan dan dijawab karena menjadi sangat relevan dengan kondisi yang ada sekarang.  Apalagi di saat kita dengan jelas melihat betapa orang masih tega mengkorupsi dana kemanusiaan untuk bantuan bencana. Menurut Andi K Yuwono dari Praxis, hal yang benar-benar nista senista-nistanya itu memang kerap terjadi dalam setiap bencana. Berbagai cerita dari Aceh tentang korupsi dana bantuan kemanusiaan, memang benar-benar mengoyak-oyak nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan yang optimistik, sebuah gerakan kebudayaan yang tepat bisa menjadi solusi dari terkikisnya martabat manusia dari hari ke hari dalam atmosfir kehidupan masyarakat modern kini. Dalam kehidupan yang materialistik, hedonistik, dan konsumtif, konsep martabat manusia telah mengalami pergeseran dari sesuatu yang bersifat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;inner&lt;/span&gt; menjadi sesuatu yang artifisial. Kebudayaan juga bergerak menuju arah pergeseran yang sama sehingga dalam apa yang disebut sebagai budaya pop, karakter yang menonjol adalah instan, dangkal, egosentris, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;market oriented&lt;/span&gt;. Orientasi pada nilai-nilai kehidupan yang bersifat sosial-kemanusiaan, atau idealisme tertentu dalam hubungan sesama manusia atau hubungan antara manusia dan alam, menjadi sesuatu yang asing dalam kebudayaan popular atau budaya pop.  Padahal, orientasi budaya seperti inilah yang sebenarnya mampu menjaga harkat dan martabat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya pop baru berorientasi pada nilai-nilai sosial-kemanusiaan ketika misalnya terjadi bencana atau perang. Bentuk orientasinya pun tidak melekat dalam karya, tapi menjadi kemasan belaka, seperti misalnya konser amal. Budaya pop menjadikan kepedulian sebagai sebuah kemasan belaka, meski mungkin sejatinya mereka peduli. Dalam rentetan bencana yang menimpa sebagian rakyat Indonesia beberapa tahun terakhir ini, hal ini bisa kita lihat dengan jelas. Kepedulian akhirnya bisa terjebak menjadi sekadar sebuah komoditas yang dilekatkan pada produk budaya tertentu. Dalam bencana gempa di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Klaten, para korban gempa bahkan sampai merasa penderitaan mereka dijadikan sebagai objek wisata. Tentu saja hal ini sangat menyakitkan hati. Kita melihat orang berbondong-bondong datang mengunjungi desa-desa yang menjadi korban terparah. Sebagian besar yang berniat membantu segera memasang bendera mereka (entah perusahaan, entah LSM, entah Partai Politik, entah lembaga apa lagi) tinggi-tinggi. “Kami peduli”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah itu kepedulian? Mungkin benar, tapi mungkin bukan kepedulian yang seharusnya. Kepedulian yang seharusnya terhadap para korban bencana yang menghancurkan kehidupan adalah kepedulian tanpa bendera apapun. Kepedulian yang meniadakan segala kepentingan kelompok, segala macam egosentrisme, dan segala pamrih sekecil apapun.  Kepedulian semacam inilah sebenarnya yang harus dibangun dan dihidupkan kembali melalui sebuah gerakan kebudayaan yang membumi dan berbasis pada nilai-nilai kemanusiaan. Alatnya adalah kebudayaan. Karena kebudayaanlah yang mampu menggugah nurani secara tepat dan cepat.  Hanya melalui sebuah gerakan kebudayaan dimungkinkan terjadinya rekonsiliasi atau revitalisasi sebuah kehidupan yang hancur, baik dihancurkan oleh manusia dan sistem kekuasaan yang berlaku, maupun dihancurkan oleh peristiwa alam yang sebenarnya juga dipicu oleh keserakahan dan kegilaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tinggal menumbuhkan bentuk-bentuk kebudayaan yang berorientasi pada nilai-nilai sosial-kemanusiaan atau idealisme apa saja dalam hubungan antara sesama manusia maupun antara manusia dengan alam semesta. Sangat tidak mudah, memang, karena ini berarti harus berhadapan dengan para produsen budaya pop yang hanya peduli pada keuntungan pemilik modal. Namun, sejumlah nama yang menjadi tokoh budaya pop, sebenarnya masih memiliki orientasi pada nilai-nilai idealisme. Sebut misalnya penulis serba bisa Remy Sylado. Ia bergulat dengan budaya pop tapi sekaligus memanfaatkan budaya pop sebagai alat untuk menyampaikan “idealisme”-nya. Beberapa nama lain yang juga melakukan upaya serupa secara konsisten misalnya, Iwan Fals, Oppie Andaresta, Rieke Dyah Pitaloka, dan beberapa artis dari dunia pop lainnya. Ini juga adalah sebuah alternatif perjuangan untuk melawan hegemoni budaya pop, yaitu dengan cara memengaruhi budaya tersebut agar menjadi lebih idealis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, meskipun tidak mudah untuk melawan hegemoni dan dominasi budaya pop dalam setiap segmen kehidupan, tapi perlawanan tetap akan selalu ada karena begitulah memang substansi kehidupan manusia. Selalu merupakan sebuah peperangan antara siang dan malam. Antara gelap dan terang. Antara putih dan hitam. Dan di tengah-tengah kancah peperangan itulah, martabat manusia setiap saat diuji, dipertaruhkan, dan diperjuangkan. Selalu seperti itu, karena martabat manusia memang bukan martabak yang gurih dan renyah untuk disantap. Martabat manusia adalah sesuatu yang harus selalu diperjuangkan oleh setiap manusia. Martabat manusia adalah misi universal setiap kebudayaan di seluruh jagat raya.  Dan untuk langkah awal sebuah gerakan kebudayaan yang berorientasi pada martabat manusia, setiap seniman/budayawan harus berkarya dalam konteks persoalan-persoalan yang melecehkan harkat dan martabat manusia di lingkungan mereka masing-masing. Langkah awal inilah yang akan dilakukan PSI (Perkumpulan Seni Indonesia) dalam setiap aktivitasnya, karena ini adalah sebuah perlawanan bersama.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: georgia; text-align: center;"&gt;****&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-115449452185654366?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/115449452185654366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=115449452185654366&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/115449452185654366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/115449452185654366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/08/melawan-hegemoni-budaya-pop.html' title='Melawan Hegemoni Budaya Pop'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-114923213466112816</id><published>2006-06-02T00:08:00.000-07:00</published><updated>2006-06-02T00:08:54.716-07:00</updated><title type='text'>Bencana</title><content type='html'>catatan rabu pagi 27&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Saya tidak tahu harus berkata  apa, harus menulis apa tentang bencana yang kembali menghancurkan kehidupan  saudara-saudara kita di Bantul dan Klaten. Karena itu saya hanya akan  memuat dua puisi anak saya tentang gempa di Yogyakarta.&lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;&lt;b&gt;Puisi-puisi Hasya Nindita&lt;/b&gt;&lt;br&gt;Kelas III SD Mardi Waluya Cibinong&lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt; &amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;&lt;b&gt;Gempa Yogya&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Sabtu kemarin adalah sabtu  kelabu&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Pukul 05.50 pagi&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Terjadi gempa di Yogjakartaku  tercinta&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Beribu-ribu orang meninggal  dunia&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Pedih hatiku melihatnya&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Rumah-rumah hancur berantakan&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Yogyakartaku tercinta&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Yogyakartaku, kota pelajarku&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Sedih-pilu hatiku&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Melihat ribuan orang berlarian&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Melihat ribuan orang tertimbun  rumah&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Kutumpahkan airmataku,&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Untuk yogyakartaku tercinta&lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt; &amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;&lt;b&gt;Peduli Yogyakarta&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Berubah airmukaku saat mendengarnya&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Berita-berita tentang Yogyakarta&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Gempa dasyat terjadi di sana&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Beribu-ribu orang jadi korban&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Mereka yang selamat hidup sangat  menderita&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Kehilangan semua harta dan  orang-orang tercinta&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Sedih-sedih-sedih&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Wahai saudara&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Wahai kawan&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Bantulah mereka&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Ulurkan tangan&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Tunjukkan pedulimu dengan tulus&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Sumbangkan uang&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Sumbangkan pakaian&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Sumbangkan makanan&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Sumbangkan tenaga&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Untuk mereka semua di Yogyakarta&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Bantu mereka untuk bertahan  hidup&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Jangan sampai semakin&amp;nbsp;  banyak nyawa melayang&lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Cibinong, 30 Mei 2006.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Alamat: Pondok Widyatama Indah  Blok E-14&lt;br&gt;Cibinong, Jawa Barat.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-114923213466112816?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/114923213466112816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=114923213466112816&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114923213466112816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114923213466112816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/06/bencana.html' title='Bencana'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-114848019075652208</id><published>2006-05-24T07:16:00.000-07:00</published><updated>2006-05-24T07:16:31.213-07:00</updated><title type='text'>Sutiyoso dan Teater Tanah Air</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Crp 26&lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Dalam satu kesempatan beberapa  waktu lalu, Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta, menerima rombongan Teater  Tanah Air (TTA) yang dipimpin oleh Jose Rizal Manua. Dalam rombongan  turut serta juga Garin Nugroho, selalu penasehat TTA. Agenda pertemuan  tersebut adalah memberitakan kabar gembira sekaligus meminta dukungan  dari Pemda DKI. Kabar gembiranya adalah prestasi TTA (sebagai wakil  dari Indonesia) yang untuk kedua kalinya lolos seleksi untuk tampil  dalam Festival Teater Anak Sedunia di Lingen, Jerman pada bulan Juli  2006. Melalui seleksi yang ketat, TTA berhasil menyisihkan puluhan grup  dari puluhan negara. Sebelumnya, pada tahun 2004, TTA lolos seleksi  dalam festival yang sama di Kyoto, Jepang, dan memenangkan medali untuk  Best Performance. Sebuah prestasi luar biasa dan jelas-jelas mengharumkan  nama Indonesia yang belakangan tidak punya banyak prestasi di kancah  internasional.  &lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Sutiyoso menerima kabar gembira  tersebut dengan suka cita dan menjanjikan dukungan moril dan materiil.  Bang Yos lalu menunjuk sejumlah staf-nya untuk follow up dukungan yang  dijanjikan tersebut. Garin bahkan meluaskan topik pembicaraan tentang  pentingnya ruang publik bagi pendidikan seni dan budaya di Jakarta.  Singkat cerita, rombongan TTA pulang dengan optimisme; tidak perlu susah  payah mencari dana atau sponsor untuk keberangkatan mereka. Pengalaman  sebelumnya di Jepang saat mereka memenangkan&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Best Performance, yang serba  minim dukungan dan penuh keprihatinan, sepertinya tak kan terulang lagi.  Bang Yos, selaku gubernur sudah memberikan dukungannya, dan selama ini  sosoknya memang termasuk sosok gubernur yang apresiatif terhadap dunia  seni-budaya. &lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Langkah selanjutnya kemudian  mulai dilanjutkan oleh Pimpinan Produksi yang ditunjuk TTA, yakni Alika  Chandra. Naskah yang akan dipentaskan di festival teater anak sedunia  itu bertajuk "WOW", ditulis oleh Putu Wijaya, dramawan dan penulis  terkemuka yang juga punya reputasi internasional. Sebenarnya, dunia  seni-budaya kita, terutama sastra, tari, teater, dan seni lukis, sudah  lama memiliki prestasi yang membanggakan dan mengangkat nama Indonesia  di kancah internasional. Namun selama ini, dukungan pemerintah terbilang  sangat minim untuk prestasi para seniman teater, penulis, koreografer,  dan pelukis-pelukis kita. &lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Sementara Alika mem-follow  up dukungan dari Bang Yos, anak-anak (dan orang tua mereka) TTA yang  akan berangkat ke Jerman, terus latihan dengan penuh semangat dan dedikasi.  Mereka latihan rutin 4 kali seminggu setiap Rabu, Kamis, Sabtu, dan  Minggu, mulai jam 7 sampai jam 10 malam. Pagi harinya mereka tetap harus  masuk sekolah sampai siang hari, dan seusai sekolah masih harus melakukan  kegiatan lain pendukung pelajaran. Mereka benar-benar berjuang dan bekerja  keras.&amp;nbsp; Dan semua dilakukan dengan swadaya. Belum ada dana tersedia  untuk biaya latihan. Bahkan konsumsi pun disediakan secara gotong royong  oleh orang tua masing-masing anak yang terpilih untuk berangkat ke Jerman.  Semangat kekeluargaan ditambah kebanggaan prestasi yang dicapai anak-anak  mereka mengalahkan berbagai kendala yang ada. &lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Persoalannya, setelah sekitar  4 bulan latihan intensif, ternyata realisasi dukungan material (moril  pasti sudah diberikan) belum juga mewujud. Berbagai prosedur birokrasi  untuk mewujudkan dukungan itu ternyata begitu berliku dan penuh dengan  dinding-dinding penghalang yang tak nampak. Berbagai upaya mencari sponsor  juga membentur ruang kosong. Hampa. Sampai minggu lalu, TTA belum bisa  membayar tiket yang sudah dibooking dan harus segera dibayar. Beberapa  orang yang mencoba membantu dengan sungguh-sungguh, seperti artis Peggy  Melati Sukma, belum juga mendapatkan kepastian. Memprihatinkan. Di saat  segelintir anak-anak akan membawa nama bangsa ke sebuah keharuman di  kancah dunia, dukungan ternyata begitu sulit diperoleh. Apa sebenarnya  yang terjadi pada bangsa kita tercinta ini?&lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Pendiri TTA, Jose Rizal Manua,  adalah seniman yang percaya pada keajaiban. Miracle still happened.  Itu barangkali yang ada dalam keyakinannya. Dan sebaiknya, begitulah  seharusnya sikap seorang seniman. Dan memang, apapun keadaannya, TTA  harus berangkat untuk berlaga di kancah festival teater anak internasional  itu. Di saat bangsa kita tercoreng oleh aksi terorisme, oleh korupsi  dan kesewenang-wenangan kekuasaan, oleh kemiskinan dan berbagai pelanggaran  hak asasi manusia, secercah sinar terang bisa kita harapkan pada diri  anak-anak TTA. Merekalah generasi penerus yang bakal memutus rantai  sejarah untuk membuka sebuah lembaran baru yang lebih bersih, indah,  dan penuh penghargaan pada kemanusiaan. Bukankah kita hanya bisa menjunjung  tinggi harkat dan martabat manusia jika kita telah menjadi manusia yang  benar-benar berbudaya?&lt;/font&gt;&amp;nbsp;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;font face="Times New Roman" size="3"&gt;Akhirnya, melalui tulisan ini,  saya sebenarnya hanya ingin agar siapapun yang membacanya, yang kebetulan  punya teman konglomerat atau pejabat sekelas menteri, mau menyampaikan  persoalan TTA ini pada teman konglomerat atau teman menteri kalian.  Dan saya juga berharap, mudah-mudahan Bang Yos, atau stafnya, atau anaknya,  atau keponakannya, atau temannya, juga ada yang membaca tulisan ini  dan kemudian segera bertindak.&amp;nbsp; Itu saja. (frg)  &amp;nbsp;    &amp;nbsp; &lt;/font&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-114848019075652208?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/114848019075652208/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=114848019075652208&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114848019075652208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114848019075652208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/05/sutiyoso-dan-teater-tanah-air.html' title='Sutiyoso dan Teater Tanah Air'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-114682741874461998</id><published>2006-05-05T04:10:00.000-07:00</published><updated>2006-05-05T04:35:10.006-07:00</updated><title type='text'>Mari Meneladani Pram</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;" class="mobile-post"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;catatan rabu pagi 25&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Mari mengheningkan diri untuk meneladani Pramoedya Ananta Toer yang telah berpulang.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-114682741874461998?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/114682741874461998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=114682741874461998&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114682741874461998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114682741874461998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/05/mari-meneladani-pram.html' title='Mari Meneladani Pram'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-114604103925319164</id><published>2006-04-26T01:34:00.000-07:00</published><updated>2006-04-26T01:43:59.276-07:00</updated><title type='text'>Zatoichi</title><content type='html'>Catatan rabu pagi 25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jago pedang Jepang bermata buta yang tak terkalahkan, Zatoichi, di akhir film, jatuh tersandung dan berkata: “Bahkan dengan mata terbuka sekalipun, aku tak bisa melihat apa-apa.” Mata Zatoichi yang selalu terpejam, saat itu memang dibukanya dan terlihatlah sepasang biji mata memutih serupa rambutnya. Statement Zatoichi jelas merupakan sebuah tamparan atau kecaman terhadap semua orang yang memiliki mata yang tidak buta. Mata yang bisa melihat dengan jelas. Orang-orang dengan mata normal seperti kita, memang kerap tidak bisa “melihat” dengan matanya yang melek. Kita kerap “tidak melihat” penderitaan di depan mata, “tidak melihat” kejahatan di hadapan kita, “tidak melihat” penindasan, dan juga “tidak melihat” kebaikan atau kebenaran yang teronggok bisu di depan mata.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tersandung saat berjalan santai, Zatoichi baru saja mengalahkan seorang samurai hebat yang menjadi pengawal andalan Bos Ginzo, pemimpin kelompok mafia yang tengah berkuasa. Cikal bakal Yakuza. Pertarungan tingkat tinggi antara dua jagoan itu hanya memakan waktu singkat. Keduanya lebih lama membatu dengan posisi siap serang, saling membaca pikiran untuk mengetahui kemungkinan gerakan satu sama lain. Dan pada detik terakhir sebelum pertarungan, Zatoichi mengubah posisi serangnya secara drastis. Lawan pun terkecoh habis dan tak bisa berbuat apa-apa ketika kelebat pedang Zatoichi menyambar tubuhnya dari posisi yang sama sekali tak diduga. Zatoichi juga terluka, tapi hanya di bahunya. Ia memenangkan pertarungan itu dengan matanya yang buta. Kebutaan Zatoichi justru membuatnya awas dan memiliki penglihatan yang sangat tajam melalui pendengaran, penciuman, dan indra-indra lainnya. Ia “bisa melihat” dengan jelas kejahatan di depan matanya yang buta, ia “bisa melihat” dengan jelas kesewenang-wenangan di depan mata butanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekejaman dan kekerasan yang sadistik, mewarnai perjalanan hidup Zatoichi sebagai seorang jago pedang pemberantas kejahatan yang selalu berkelana sepanjang hidupnya. Di mata orang-orang kecil yang dibelanya, Zatoichi hanya dikenal sebagai seorang tukang pijat buta. Ia tidak terbius oleh kehebatannya sendiri sebagai seorang jago pedang. Ia tidak tergoda untuk mencari kekayaan atau kekuasaan dengan ilmu pedangnya yang luar biasa. Kalau mau, ia bisa saja menjadi sangat berkuasa dan kaya raya dengan ilmu pedangnya. Tapi Zatoichi tidak melakukannya. Ia lebih memilih menjadi seorang tukang pijat yang mendapatkan imbalan ala kadarnya dengan menyembuhkan orang dari keletihan tubuh dan pikiran karena beban hidup yang berat. Ia mencoba memperingan dan menguatkan orang-orang kecil yang berjuang untuk mempertahankan hidup mereka dari berbagai himpitan. Kita memang harus kuat dalam menghadapi hidup yang keras dan kejam karena sepanjang sejarah kehidupan manusia, kekerasan dan kekejaman selalu saja terjadi akibat para penguasa yang sewenang-wenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zatoichi adalah tokoh fiktif dalam dunia persilatan Jepang. Kita juga punya jagoan buta bernama Si Buta dari Goa Hantu yang kesaktian, ilmu pedang, dan kemuliaan jiwanya sama hebat dengan Zatoichi. Pertanyaannya kemudian: “Mengapa kita tidak menjadi seperti Jepang yang bangkit dari kehancuran Perang Dunia II dan menjadi bangsa maju dalam perekonomian, industri, dan tehknologi?” Saya yakin, Anda semua punya jawabannya.  Tapi jawaban saya sendiri adalah: “Karena Si Buta dari Goa Hantu berkostum kulit ular dan memiliki seekor monyet, sedangkan Zatoichi hanya berkostum orang biasa dan tidak memiliki seekor monyet!” (frg)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-114604103925319164?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/114604103925319164/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=114604103925319164&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114604103925319164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114604103925319164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/04/zatoichi.html' title='Zatoichi'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-114541693073535597</id><published>2006-04-18T20:16:00.000-07:00</published><updated>2006-04-18T20:29:53.240-07:00</updated><title type='text'>Kereta (bukan) Kencana</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;catatan rabu pagi 24&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Selasa sore kemarin (18/4/06),  palang kereta api listrik (KRL) di perlintasan Lenteng Agung menutup  dengan bunyi khasnya, tuing-tuing-tuing. Semua kendaraan yang hendak  melintas berhenti dengan tertib. Wajah-wajah penat, wajah-wajah suntuk,  wajah-wajah dingin, termangu di belakang kemudi mobil mereka. Sedikit  wajah-wajah ceria, tersenyum-senyum sambil mengangguk-angguk mengikuti  irama musik dari pemutar cakram mobil mereka. Para pengedara motor,  sebagian besar melemaskan otot-otot tangan dan pinggang mereka, mengambil  kesempatan itu sebagai jeda sejenak yang berguna.  Ini hanya sebuah  rutinitas biasa di perlintasan-perlintasan KRL seantero Jabotabek. Sebuah  rutinitas di sebuah sore yang kebetulan tidak diguyur hujan deras. Semua  menunggu kereta yang segera lewat. Sebuah KRL kelas ekonomi, bukan sebuah  kereta kencana yang megah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-family:georgia;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="font-family: georgia;font-family:georgia;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Normalnya, KRL akan melintas  dalam waktu 2 sampai 3 menit setelah palang diturunkan dan semua kendaraan  akan merangsak maju dalam kemacetan yang menjadi semakin parah seiring  senja menjelang. Tuing-tuing-tuing. Sudah lewat 3 menit, tapi kereta  masih tak nampak batang hidungnya. Jangankan batang hidungnya, desis  dan lengkingnya yang menggetarkan tak sedikit pun terdengar. Orang-orang  mulai kesal dan marah. Deretan bermacam kendaraan semakin menyemut panjang. Lima menit berlalu bersama bunyi ‘tuing-tuing-tuing’ yang depresif.  Irama monoton itu hanya bisa ditoleransi pendengaran sebagai bunyi yang  lucu paling lama 2 menit saja. Lewat dari 2 menit, bunyi itu menjadi  jarum tajam yang menghunjam-hunjam gendang telinga. Menambah stres  dan kemarahan yang terus menggumpal setiap hari di jantung dan otak  warga Jakarta. Klakson pun mulai melengking-lengking seperti lolongan  anjing melihat setan dan iblis. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;font-family:georgia;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kereta tak jua lewat. Senja  memerah oleh gumpalan kemarahan. Para pengendara motor mulai menerobos  palang perlintasan. Sebagian sambil memaki-maki. Tuing-tuing-tuing.  Palang perlintasan bergerak naik-turun oleh para penerobos yang mengangkatnya  berkali-kali. Seorang kekasih mungkin menunggu mereka, membuat mereka  panik dan tak peduli lagi pada bahaya. Itulah cinta dalam tahap dan  kadar tertentu. Pengendara lain mungkin panik karena sebuah kesempatan  mendapatkan order atau projek bisa lenyap karena kereta (bukan) kencana  yang tak jua melintas itu. Sudah 10 menit berlalu saat semakin banyak  pengendara motor menerobos perlintasan. Satu-dua angkot juga bergerak,  nekat menerobos mengikuti pengendara motor. Antrian kendaraan sudah  mencapai ratusan meter panjangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;font-family:georgia;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu setelah sekitar 15 menit,  palang perlintasan terangkat ke atas bersamaan dengan raungan mesin  dan klakson yang membabi buta. Semua merangsak maju dan mencoba menyerobot  dengan penuh kemarahan. Kereta (bukan) kencana itu ternyata tidak jadi  lewat! Semua orang merasa terkecoh. Semua orang merasa ditipu mentah-mentah  oleh KRL yang, entah kenapa, tak jadi lewat itu. Saya, yang kebetulan menjadi  bagian dari massa terkecoh itu, seketika paham mengapa kereta Sembrani  bertabrakan minggu lalu. Saya juga seketika paham mengapa kereta (bukan)  kencana lainnya menabrak metro mini kemarin siang. Saya seketika sedikit  lebih paham mengapa kerap terjadi kecelakaan kereta di negeri tercinta  ini. (frg)   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family: georgia;font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Ps. Saya turut berduka cita  sedalam-dalamnya untuk semua keluarga korban kecelakaan kereta Sembrani  dan KRL Pakuan Ekspres yang terjadi sepanjang pertengahan April 2006. Semoga tak  lagi terjadi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-114541693073535597?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/114541693073535597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=114541693073535597&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114541693073535597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114541693073535597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/04/kereta-bukan-kencana.html' title='Kereta (bukan) Kencana'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-114477282697800852</id><published>2006-04-11T08:44:00.000-07:00</published><updated>2006-04-11T09:27:07.096-07:00</updated><title type='text'>Playboy Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Catatan Rabu Pagi 23&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Mengapa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Playboy &lt;/span&gt;Indonesia menjadi  sesuatu yang dihebohkan? Adakah alasan yang masuk akal (&lt;span style="font-weight: bold; font-family: arial;font-size:180%;" &gt;logis&lt;/span&gt;) untuk  penolakan terhadap majalah itu, selain karena dianggap sebagai ikon pornografi  Amerika?"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebenarnya, bahkan alasan “ikon pornografi Amerika” pun  masih sangat bisa diperdebatkan kelogisannya. Salah satu hal yang diangkat  sebagai titik lemah dari pihak manajemen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Playboy &lt;/span&gt;Indonesia oleh para  pemrotesnya adalah penjualan. Tadinya, dalam sebuah kesepakatan tidak  tertulis dengan sejumlah pihak pemrotes, manajemen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Playboy &lt;/span&gt;konon sempat  menyatakan tidak akan menjualnya di tempat-tempat asongan umum. Tapi  pada hari edar pertama, setidaknya selama satu hari, para pengasong  menjajakannya di jalanan. Ini membuat para pemrotes, seperti Majelis  Mujahiddin dan kawan-kawan seperjuangannya, berang dan mengibarkan bendera  perang. Tapi pada hari kedua, sudah tidak terlihat lagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Playboy &lt;/span&gt;dijajakan  di jalanan.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya tidak tahu kenapa. Ada  kemungkinan majalah itu habis dibeli oleh para peminatnya yang sudah  sekian lama menunggu-nunggu. Ada kemungkinan majalah itu disembunyikan  oleh para pengasong karena takut  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sweeping &lt;/span&gt;yang akan dilakukan para pemrotes.  Ada juga gabungan 2 kemungkinan itu, sebagai kemungkinan ketiga. Apapun  ceritanya, majalah itu lenyap dari jalanan pada hari kedua dan juga  dari para pengecer di lapak-lapak mereka di pinggiran jalan, terminal,  stasiun, maupun pengecer di mal-mal. Hmm, seandainya saya jadi pengelola  majalah itu, saya akan buru-buru mencetak lagi puluhan atau ratusan  ribu eksemplar. Bukan karena apa-apa, tapi lebih karena saya realistik.  Hipotesa realistik saya adalah: majalah itu diminati banyak orang. Majalah  itu juga tidak mengandung gambar perempuan telanjang yang menggoda syahwat.  Jadi, mengapa harus mundur? Kenyataan ini saya duga menjadi dasar mengapa  manajemen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Playboy &lt;/span&gt;berani menjualnya di jalanan pada hari pertama. Lantas  mengapa di hari kedua majalah itu lenyap dari jalanan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebetulan, saya menjadi salah  seorang yang diminta menulis untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Playboy &lt;/span&gt;Indonesia edisi perdana itu.  Sebagai salah seorang kontributor saya tidak keberatan majalah itu tetap  dijual di jalanan, tentu selama isinya tidak vulgar. Saya benar-benar  tidak dapat menemukan satu saja alasan logis dari penolakan terhadap  majalah itu. Dalam somasi yang diajukan oleh kelompok Mujahiddin Indonesia,  salah satu dasar pemikiran yang diajukan adalah “gambar porno” yang  bisa merusak moral bangsa (apakah orang-orang menjadi koruptor gara-gara  gambar porno?), mengancam eksistensi manusia (apakah para pemikir dan  filsuf pernah mengemukakan teori eksistensialisme semacam ini?), dan  (hebatnya) mengakibatkan penyakit kelamin. Ck-ck-ck…. Gambar porno  macam apakah yang bisa punya kekuatan sedahsyat itu? Tapi kita tidak  bisa membahas “gambar porno mahasakti” itu, karena faktanya, tidak  ada gambar porno dalam majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Playboy &lt;/span&gt;Indonesia, apalagi bila definisi  porno yang dirujuk adalah perempuan telanjang dengan pose-pose menggoda  dan menantang.      &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam logika (lagi-lagi logika)  sederhana, tidak mungkin majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Playboy&lt;/span&gt; Indonesia menjadi porno, hanya  karena namanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Playboy&lt;/span&gt;, padahal isinya tidak memuat materi porno.  Sesuatu bisa disebut dan dikategorikan porno bila memang substansinya porno. Artinya,  harus dibedakan dengan jelas terlebih dahulu, apa sebenarnya yang diributkan?  Apa sebenarnya yang dilawan? Perlawanan terhadap pornografikah, atau  perlawanan terhadap Amerika yang melahirkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Playboy&lt;/span&gt;?  Ini dua hal  yang berbeda. Dan sebaiknya memang tidak dicampuradukkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kejernihan  berpikir dan kedewasaan bersikap barangkali bisa menjadi pelajaran penting  bagi siapapun dewasa ini. Hanya kejernihan berpikir dan kedewasaan bersikap  yang bisa menjadi jaminan sebuah masyarakat demokratis yang kita cita-citakan  bersama. Hanya dengan pikiran jernih dan sikap dewasalah, kita akan  mampu membedakan mana persoalan penting, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;urgent, &lt;/span&gt;dan substansial, dan  mana yang bukan.  (frg)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-114477282697800852?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/114477282697800852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=114477282697800852&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114477282697800852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114477282697800852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/04/playboy-indonesia.html' title='Playboy Indonesia'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-114360730125933742</id><published>2006-03-28T20:12:00.000-08:00</published><updated>2006-03-28T20:41:41.303-08:00</updated><title type='text'>Buku untuk Tuna Netra</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;catatan Rabu Pagi 22&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebelumnya, saya tidak pernah berpikir atau memikirkan buku bacaan untuk teman-teman kita yang tunanetra. Mungkin banyak penulis lain juga begitu. Tak terpikir atau tak tahu betapa mereka yang tunanetra (melalui buku-buku Braille atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;audio  book&lt;/span&gt;) membutuhkan berbagai macam bacaan untuk memperkaya wawasan  ataupun sekadar menghibur. Tak terpikir bisa karena tidak sengaja tak  peduli (saya percaya siapa pun seharusnya peduli pada orang dengan 'kekurangan', jadi  kalau ada yang tak peduli, maka semestinya itu adalah sebuah ketaksengajaan),  atau karena tak cukup pengetahuan dan interaksi dengan para tunanetra. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beruntunglah saya bisa berkenalan  dan berkesempatan membantu teman-teman tunanetra yang tergabung dalam  Yayasan Mitra Netra seperti Mas Irwan dan Mas Tolhas. Perantaranya adalah  penulis novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sihir Cinta &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ungu Violet&lt;/span&gt;, Miranda, dan staf Yayasan  Mitra Netra, Indah. Miranda yang pertama kali menjadi relawan dan memberikan  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;soft copy &lt;/span&gt;novelnya pada Yayasan Mitra Netra untuk di-Braille-kan. Sebuah  langkah awal yang kemudian memengaruhi saya dan sejumlah penulis lainnya  untuk mengontribusikan&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;soft copy&lt;/span&gt; novel-novel karya kami pada Yayasan  Mitra Netra, untuk dibuatkan versi Braille-nya. Selanjutnya teman-teman  tunanetra akan bisa menikmati lebih banyak novel sebagai bacaan mereka.  Yayasan Mitra Netra akan menyediakannya melalui perpustakaan-perpustakaan  khusus untuk teman-teman tunanetra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejauh ini, sejumlah novelis  yang telah menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan karya mereka, selain  Miranda dan saya, antara lain adalah Dewi “Dee” Lestari, Adhitya  Mulya, Fira Basuki, Ninit Yunita, Icha Rahmanti, Yenni Hardiwidjaya,  Nova Riyanti, dan saya yakin akan diikuti oleh penulis-penulis lainnya.  Penulis mana pun yang dihubungi saya duga pasti akan bersedia membantu  teman-teman tunanetra melalui karya-karya mereka. Dan saya bersama  teman-teman penulis di atas akan mencoba menghubungi sebanyak mungkin  teman penulis lain sebagai tindak lanjut dari langkah awal ini. Yayasan  Mitra Netra sendiri menargetkan memiliki seribu judul buku sebagai  bacaan untuk teman-teman tunanetra. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Untuk soal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;copyright&lt;/span&gt;, para  pengaranglah pemegang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;copyright&lt;/span&gt; sebuah karya. Penerbit hanya  memiliki hak penerbitan dalam bentuk buku biasa (bukan Braille). Pengarang  tidak perlu meminta ijin penerbitnya untuk menyerahkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;soft copy&lt;/span&gt; naskah untuk di-Braille-kan. Pengarang hanya perlu menginformasikan saja pada penerbitnya yang seharusnya juga berbangga dan mendukung upaya ini. Penerbit yang mengambil sikap ini dan ikut bekerja sama dengan Mitra Netra, antara lain adalah GagasMedia. Saya percaya, penerbit lain akan bersikap sama. Saya juga sangat yakin semua orang sependapat bahwa teman-teman tunanetra punya kebutuhan bacaan yang sama dengan orang yang memiliki mata sehat, bahkan lebih. Bacaan akan membantu mereka melihat dunia. Mari kita bergandeng tangan untuk menyediakan buku bacaan bagi tunanetra! (frg)   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-114360730125933742?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/114360730125933742/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=114360730125933742&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114360730125933742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114360730125933742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/03/buku-untuk-tuna-netra.html' title='Buku untuk Tuna Netra'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-114308603400794803</id><published>2006-03-22T19:41:00.000-08:00</published><updated>2006-03-22T20:00:41.720-08:00</updated><title type='text'>Kado Kecil Buat Kontras</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;" &gt;Catatan Rabu Pagi 21&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;p  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Senin petang, 20 Maret 2006, di Hotel Ibis Tamarin, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan merayakan hari jadinya yang ke-8. Hadir dalam acara itu, selain keluarga korban berbagai kasus orang hilang dan korban kekerasan, sejumlah tokoh. Ada Asmara Nababan, Zumrotin, Teten Masduki, MM Billah, Stanley, istri almarhum Munir, Suciwati, dan para aktivis muda seperti Johnson Panjaitan, Mugiono, dan Usman Hamid. Setelah sambutan-sambutan dan pemotongan tumpeng, digelarlah sebuah diskusi sebagai acara utama perayaan sewindu Kontras tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tentu sah-sah saja merayakan ulang tahun dengan menggelar acara diskusi, apalagi yang punya hajat adalah Kontras. Tapi untuk apa? Beberapa waktu sebelumnya pada awal bulan Maret, di Bentara Budaya Jakarta, ada acara bertema “Dialog dalam Ekstrimitas” selama tiga hari berturut-turut. Acara yang digelar oleh Yayasan SET ini juga menghimpun sejumlah tokoh untuk berdiskusi dan berdialog membahas berbagai persoalan bangsa Indonesia. Ada selingan-selingan performans dan ekspresi kesenian lainnya. Garin Nugroho, sebagai pemimpin Yayasan SET, mengadakan acara ini, selain sebagai bentuk keprihatinan pada situasi aktual yang ada, juga dalam rangka perayaan sekian ratus tahun Amadeus Wolfgang Mozart. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada hari dan jam yang sama dengan perayaan sewindu Kontras, saya juga menerima sms undangan untuk ikut berdiskusi bersama WS Rendra dan kawan-kawan dengan tema RUU Pornografi dan Pornoaksi. Di tempat lain lagi, sejumlah teman membahas situasi terakhir di Abepura sehubungan dengan kasus Freeport. Begitu rumit persoalan-persoalan yang berseliweran dari hari ke hari, mengacak-acak hidup kita, meneror, memorak-morandakan, dan akhirnya mentok di jalan-jalan buntu sepanjang aliran darah di tubuh kita. Menjadi racun yang mengendap perlahan tanpa kita rasakan sebelum akhirnya membunuh kita. Kita menikmati racun itu sama halnya dengan nikotin dan tar dalam beribu-ribu batang rokok. Kita mendapatkan kenikmatan dari racun itu sampai menjadi tak berdaya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sewindu adalah waktu cukup panjang untuk sebuah lembaga dengan kekuatan dan keberanian seperti Kontras, yang dipelopori dan dimotori oleh kawan Munir. Seharusnya, kawan Munir menjadi orang yang paling berbahagia dalam acara perayaan sewindu itu. Seharusnya! Artinya saya tidak tahu apakah di alam lain konsep kebahagiaan yang berlaku serupa atau tidak dengan konsep kebahagiaan di dunia ini. Apakah di dunia lain juga ada racun yang dengan sadar kita jadikan sebagai kebutuhan utama bagi keberlangsungan hidup kita? Saya tidak tahu. Ya, saya tidak tahu, karena seperti halnya judul laporan tahunan Kontras 2005, “Penegakan Hukum dan HAM Masih Gelap”. Gelap! Suram!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam kegelapan, siapa pun tidak bisa banyak tahu. Dalam kegelapan siapa saja harus menajamkan mata dan meraba-raba untuk sekadar melihat siluet atau bentuk-bentuk kekerasan yang ada dan terus terjadi. Tidak mudah untuk melihat iblis yang menyeringai dalam diri kita sendiri. Musuh utama setiap perjuangan menurut kebijakan dari Sidharta Gautama adalah diri sendiri. Sebelum mengalahkan orang lain dengan jalan damai, kita harus bisa mengalahkan diri sendiri. Jika kita mampu mengalahkan diri sendiri, kita akan bisa bersatu padu memerangi persoalan-persoalan bersama yang ironisnya selalu memecah belah kita dalam kelompok-kelompok. Padahal jelas persoalan apa pun yang kita hadapi sekarang, adalah persoalan bersama. Setidaknya sebagai satu bangsa yang sejarah kemerdekaannya digerakkan oleh semangat persatuan. Ironisnya, kini kita begitu mudah dipecah-belah oleh isu apa pun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Kondisi sekarang, yang terjadi karena rekayasa kekuasaan selama berpuluh-puluh tahun, adalah tanggung jawab semua orang, dan untuk urusan kekerasan negara, baik yang struktural maupun tidak, terutama adalah tanggung jawab lembaga seperti Kontras. Selamat ulang tahun Kontras. Perjalanan masih panjang. Perjuangan tak boleh berhenti sampai kapan pun! (frg)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-114308603400794803?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/114308603400794803/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=114308603400794803&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114308603400794803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114308603400794803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/03/kado-kecil-buat-kontras.html' title='Kado Kecil Buat Kontras'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-114240318747282246</id><published>2006-03-14T21:39:00.000-08:00</published><updated>2006-03-14T22:30:38.213-08:00</updated><title type='text'>Pelajaran Biologi</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Catatan rabu pagi  20 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;    &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Biologi – khususnya embriologi – mengajarkan bahwa alat kelamin adalah derivat perkembangan jaringan ginjal, sarana pembuangan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh. Karena itu, paling tidak untuk remaja, mestinya diajarkan bahwa seks seharusnya terkait dengan cinta. Jika tidak, seks akan menjadi sekadar saluran pembuangan belaka karena organ-organnya tepat berada di sekitar, atau bersama organ pembuangan. Maka dari itu – anehnya – cinta yang dianggap agung dan suci (baca lirik-lirik lagu romantis-cengeng) ternyata lalu terkait dengan organ-organ yang memalukan dan mungkin karena itu akhirnya dinyatakan tabu. Begitu kompleks alam itu. Begitu terkecohnya kita. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;    &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada saat kita jatuh cinta (belum tentu benar terjadi), lalu cinta terkait dengan birahi (yang baru tampil kemudian, atau terbalik: birahinya dulu, cintanya hanya ilusi), kita telah menjadi korban rekayasa alam, yang bila tugas &lt;i&gt;coitus&lt;/i&gt; atau sanggama terlaksana, &lt;i&gt;doorprize&lt;/i&gt; yang diperoleh adalah kenikmatan sensoris dengan klimaks orgasme. Demikian patuhnya perilaku kita berpola sesuai dengan rekayasa alam. Jadi tidak benar bahwa alam itu buta. Alam itu arif, banyak akalnya dan menjadi pusat kebudayaan manusia. Alam melaksanakan rekayasa dan tidak peduli adil atau tidak. Ada kekuasaan yang sangat besar di dalam alam, mungkin kekuasaan Tuhan. Tapi kita sedang belajar biologi di sini, jadi tak usahlah kita bicara tentang Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;    &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kemudian Biologi mestinya juga menjabarkan perbedaan bentuk jantan-betina pada manusia, diawali dengan anatominya yang berbeda (paling-paling oleh &lt;i&gt; “conditioning”&lt;/i&gt; yang berbeda pula). Ini tidak mudah karena menyangkut nilai-nilai. Maksudnya aspirasi pria-wanita masing-masing dapat berbeda meskipun sama-sama menginginkan masyarakat adil makmur dan rumah tangga yang disebut harmonis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;    &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pelajaran biologi dapat bertitik tolak dari soal pendewasaan organ seks terlebih dahulu. Bila perempuan mengalami menstruasi, berarti potensial dia bisa hamil, sedangkan pada laki-laki ereksi sudah dapat menghasilkan ejakulasi, spontan atau tidak. Ejakulasi yang spontan dan berlangsung di luar kesadaran terjadi dalam &lt;i&gt;wet dream, &lt;/i&gt;lewat mimpi, sedangkan yang disadari dan disengaja mungkin lewat masturbasi. Akan tetapi dalam kedua kasus itu terlihat suatu dorongan atau kebutuhan fisik yang kurang lebih jelas, dan terfokus pada organ-organ seks secara jelas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;    &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa yang terjadi di kehidupan manusia saat ini, terutama di kota-kota besar, memperlihatkan betapa seks menjadi gelombang besar yang melanda kehidupan setiap manusia. Kita tiba-tiba saja telah tenggelam di dalamnya, persis seperti kita tenggelam dalam gelombang konsumerisme dan hedonisme yang dihantamkan badai kapitalisme ke segenap penjuru dunia. Seks juga telah menjadi lautan semacam konsumerisme dan hedonisme. Ada pusaran-pusaran yang bisa menarik dan menenggelamkan siapa pun yang masuk ke dalamnya. Seks memang bukan semata-mata pelajaran biologi meski perkara dasarnya biologis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: georgia; text-align: justify;"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tidak ada batas yang jelas antara lautan hedonisme, lautan konsumerisme, dan lautan seks. Ketiganya adalah lautan tanpa batas. Muaranya mungkin adalah keserakahan dalam jiwa setiap manusia. Jadi yang perlu diperangi sebenarnya adalah keserakahan, bukan ekspresi kebudayaan manusia dalam berbagai bentuknya yang justru memperkaya kehidupan. Ini mirip dengan kenyataan bahwa organ-organ seks kita terletak di wilayah pembuangan, tapi seks sendiri terkait dengan cinta sebagai sesuatu yang suci dan luhur. Nah, pelajaran biologi ini mungkin terlewatkan oleh para penyusun RUU APP.&lt;/span&gt; [&lt;span style="font-size:100%;"&gt;frg]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-114240318747282246?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/114240318747282246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=114240318747282246&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114240318747282246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114240318747282246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/03/pelajaran-biologi.html' title='Pelajaran Biologi'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-114183988867433003</id><published>2006-03-08T09:26:00.000-08:00</published><updated>2006-03-08T09:44:48.713-08:00</updated><title type='text'>Memahami Seksualitas, Menolak RUU APP</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#336666;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Catatan Rabu Pagi 19&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak akan ada lagi ekspresi seksualitas sekecil apa pun. Tidak akan ada lagi pornografi. Mungkinkah? Dua kata yang tidak atau belum tentu dipahami dengan benar itu, kini menjadi materi penting dalam Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. &lt;span style="font-size:130%;color:#333399;"&gt;Pornoaksi&lt;/span&gt; sendiri tergolong kosakata baru. Tak jelas apa definisinya. Tentu bahasa memang sesuatu yang hidup dan berkembang, tapi ini wilayah dan pekerjaan para sastrawan atau para linguis, bukan wilayah para anggota DPR, agamawan, atau kaum moralis. Apalagi kaum hipokrit. Mereka semua tidak bisa serta-merta menuliskan sebuah kosakata dengan pengertian tambal sulam macam tukang tambal ban untuk sebuah rancangan undang-undang.&lt;br /&gt;Sebuah RUU seharusnya bertumpu pada kebenaran-kebenaran substansial dari berbagai wilayah pemikiran. Pada objek seksualitas, cakupan bahasannya menjadi sangat luas karena seks memang memiliki korelasi langsung dengan berbagai aspek kehidupan sosial-politik-budaya (relasi eksternal) dan berbagai dimensi dalam eksistensi manusia (relasi internal) seperti biologis, psikologis, kimiawi, medik, dan bahkan aspek relijius atau spiritual. Seks dalam aspek sosialnya adalah berbagai bentuk hubungan antara dua orang manusia, baik antara lelaki dan perempuan (heteroseksual), perempuan dengan perempuan atau lelaki dengan lelaki (homoseksual), sebagai bagian dari suatu masyarakat. Ada tarik-menarik, ada ketegangan, ada toleransi, ada perjodohan, dan juga ada “penyimpangan-penyimpangan”. Secara gampangnya, berbicara tentang seksualitas adalah berbicara tentang hubungan antara satu orang dengan orang lainnya dalam berbagai ekspresi personal yang muncul sebagai dorongan kodrati manusia sebagai mahkluk sosial.&lt;br /&gt;Secara politis, seks adalah objek yang sangat diperlukan oleh rejim kekuasaan mana pun karena bisa menjadi alat kontrol perilaku rakyat yang efisien, efektif, dan mengakar jauh dalam kehidupan setiap orang. Bagaimana seks bisa menjadi alat kontrol kekuasaan terhadap rakyat? Kontrol dimulai sejak seorang manusia dilahirkan. Seseorang harus dilahirkan dalam sebuah lembaga bernama perkawinan, karena jika seseorang lahir di luar lembaga perkawinan, ia akan sulit mendapatkan surat kelahiran. Ia akan disebut sebagai anak haram. Ini adalah bentuk kontrol kekuasaan melalui objek seksualitas secara langsung. Tak seorang pun mau dan senang dicap sebagai anak haram. Selanjutnya, kekuasaan melalui norma-norma agama, sosial, atau moralitas lainnya, akan terus mengontrol seseorang melalui perilaku seksualnya.&lt;br /&gt;Untuk urusan kebudayaan, seks boleh dibilang menjadi fondasi terpenting yang membentuk kebudayaan sebuah masyarakat. Mulai dari tinjauan kosmologis sampai metafisika, sebuah kebudayaan pasti berdasarkan pada pola hubungan antara manusia dengan alamnya yang menghasilkan berbagai bentuk ekspresi yang mencerminkan hubungan tersebut. Saat berhadapan dengan alam semesta, manusia harus mengatur kehidupannya agar tidak merusak atau menghancurkan alam. Harus ada upaya untuk menjamin keberlangsungan kehidupan bersama antara manusia dengan alamnya. Untuk sesama manusia hal ini berkaitan langsung dengan seksualitasnya. Seks sebagai kegiatan pro-kreasi atau regenerasi. Dalam konteks ini, seks dipahami sebagai harmoni hasil peleburan dualisme berbagai unsur yang terdapat pada alam semesta. Langit-bumi, siang-malam, terang-gelap, baik-buruk, lelaki-perempuan, dst-dst.&lt;br /&gt;Rumit? Mungkin memang rumit, dan justru karena itulah mengatur pornografi juga adalah perkara yang pelik. Perkara yang tidak bisa secara gegabah diatur berdasarkan satu-dua aspek saja dari seksualitas. Itu baru bicara sekilas tentang relasi-relasi eksternal dari seksualitas. Mau lebih rumit? Mari kita masuk ke relasi-relasi internal dari seksualitas. Pertama kita harus berbicara tentang seluruh nilai yang mengendap dalam diri kita sebagai manusia yang unik. Artinya, kita tidak bisa menyamakan orang Sunda dengan orang Batak atau orang Jawa dengan orang Manado atau orang Islam dengan orang Hindu. Aspek pertama dari seksualitas dalam wilayah internal eksistensi kita, adalah bicara tentang tubuh. Tubuh sebagai syarat mutlak sebuah ekspresi dan fungsi seksualitas kita. Apakah tubuh itu sepenuhnya hak kita yang tak bisa diganggu gugat? Apakah tubuh itu milik para dewa di langit ketujuh? Setiap kebudayaan memiliki pandangannya sendiri yang mungkin berbeda satu sama lain. Dan semua pandangan itu sah adanya.&lt;br /&gt;Jika pada abad milenium ini, tiba-tiba nyelonong sebuah RUU APP yang bermaksud mengatur ekspresi seksualitas secara keseluruhan dan menggeneralisirnya berdasarkan satu pandangan saja, maka tidak bisa tidak, hal itu harus ditolak! Saya tidak meragukan niat baik yang melandasi pemikiran tentang RUU APP tersebut, tetapi niat baik itu bisa menjadi sebuah bencana bagi kehidupan yang wajar dan manusiawi yang telah berlangsung selama berabad-abad dalam berbagai ragam kebudayaan di seluruh belahan dunia. Dalam budaya pop di dunia modern saat ini, apa yang terjadi sebenarnya juga telah terjadi dalam budaya klasik nenek moyang kita. Jadi jika kita melihat anak-anak remaja berpakaian &lt;em&gt;tanktop &lt;/em&gt;yang memperlihatkan pusar, sebenarnya tak ada bedanya dengan kita melihat eyang putri kita di pekarangan rumah memakai kebaya tanpa &lt;em&gt;stagen&lt;/em&gt; yang juga membuat udelnya terlihat. Jika kita melihat gambar tubuh perempuan seronok di tabloid-tabloid panas, maka ribuan tahun lalu pun kita bisa melihatnya di pahatan dinding-dinding candi Sukuh.&lt;br /&gt;Yang paling penting dalam menyikapi keterbukaan zaman yang telah membuat seks menjadi sebuah komoditas unggulan, adalah &lt;span style="font-size:130%;color:#333399;"&gt;pemahaman&lt;/span&gt; terhadap seksualitas yang baik dan menyeluruh. Bukan mengekang, melarang, memberangus, dan membunuh ekspresi-ekspresi seksualitas yang masih normal dalam ranah publik. Ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah apa pun! Ini hanya akan memicu berbagai masalah dan konflik horisontal yang bisa mengakibatkan perpecahan! Yang diperlukan adalah penegakan hukum. Supremasi hukum yang menjamin hak dan kewajiban setiap orang secara adil, tegas, dan berwibawa. Supremasi hukum yang menjamin hak hidup setiap kebudayaan dan menindak orang-orang yang mencoba merusaknya.&lt;br /&gt;Dengan hukum semacam itu, kita tak perlu khawatir akan ada orang melakukan perkosaan hanya karena melihat goyang ngebor Inul atau melihat penari Jaipong melenggak-lenggok. Itulah yang perlu dicegah, bukan justru memberangus Inul dan para penari Jaipong. Saya yakin kita tidak sebodoh itu. Saya percaya, kita dianggap sebagai bangsa besar karena kebudayaan besar yang kita warisi dari nenek moyang kita. Saya rasa kita tak akan membiarkan warisan besar, yang menjadikan kita sebagai bangsa yang dianggap besar itu, direnggut oleh rancangan undang-undang yang salah kaprah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#336666;"&gt;Mari kita tolak RUU APP! (frg -- setelah lima minggu absen)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-114183988867433003?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/114183988867433003/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=114183988867433003&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114183988867433003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/114183988867433003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/03/memahami-seksualitas-menolak-ruu-app.html' title='Memahami Seksualitas, Menolak RUU APP'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-113876754885219293</id><published>2006-01-31T20:15:00.000-08:00</published><updated>2006-01-31T20:19:08.866-08:00</updated><title type='text'>Orang-Orang Pilihan (2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;Catatan rabu pagi 18&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Samaah Idris adalah seorang penulis buku anak di Lebanon. Berbeda dengan penulis buku anak di Indonesia yang umumnya berlatar belakang guru, ibu rumah tangga, atau pegawai biasa di sebuah instansi, Samaah Idris adalah seorang aktivis radikal penentang imperialisme baru dari negara-negara Barat. Ia melakukan banyak aksi boikot terhadap produk-produk Amerika, termasuk Coca Cola dan McDonald. Saya terperangah. Saya mengenal dan berteman baik dengan banyak aktivis Indonesia yang juga menentang imperialisme baru dan banyak dipengaruhi pemikiran sosialis, tapi rasanya saya tidak pernah mendengar wacana pemboikotan semacam itu. Mungkin karena persoalan politik yang sama sekali berbeda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dalam obrolan saya dengan Samaah, saya sempat bertanya “Apa ada artinya gerakan boikot semacam itu?”. Jangan-jangan hanya sekadar gerakan anti-Amerika tanpa makna dan manfaat. Samaah, dengan sedikit tersinggung menjelaskan, bahwa gerakan boikot semacam itu adalah sebuah perlawanan yang sangat substansial terhadap penyebaran nilai-nilai baru melalui berbagai bentuk gaya hidup. Boikot yang dilakukannya adalah sebuah gerakan kebudayaan. Samaah Idris sangat khawatir negara-negara Timur akan kehilangan kebudayaan dan nilai-nilai kehidupan yang mendasari masyarakatnya. Kita pun kerap mendiskusikan tema ini dalam berbagai bidang kehidupan. Saya paham, tapi tetap tidak paham mengapa aktivis-aktivis teman baik saya tidak seserius Samaah dalam wacana ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;“Kita harus berani membatasi diri. Kalau kita memang tidak perlu minum Coca Cola mengapa kita harus meminumnya juga?” Itulah kunci gerakan boikot sebagai gerakan kultural yang pernah dilakukan Samaah Idris. &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-size:130%;" &gt;Berani membatasi diri&lt;/span&gt;. Ini adalah kata kunci untuk menentang dan melawan racun keserakahan yang disebarkan oleh kapitalisme dan konsumerisme. Bisakah kita melakukannya? Saya ingin mengajukan pertanyaan ini pada Anda semua, pada siapa saja yang kebetulan mampir di blog saya di Rabu pagi ini. Bisakah kita menolak Mercedes Benz dan merasa cukup hanya dengan sebuah Minibus?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Saya tidak tahu apakah kita bisa atau tidak. Tapi seorang pemilik warung makan tenda di  sebuah gang di Jl. Kaliurang, Jogjakarta, jelas bisa melakukannya. Warung tenda itu menyajikan menu nasi goreng Magelangan seharga tiga ribu rupiah, cah kangkung tiga ribu lima ratus rupiah, fu yung hai seharga cah kangkung, dan menu-menu lainnya dengan harga sekitar Rp 3000,-.  Saya terperangah, sama seperti saya terperangah oleh Samaah Idris. Dengan rasa masakan yang sungguh enak (ini terbukti dari antrian panjang pembeli), dan mengingat harga semua bahan pokok yang melambung tinggi, seharusnya dia cukup memiliki alasan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sufficient reason&lt;/span&gt;) untuk sedikit menaikkan harga makananya menjadi rata-rata 5000 perak, misalnya. Tapi Bapak pemilik warung tenda itu tidak melakukannya, setidaknya sampai saya makan di warungnya pada tanggal 31 Januari 2006.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Saya tidak ingin mendramatisir apapun. Saya tidak akan memberi “gelar” pada si bapak pemilik warung sebagai “orang pilihan” (lagi pula siapa saya? Memangnya saya Rektor Universitas apa pakai memberi “gelar” segala?). Saya hanya ingin menceritakan tentang Bapak yang saya tidak tahu namanya itu karena saya kagum dan menghormatinya seperti saya kagum dan menghormati teman-teman aktivis saya di negeri tercinta ini maupun di Lebanon seperti Samaah Idris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;frg     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;ps: Maaf, minggu lalu saya absen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-113876754885219293?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/113876754885219293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=113876754885219293&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113876754885219293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113876754885219293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/01/orang-orang-pilihan-2.html' title='Orang-Orang Pilihan (2)'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-113755449968816525</id><published>2006-01-17T19:13:00.000-08:00</published><updated>2006-01-19T19:51:45.130-08:00</updated><title type='text'>Orang-orang Pilihan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-family: verdana;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Catatan Rabu Pagi 17&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Selalu ada orang-orang pilihan yang "ditugaskan" untuk melawan arus. Tidak selalu untuk hal-hal besar dan muluk. Mungkin hanya untuk sebuah perlawanan seperti kasus SUTET. Romli dan Jajang menjahit mulut mereka dan melakukan aksi mogok makan. Terhitung sampai saat ini (17 Januari 2006), sudah 19 hari kedua orang pilihan itu melakukan aksinya. Luar biasa. Mereka terkapar dan mempertaruhkan nyawa untuk menuntut keadilan yang menjadi hak mereka; sebuah ganti rugi untuk pembangunan saluran udara tekanan ekstra tinggi di tempat mereka. Sampai hari ke-19, protes mereka tak membuat pemerintah tersentuh dan melakukan sesuatu meskipun keadaan Romli dan Jajang sudah kritis.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p  style="text-align: justify; font-family: verdana;font-family:verdana;"&gt;Di bagian lain dunia, kita bisa menyebut Evo Morales, presiden terpilih Bolivia yang memotong separuh gajinya untuk membuktikan secara nyata bahwa kekuasaan tidak membutakan matanya. Tentu ini masih menuntut pembuktian panjang selama ia menjadi Presiden Bolivia. Hal serupa dalam skala yang lebih kecil terjadi juga di Kecamatan Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pemangku adat Kajang Dalam, Puto Pallasa, membongkar rumahnya agar menjadi lebih sederhana dan sama dengan rakyat kebanyakan begitu ia terpilih sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ammatoa&lt;/span&gt; atau pemangku adat sukunya. Ia melakukannya justru di saat hampir semua pejabat di Indonesia berlomba-lomba memperkaya diri begitu menduduki jabatan apa saja. Luar biasa. Pallasa adalah orang pilihan, sama halnya dengan Morales. Pallasa membuktikan kesungguhannya untuk hidup sederhana dan sama-sama mengalami apa yang dialami sukunya.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Di kalangan DPR kita yang begitu rakus akan kemewahan, muncul juga satu sosok bernama Jacobus Mayang Padang yang mengembalikan rapelan tunjangannya sebesar 50 juta rupiah. Jacobus juga jelas orang pilihan. Sama halnya dengan Jacobus yang dari PDI-P, di DPR juga ada Drajad Wibowo dari PAN, Nasir Djamil dan Andi Shalahuddin dari Partai Keadilan yang mengembalikan uang tunjangan sebesar 50 juta yang mereka terima ke masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/housing%20is%20a%20human%20right.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/housing%20is%20a%20human%20right.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Mereka semua adalah orang-orang pilihan yang sangat sedikit di masyarakat kita. Romli, Jajang, Pallaso, Jacobus, Drajad, Nasir, dan Andi. Jumlahnya memang hanya beberapa gelintir orang dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang 250-an juta orang. Tapi merasakan keberadaan mereka, melihat mereka ada, mendengar cerita mereka, saya merasa mendapat semacam kekuatan untuk terus berharap: akan masa depan yang lebih baik bagi rakyat Indonesia. &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;Ini adalah awal tahun. Saya rasa memulai awal tahun dengan inspirasi orang-orang pilihan seperti mereka, mungkin akan bisa menggerakkan kita semua untuk berani bersikap, untuk berani mengambil keputusan, dan untuk berani melawan arus yang tidak benar. Mari memerdekakan diri dari segala bentuk keserakahan, kerakusan, dan kesewenang-wenangan!&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; frg&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-113755449968816525?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/113755449968816525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=113755449968816525&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113755449968816525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113755449968816525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/01/orang-orang-pilihan.html' title='Orang-orang Pilihan'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-113695389876469887</id><published>2006-01-10T19:42:00.000-08:00</published><updated>2006-01-19T01:17:36.993-08:00</updated><title type='text'>Realita, Cinta, &amp; Rock n Roll</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Catatan Rabu Pagi 16&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selamat Tahun Baru 2006. Semoga keadaan akan lebih baik tahun ini meskipun bencana banjir bandang dan tanah longsor menjadi catatan pembuka tahun. Itulah realitas. Kerap kejam dan menyakitkan, tapi juga kerap dipenuhi kebahagiaan. Catatan rabu pagi di awal tahun 2006 ini adalah tentang film layar lebar ketiga karya Upi Avianto yang juga berkisah tentang realitas. Judulnya keren, “Realita, Cinta, &amp; Rock 'n Roll. Debut Upi adalah film “30 Hari Mencari Cinta” yang sukses mengangkat nama Nirina Zubir, si cantik yang mungil dan cerdas, di dunia perfilman nasional. Film keduanya masih bertema cerita cinta remaja yang ringan, "Lovely Luna". Tapi di film ketiganya, "Realita, Cinta &amp;amp; Rock n Roll", Upi berkisah tentang masalah yang lebih serius dan substansial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Memang tetap berada di realitas dunia remaja yang tengah mencari sebentuk kehidupan bagi dirinya, tapi dalam film ini drama kehidupan anak muda metropolitan tampil lebih utuh dan penuh gejolak. Urusan cinta hanya menjadi bagian yang mengikat cerita. Semacam benang merah bagi realitas yang diangkat Upi melalui tiga tokoh utama film tersebut yang menjadi korban dari suatu keadaan yang diakibatkan orang tua mereka. Tiga tokoh itu, Ipang, Nugie, dan Sandra, adalah anak-anak muda yang mencoba melakukan pemberontakan terhadap tatanan kehidupan yang mengungkung mereka. Ipang ternyata anak adopsi yang tidak jelas siapa orang tua kandungnya. Nugie, dibesarkan Ibunya yang janda, ternyata memiliki seorang ayah yang sudah menjadi transeksual. Waria. Dan Sandra ditinggal bunuh diri oleh ayahnya yang dililit hutang saat ia masih remaja. Ia kemudian harus mengurusi ibunya yang pemabuk dan sakit-sakitan sejak saat itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Semua itu adalah realitas yang diangkat sebagai tema cerita film "Realita, Cinta, &amp; Rock 'n Roll". Semua itu adalah realitas yang nyata dalam kehidupan modern di masyarakat metropolitan semacam Jakarta. Upi merangkum semua realitas getir dan menyakitkan itu dalam sebuah film yang menarik. Kemasan rock n roll sebagai bingkai cerita membuat film ini asyik ditonton dan tetap menghibur meskipun mengangkat tema yang sama sekali bukan sekadar hiburan. Angkat topi untuk Upi. Saya rasa dibandingkan dua filmnya yang terdahulu, film ini benar-benar berbeda dan merupakan sebuah pencapaian baru seorang Upi Avianto. Obsesi Ipang dan Nugie untuk menjadi rock star menghasilkan optimisme dan dinamisme yang kuat meskipun keseluruhan cerita adalah tentang realitas yang menyakitkan dan kejam. Inilah spirit rock 'n roll yang memang harus dikobarkan bagi anak-anak muda generasi sekarang semacam Ipang, Nugie, dan Sandra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/realita.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/realita.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Well, mungkin Anda semua, teman-teman yang suka membaca blog saya bertanya-tanya: lalu apa juntrungannya fx rudy gunawan ujug-ujug menulis tentang film Upi Avianto yang baru akan diedarkan pertengahan bulan Februari nanti? Mengapa ia seolah-olah menjadi humas atau PR-nya Upi? Mengapa? Pertama karena film ini bagi saya bagus dan layak ditonton sekaligus oleh anak-anak muda dan orang tuanya. Gap yang kerap membentang antara anak muda dan orang tuanya, mungkin bisa dijembatani dengan nonton bareng film ini. Kedua, dan ini adalah alasan yang terpenting: karena saya menulis novel adaptasi untuk film "Realita, Cinta, &amp;amp; Rock 'n Roll" karya Upi tersebut. Sungguh, sebelum menonton filmnya, Anda –-anak-anak muda dan para orang tua-- wajib membaca novelnya yang baru saja beredar di awal tahun 2006 ini. Dijamin tidak kecewa. Sekali lagi, selamat tahun baru! [frg]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-113695389876469887?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/113695389876469887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=113695389876469887&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113695389876469887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113695389876469887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2006/01/realita-cinta-rock-n-roll.html' title='Realita, Cinta, &amp; Rock n Roll'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-113566616186943902</id><published>2005-12-26T22:42:00.000-08:00</published><updated>2005-12-26T22:49:21.886-08:00</updated><title type='text'>Satu Tahun Tsunami Aceh</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: verdana; font-weight: bold;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Rabu Pagi 15&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Masih ingatkah Anda apa yang terjadi pada hari Selasa kemarin, tanggal 27 Desember setahun yang lalu? Mudah-mudahan kita semua tidak lupa dan tidak akan pernah melupakannya, karena pada hari itu sebuah bencana maha dasyat melanda hampir seluruh kawasan Aceh dan meluluhlantakkan bangunan peradaban dan kehidupan yang sekian ratus tahun tertata. Untuk mengenang dan mendoakan semua korban bencana Tsunami, pada catatan rabu pagi kali ini, saya mengutip satu bagian kecil dari novel “k-o-m-a” yang akan terbit tahun 2006, sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;div style="text-align: center; font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;4&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center; font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kematian&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Kamu takut mati?”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Mati?”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Ya, mati. Em-a-te-i.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      &lt;i&gt;Ratusan mayat berserakan. Membusuk. Sekawanan babi hutan menggerogoti sisa-sisa daging yang masih melekat di onggokan mayat. Orang-orang mengais-ngais, mencari cincin, jam tangan atau kalung emas yang masih lekat di mayat-mayat itu. Mereka menutup hidung dan mulut dengan lilitan kain seadanya. Handuk kecil, sobekan kaos, atau saputangan. Hanya mata yang nyalang mencari. Kilatan sorot mata dingin. Hitam. Mereka mengorek-ngorek mayat dengan potongan ranting, besi bekas payung, atau gagang sapu. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Mengapa kematian bisa senista itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Hei, aku cuma tanya kamu takut mati atau nggak. Aku nggak nanya soal kematian yang macam apa!”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Kematian, kematian….”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Ya, kematian! Takutkah kamu padanya?”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      &lt;i&gt;Ratusan mayat menumpuk, membentuk sebuah bukit mayat. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      &lt;i&gt;Sepasukan tentara dengan senapan laras panjang berujung bayonet berbaris mengelilingi bukit itu. Wajah mereka membesi, memantulkan kilatan petir yang membelah langit malam di hutan itu. Kesiur angin membawa jauh lolong serigala ke telinga setiap orang yang masih terjaga. Membuat ngilu hati yang mendengarnya. Gerimis menetes satu-satu, membasahi tubuh-tubuh terkapar dan jiwa-jiwa yang menggigil kedinginan.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      &lt;i&gt;Angin juga membawa lirih tangis bocah-bocah kecil yang ketakutan dan mencari ayah mereka. Tangis mereka begitu lirih. Membuat ngilu setiap hati yang mendengarnya….&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Aku tidak takut akan kematian.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “O ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Ya.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Bener, nih?”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Ya. Apa yang mesti kita takutkan?”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Bener juga ya, apa yang meski kita takutkan?”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Ya.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;" align="justify"&gt;      “Kita bahkan tak tahu mengapa kita harus takut pada kematian….”&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" align="center"&gt;      &lt;b&gt;♋▭�&lt;/b&gt;     &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Mudah-mudahan kutipan ini berguna sebagai bahan renungan bagi kita semua, di akhir tahun 2005 ini. &lt;b style="font-weight: bold;"&gt;(frg)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-113566616186943902?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/113566616186943902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=113566616186943902&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113566616186943902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113566616186943902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/12/satu-tahun-tsunami-aceh.html' title='Satu Tahun Tsunami Aceh'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-113505747765694407</id><published>2005-12-19T21:35:00.000-08:00</published><updated>2005-12-19T21:44:37.670-08:00</updated><title type='text'>I-B-U</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Catatan Rabu Pagi 14&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Senin kemarin, setiap saya mendengarkan siaran beberapa radio saat terjebak kemacetan Jakarta yang tak pernah berkurang, sejumlah penyiar membahas tema yang sama: Ibu. Ya, tanggal 22 Desember nanti adalah Hari Ibu. Saya langsung terkenang almarhumah ibu saya yang meninggal tahun 1994 karena kanker rahim. Ibu. &lt;span style="font-size:180%;color:#cc9933;"&gt;Mami&lt;/span&gt;. Mama. Bunda. Nyokap. Apapun dan bagaimanapun kita memanggilnya, tetap terasa kedalaman hubungan khas seorang ibu dengan anak-anaknya. Tetap terasa ketulusan cinta kasih seorang ibu pada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu saya adalah seorang &lt;span style="font-size:130%;color:#cc9933;"&gt;perempuan luar biasa&lt;/span&gt;. Seorang perempuan tangguh yang tetap tegar dalam hempasan badai kehidupan. Di saat kesulitan ekonomi menghantam, Ibu berjuang membantu ayah saya dengan berbagai usaha. Di saat krisis kepercayaan melanda diri ayah saya, Ibu menguatkannya dengan tetap berada di sisi Ayah dan anak-anaknya. Dia juga tegas dan berani. Ia selalu siap membela anak-anaknya dari ancaman dan bahaya apapun. Saya masih ingat betul bagaimana ia meminta saya untuk merayakan ulang tahun anak pertama saya di tengah penderitaannya yang menghebat oleh kanker jahanam itu. Saya juga masih ingat betul betapa saya kerap melukai hatinya tapi ia selalu memaafkan. Saya memang keras hati. Keras kepala. Tapi Ibu tetap menyayangi saya dengan tulus. Seperti syair lagu Iwan Fals.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Ribuan kilo jalan yang kau tempuh&lt;br /&gt;Lewati rintang untuk aku anakmu&lt;br /&gt;Ibuku sayang masih terus berjalan&lt;br /&gt;Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah&lt;br /&gt;Seperti udara kasih yang engkau berikan&lt;br /&gt;Tak mampu kumembalas&lt;br /&gt;Ibu…&lt;br /&gt;Ibu…&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mendengar celoteh para penyiar tentang Ibu sepanjang hari, saya rasanya benar-benar ingin menangis. Bayangan penderitaannya selama beberapa tahun melawan kanker rahim jahanam sebelum ajal menjemputnya, kembali menari-nari di benak saya. Tubuhnya yang habis digerogoti sel-sel kanker, rambutnya yang rontok habis akibat kemoterapi, dan kekuatannya menghadapi penyakit itu, muncul seperti rekaman video yang diputar &lt;em&gt;slow-motion&lt;/em&gt;. Saya pun tiba-tiba sadar, betapa banyak kesalahan yang telah saya lakukan selama hidupnya, betapa banyak saya menyakiti hatinya hanya karena kekeraskepalaan dan kekerashatian saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba-tiba sadar bahwa saya &lt;span style="font-size:130%;color:#999900;"&gt;belum cukup&lt;/span&gt; meminta ampun padanya. Tapi saya tahu, maaf dan ampun tidak lagi diperlukan sekarang. Apa yang penting adalah memenuhi harapan Ibu agar saya menjadi manusia yang berguna bagi sesamanya. Manusia yang berani berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Itulah seluruh harapan dan keinginan Ibu terhadap hidup saya. Tapi meskipun begitu, dalam kesempatan ini, melalui Catatan Rabu Pagi ini, saya untuk entah keberapa ribu kalinya, memohon maaf dan ampun kepadamu, IBU. (frg)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-113505747765694407?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/113505747765694407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=113505747765694407&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113505747765694407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113505747765694407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/12/i-b-u.html' title='I-B-U'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-113446714204086467</id><published>2005-12-13T01:38:00.000-08:00</published><updated>2005-12-13T01:45:42.056-08:00</updated><title type='text'>Saat Merenung</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;catatan rabu pagi #13&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Rabu ini, tanggal 14 desember 2005. Tanpa terasa tahun 2005 segera akan berakhir. Dua pekan lagi, persisnya. Waktu seperti berlari setiap kali kita memasuki sebuah penghujung tahun. Entah sudah berapa banyak hari-hari yang melelahkan, hari-hari yang menggembirakan, hari-hari yang menyedihkan, hari-hari penuh kemarahan, hari-hari stress, hari-hari penuh gairah, yang telah kita lalui. Kita mungkin sudah melupakan dan membuangnya ke keranjang sampah memori. Kita terlalu lelah dan penuh untuk membiarkan segala kenangan hidup di otak kita. Saya yakin Anda pasti tidak banyak ingat peristiwa yang Anda alami pada hari yang sama setahun yang lalu. Atau bahkan sebulan yang lalu di hari yang sama. Hanya peristiwa-peristiwa yang sangat penting atau sangat berkesan atau sangat luar biasa sajalah yang hidup cukup lama di memori kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap peristiwa yang berlalu segera menjadi kenangan yang hanya hidup di memori kita dan memori orang-orang yang ada dalam peristiwa itu. Mungkin memori itu hanya hidup satu-dua bulan saja, kecuali memori dan ingatan kita memang sangat kuat. Kita tak bisa menghadirkan kembali satu peristiwa masa lalu di kekinian. Kenyataan ini mungkin yang memunculkan fantasi atau obsesi pada mesin waktu (&lt;em&gt;time machine&lt;/em&gt;) dalam buku-buku atau film-film &lt;em&gt;science fiction&lt;/em&gt;. Kita tak memiliki kekuasaan atas waktu. Tidak secuil pun. Kita ada di dalam waktu. Waktu berkuasa sepenuhnya atas diri dan hidup kita. Kita hanya bisa mengisi waktu yang disediakan untuk kita sebaik-baiknya. Jadi waktu sebenarnya adalah sebuah ruang ekspresi yang disediakan untuk kita semua. Untuk mengekspresikan diri dan perbuatan kita. Untuk mengekspresikan karya dan pemikiran kita. Kita bisa memakai ruang ekspresi itu untuk apa saja. Kita bisa mengekspresikan kebaikan, kita juga mengekspresikan kebejatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sudah kita capai selama setahun ini? Biasanya, orang-orang memanfaatkan waktu di penghujung tahun untuk &lt;span style="font-size:130%;"&gt;merefleksikan&lt;/span&gt; waktu-waktu yang telah menjadi ruang ekspresi kita selama satu tahun. Pemikiran, evaluasi, refleksi, atau hanya sekadar mengingat-ingat. Seharusnya kita memang melakukannya, tapi ini pun tidak mudah. Kita lebih suka memilih berlibur dan berpesta di akhir tahun, dan cenderung memilih mencoba melupakan apapun yang telah kita alami selama satu tahun. Yang LALU biarlah BERLALU. Tentu saja kata-kata bijak itu telah diterapkan untuk satu situasi yang keliru. Kata bijak itu mengajarkan agar kita tidak mendendam, tidak mutung dan terpuruk dalam penyesalan, dan tidak terpenjara dalam masa lalu. Kata bijak itu bukan mengajarkan kita agar tidak berpikir tentang masa lalu. Masa lalu tetap harus dianalisa dan dievaluasi sebagai ruang ekspresi kita. Dengan cara ini, kita akan bisa menjadikan waktu sebagai ruang ekspresi yang lebih baik di masa mendatang. &lt;br /&gt;Akhir tahun memang seharusnya menjadi saat merenung yang serius tentang diri dan hidup kita. Kita bisa saja hidup sekadar mengalir dan menggelinding tanpa tujuan apapun, tapi kita hanya bisa hidup mengalir dan menggelinding setelah kita tahu persis makna hidup kita dan makna keberadaan kita sendiri. Sayangnya, kebanyakan kita rupanya terlalu suka menyalahkaprahkan kata bijak dari orang-orang bijak. Kata bijak tentang hidup yang mengalir dan menggelinding pun lalu jadi pembenaran terhadap kemalasan dan ketidakpedulian terhadap apapun. Jadi, marilah kini kita bersama-sama merenung di akhir tahun ini agar hidup kita lebih baik di tahun mendatang. (frg)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-113446714204086467?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/113446714204086467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=113446714204086467&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113446714204086467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113446714204086467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/12/saat-merenung.html' title='Saat Merenung'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-113393591208101663</id><published>2005-12-06T22:00:00.000-08:00</published><updated>2005-12-06T22:47:22.186-08:00</updated><title type='text'>From Art to Human Dignity</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/human%20dignity.jpg"&gt;&lt;img style="CURSOR: hand" alt="give your hands to human dignity" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/human%20dignity.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;catatan rabu pagi 12&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selasa siang ini saya menemukan sebuah slogan di kepala saya: &lt;span style="font-size:85%;color:#666600;"&gt;&lt;strong&gt;from art to human dignity&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;. Keren. &lt;em&gt;Cool&lt;/em&gt;. &lt;span style="font-family:courier new;font-size:130%;color:#3366ff;"&gt;Dari Seni Menuju Martabat Manusia&lt;/span&gt;”. Apa konteks slogan itu? Anda pasti bertanya-tanya. Baik, saya ceritakan sedikit. Sekitar awal tahun 2000, saya mendirikan sebuah organisasi. Namanya PSI atawa Perkumpulan Seni Indonesia. Penggagas organisasi ini adalah saya, yang kemudian mendapat dukungan dari Arahmaiani (perupa, seniman multimedia), Nezar Patria (wartawan dan aktivis), Seno Gumira Ajidarma (penulis), dan Sita Aripurnami (aktivis). PSI kemudian berdiri tanpa seremonial deklarasi macam partai politik yang suka pesta pora dengan uang hasil korupsi.&lt;br /&gt;PSI langsung bekerja mementaskan naskah kampanye &lt;em&gt;human rights&lt;/em&gt; terhadap kasus penculikan sejumlah aktivis pada tahun 1997-1998. Naskah yang ditulis Seno Gumira itu berjudul “Mengapa Kau Culik Anak Kami”. PSI mementaskannya berturut-turut di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung selama pertengahan tahun 2000. Pertunjukan di 3 kota itu sukses besar. Sebuah bentuk kampanye baru dalam memperjuangkan hak asasi manusia yang juga dilakukan antara lain oleh Widji Thukul dan Ratna Sarumpaet, dikibarkan oleh PSI. Tanpa slogan, tanpa seremonial apapun, PSI berdiri dan berkiprah.&lt;br /&gt;Kegiatan selanjutnya yang digelar PSI adalah pembacaan cerpen karya saya yang terkumpul dalam buku &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666600;"&gt;&lt;strong&gt;Zarima; Kumpulan Cerpen (bukan) Pilihan Kompas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; oleh Rieke Dyah Pitaloka, Butet Kertaredjasa, Baby Jim Aditya, dan Jose Rizal Manua. Berbeda dengan pembacaan cerpen umumnya yang dilakukan di gedung pertunjukan atau di kampus atau di kafe, pembacaan kumpulan cerpen saya dilakukan di dalam penjara wanita Tangerang! Acara ini pun sukses besar, media massa memberitakannya dalam berbagai tulisan. Hanya &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; yang memuat beritanya di rubrik &lt;em&gt;Nama &amp; Peristiwa &lt;/em&gt;dengan mewawancarai Butet Kertaredjasa. Lucunya, rubrik kecil itu hanya menulis acara pembacaan cerpen tanpa menyebutkan karya siapa. Mungkin karena cerpen yang dibacakan adalah kumpulan cerpen (bukan) pilihan Kompas! Butet sendiri menegaskan bahwa ia menyebut nama saya ketika diwawancarai oleh wartawan &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;; kalau tidak salah Efix Mulyadi atau mungkin Bre Redana.&lt;br /&gt;Itulah dua kegiatan PSI di awal-awal berdirinya. Selanjutnya, karena satu dan lain hal, PSI vakum selama setidaknya dua-tiga tahun. Tapi PSI tetap hidup di hati dan jiwa saya sehingga kemudian pada tahun 2005, sejak Januari sampai Desember, PSI menggelar pementasan monolog &lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666600;"&gt;Matinya Seorang Pejuang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; di &lt;span style="font-size:85%;color:#336666;"&gt;&lt;strong&gt;delapan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; kota yang mengangkat kasus pembunuhan Munir sebagai materinya. Dalam kegiatan ini, PSI bekerja atas nama Komite Solidaritas untuk Munir (KASUM) sedangkan dalam drama “Mengapa Kau Culik Anak Kami?”, PSI bekerja atas nama Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan).&lt;br /&gt;Setelah kegiatan sepanjang tahun 2005 inilah, saya tiba-tiba terhenyak dan menyadari betapa PSI telah menjadi mahkluk hidup yang tumbuh setelah saya lahirkan. Saya merasa harus bertanggungjawab lebih serius untuk terus menumbuhkan dan membesarkannya. Kesadaran inilah yang kemudian memunculkan slogan keren di kepala saya sebagai tekad dan semangat untuk terus menghidupkan PSI. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:180%;color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;From Art to Human Dignity.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/humandignity2.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/humandignity2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Karena seni memang harus menjaga keluhuran martabat manusia! (frg)&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-113393591208101663?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/113393591208101663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=113393591208101663&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113393591208101663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113393591208101663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/12/from-art-to-human-dignity.html' title='From Art to Human Dignity'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-113332028275309712</id><published>2005-11-29T19:06:00.000-08:00</published><updated>2005-11-29T19:11:22.766-08:00</updated><title type='text'>(Masih soal) Reading Habit</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;catatan rabu pagi #11&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan lalu saya dan rombongan pentas monolog “Matinya Seorang Pejuang; A Tribute To Munir” yang sudah berkeliling ke tujuh kota sejak Januari 2005, datang ke Bengkulu untuk pementasan ke-9 setelah pentas di Yogyakarta (2 kali), Malang, Surabaya, Denpasar, Mataram, Jakarta, dan Medan. Berbeda dengan pentas-pentas sebelumnya yang dimainkan oleh Whani Darmawan, pementasan di Bengkulu dimainkan oleh aktor muda Wendy HS. Kebetulan keduanya sama-sama berinisial “W” dan sama-sama belajar teater di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Keduanya juga sama-sama aktor yang berbakat dan peduli pada kasus pembunuhan Munir yang semakin hari semakin tak jelas nasibnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda juga dengan pentas-pentas sebelumnya yang biasa diadakan di gedung teater atau di kampus, pentas di Bengkulu pada hari kedua digelar di sebuah balai desa perkampungan nelayan bernama Teluk Sepang. Teluk Sepang termasuk kategori desa yang berada di bawah garis kemiskinan. Penduduknya sekitar 1000 Kepala Keluarga yang berprofesi sebagai nelayan. Rumah papan mereka sangat kecil, sederhana dan masih berlantai tanah, sangat kontras dengan fasilitas MCK (mandi-cuci-kakus) di samping balai desa yang meski tak terawat tapi seluruhnya merupakan bangunan permanen dari tembok. Kondisi balai desa juga memprihatinkan. Sebuah bangunan terbuka setengah jadi seluas sekitar 200 meter persegi tanpa pintu. &lt;em&gt;Grafitti&lt;/em&gt; tak jelas memenuhi dinding-dinding bangunan setengah jadi itu. Lantainya yang dari keramik sederhana, seakan tak pernah dijamah sapu. Kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati kondisi semacam itu, saya sebagai penulis naskah, Landung Simatupang sebagai sutradara, dan Raharja Waluya Jati sebagai pejabat divisi kampanye KASUM (Komite Solidaritas untuk Munir), langsung meminta Wendy HS untuk merombak permainannya agar sesuai dengan kondisi kampung nelayan Tanjung Sepang. Kami khawatir, naskah yang saya tulis tidak bisa diapresiasi oleh penduduk Teluk Sepang yang tingkat pendidikannya masih relatif rendah. Meski dalam pentas pada hari sebelumnya di Taman Budaya Bengkulu, jumlah dan respon penonton sangat baik, tapi kondisi di Teluk Sepang sangat berbeda. Kami ingin memberikan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi penduduk di Teluk Sepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik inilah, budaya baca atawa &lt;em&gt;reading habit &lt;/em&gt;kembali menjadi sesuatu yang sangat penting untuk ditingkatkan. Naskah saya sebenarnya naskah yang sederhana dari segi pemakaian bahasa maupun dari segi tema, siswa SMA pasti bisa memahami dan menikmatinya, tapi penduduk Teluk Sepang jauh lebih sederhana lagi dibanding naskah saya. Mereka bahkan banyak yang tidak mengetahui tentang kasus pembunuhan Munir. Mereka banyak yang tidak tahu siapa Munir meski sepanjang hidupnya Munir berjuang untuk rakyat kecil yang tertindas. Ini artinya akses mereka pada berita dan informasi masih sangat minim. Di Bengkulu, kota dimana &lt;em&gt;founding father &lt;/em&gt;kita, Ir. Soekarno, pernah dibuang pada tahun 1938, kehidupan seakan bergerak sangat lamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya baca masih sangat rendah di desa-desa minus seperti Teluk Sepang. Bahkan di seluruh kota Bengkulu hanya ada satu toko buku tradisional yang koleksi bukunya sangat terbatas. Toko itu baru menjual sebagian kecil buku-buku baru beberapa bulan setelah buku itu dijual di daerah lain. Satu buku baru yang terbit dan beredar di Jawa, baru akan sampai di Bengkulu 6-7 bulan kemudian. Akibatnya, budaya baca pasti akan sangat rendah di daerah-daerah terpencil yang masih terbelakang. Dan ini tidak bisa dilepaskan dari tanggungjawab pemerintah yang seharusnya menyediakan sarana dan fasilitas pendidikan gratis bagi rakya kecil, tak peduli di manapun mereka berada. Tak peduli seterpencil apapun daerah mereka. Justru semakin terpencil harus semakin diprioritaskan karena hanya dengan budaya baca yang tinggilah sebuah masyarakat akan bergerak maju meninggalkan keterbelakangan. (frg)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ps. Pentas ke-9 di Bengkulu, seperti pentas-pentas sebelumnya, terselenggara berkat bantuan tim produksi: Hendro, Mia, Kun, Jon, dan Sinyo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-113332028275309712?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/113332028275309712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=113332028275309712&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113332028275309712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113332028275309712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/11/masih-soal-reading-habit.html' title='(Masih soal) Reading Habit'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-113271917875779295</id><published>2005-11-22T20:05:00.000-08:00</published><updated>2005-11-22T20:32:40.560-08:00</updated><title type='text'>Reading Habit</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;catatan rabu pagi #10&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/books.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Atas rekomendasi Dewi “Supernova” Lestari alias Dee, Selasa kemarin saya diundang menjadi tamu untuk acara televisi &lt;em&gt;Mobilista BCA&lt;/em&gt; yang kebetulan mengangkat tema tentang &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#6666cc;"&gt;&lt;strong&gt;reading habit &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;di masyarakat kita. Tentu saja saya mau menjadi tamu untuk acara itu. Selain karena teman baik saya, Dee yang memberi rekomendasi, juga karena tema itu memang penting. Salah satu akar segala macam persoalan yang kita hadapi saat ini, saya yakin antara lain disebabkan rendahnya budaya baca masyarakat kita. Rendahnya budaya baca membuat wawasan jadi cetek, wawasan yang cetek membutakan pikiran kita, pikiran yang buta tak bisa bereaksi cepat terhadap perkembangan keadaan. Pikiran yang buta tak kan pernah bisa mengkritisi keadaan.&lt;br /&gt;Akhirnya, yang terjadi adalah kebodohan yang merajalela. Akibatnya, jadilah kita bangsa yang tak pernah bisa menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi. Simak saja berita di koran-koran, bacalah buku sejarah, pelajari saja disertasi dan hasil penelitan para ahli, maka yang kita dapatkan adalah persoalan-persoalan yang teronggok tanpa penyelesaian. Semuanya teronggok bersama puluhan atau ratusan mayat di kuburan-kuburan massal yang membusuk tanpa nisan. Tak ada yang mampu menyibak tuntas peristiwa-peristiwa yang kemudian dijadikan sebagai misteri sejarah itu. Hanya serpihannya yang tercecer di sekitar kita. Tapi bahkan serpihannya pun tak mudah dibaca.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana menggairahkan dan meningkatkan &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#6666cc;"&gt;&lt;strong&gt;reading habit&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;? Ini tema yang diangkat dalam talkshow tersebut. Selain saya, hadir juga Yessy Gusman, mantan bintang film tahun 80-an, yang kebetulan juga bintang idola saya di masa remaja, dan bintang sinetron masa kini yang masih aktif, Eksanti. Yessy Gusman kini adalah aktivis taman bacaan di berbagai daerah yang mencoba mengkampanyekan buku agar disukai dan dicintai anak-anak. Sebuah lompatan yang luar biasa dan perlu diteladani oleh artis-artis yang mulai memasuki usia pensiun. Saya masih ingat betul bagaimana ia menjadi idola bersama Rano Karno lewat film-film yang diangkat dari novel-novel Eddy D Iskandar, seperti Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, dan novel-novel lainnya.&lt;br /&gt;Yessy dan Eksanti sepakat bahwa para Ibu harus mengenalkan buku sedini mungkin pada anak-anak mereka. Caranya dengan membacakan dongeng sebelum tidur, mengajak anak ke toko buku untuk memilih buku yang mereka minati, bukan buku yang menurut selera orang tua. Saya sangat setuju. Tradisi membacakan dongeng sebelum anak tidur memang harus dilestarikan. Saya ditanya tentang meningkatkan &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;reading habit&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;untuk para remaja. Jawaban saya adalah apa yang selama ini saya lakukan, yaitu menulis dan menerbitkan buku yang sesuai dengan selera mereka. Contohnya adalah buku tentang &lt;em&gt;lifestyle &lt;/em&gt;mereka, novel adaptasi dari film dan buku &lt;em&gt;guidance &lt;/em&gt;untuk persoalan-persoalan yang mereka hadapi.&lt;br /&gt;Di sisi lain, yang terpenting adalah sistem pendidikan dan &lt;em&gt;support &lt;/em&gt;pemerintah untuk mengkampanyekan budaya baca secara terus menerus dengan memberi kemudahan pada para pengarang dan penerbit. Saat ini, buku masih dibebani pajak sebagaimana industri umumnya, dan pengarang juga dikenakan pajak penghasilan yang tinggi, 15%. Ini sangat berat untuk kebanyakan pengarang dan penerbit. Saya juga mengusulkan agar para selebriti menulis dan mengkampanyekan buku seperti yang dilakukan oleh Madonna.&lt;br /&gt;Ferdi Hasan yang menjadi host acara tersebut akhirnya menutup acara dengan optimisme bahwa &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;reading habit&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;pasti akan bisa ditingkatkan dengan berbagai cara seperti yang dilakukan oleh Yessy Gusman dan juga penerbit yang bisa memahami cara pendekaran yang pas untuk remaja dan masyarakat kita pada umumnya. Juga para penulis tentunya harus bisa mengemas karya mereka sebaik-baiknya sehingga buku tidak menjadi benda asing bagi siapa saja. Dan bagi para ibu, rajin-rajinlah membaca dongeng pengantar tidur seperti yang dilakukan Eksanti. Ini mungkin sepele, tapi sungguh sebenarnya sama sekali tidak sepele! &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Reading habit&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;adalah langkah awal untuk masa depan yang lebih baik bagi siapapun! (frg)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-113271917875779295?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/113271917875779295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=113271917875779295&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113271917875779295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113271917875779295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/11/reading-habit.html' title='Reading Habit'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-113211733493077098</id><published>2005-11-15T20:54:00.000-08:00</published><updated>2005-11-15T21:29:01.290-08:00</updated><title type='text'>S-e-p-i</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 153);font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;catatan rabu pagi 9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/i%27m%20lonely1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/i%27m%20lonely1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Selama setidaknya satu minggu setiap tahun, Jakarta menjadi kota yang sepi dan nyaman. Jalanan kosong, kantor-kantor senyap, café-café lengang. Tidak ada kemacetan, tidak ada suara klakson dan cacimaki, tidak ada wajah-wajah letih yang menatap kosong ke masa depan. Parkiran gedung DPR kosong melompong. Para anggota dewan yang biasanya mangkir dari sidang-sidang untuk “mewakili dan menyuarakan” suara rakyat, menghilang entah kemana. Mungkin berlibur lebaran ke New York, Paris, atau “hanya” Bali, bersama para pengusaha yang menjadi relasi mereka. Tapi mungkin juga mereka ikut menjadi rakyat dengan ramai-ramai mudik ke kampung halaman. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sepinya Jakarta di saat libur lebaran adalah sebuah sepi yang ramai. Ada hiruk-pikuk kegelisahan di dalamnya. Ada keresahan, ada kemarahan, ada kekacauan yang mengisi sepi itu. Sepi semacam ini mulai dirasakan oleh Suciwati, istri almarhum Munir yang kasus pembunuhannya masih gelap gulita meski satu tahun lebih telah berlalu. Saya bertemu sejumlah teman yang juga teman baiknya Munir dan membicarakan betapa lemahnya komitmen kita untuk memperjuangkan sesuatu. Setelah setahun berlalu, upaya-upaya yang dilakukan teman-teman Munir untuk mengungkap kasusnya terlihat semakin lemah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sebelumnya, ketika pertama kali mengetahui Munir benar-benar dibunuh, banyak sekali teman-teman almarhum Munir yang mengepalkan tangan dan berkomitmen untuk berjuang mengungkap kasus pembunuhan Munir sampai tuntas. Tangan terkepal, rahang mengeras, dan mata nyalang penuh kemarahan. Berjuang! Lawan! Berjuang sampai dalangnya ditangkap dan diadili. Komitmen ini saya saksikan antara lain dalam acara 40 hari kematian Munir di Perpustakaan Nasional pada bulan Oktober 2004. Saya terharu dan merasa optimis pada komitmen tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kini semua orang ditantang untuk konsisten pada komitmennya. Tapi kini juga Suciwati mulai merasa sepi. Mulai merasa sendiri. Mulai melihat betapa sulitnya memegang sebuah komitmen. Betapa beratnya beban sebuah komitmen. Sulit dan beratnya komitmen inilah yang mungkin membuat orang-orang mulai lelah dan kehabisan energi. Lalu, seperti biasa, orang-orang mulai membuat alasan-alasan untuk membenarkan dan memaafkan dirinya sendiri. Akibatnya, semua kembali sepi. Semua kembali seperti semula. Perubahan radikal, perjuangan revolusioner, komitmen tanpa kompromi, semua hanya dongeng pengantar tidur bagi orang-orang yang dikenal sebagai para pejuang kemanusiaan. Inipun jika masih ada pendongeng yang mau mendongengkannya karena dongeng Harry Potter jelas jauh lebih menarik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Tapi aku tetap optimis ada orang-orang yang mampu memegang dan berjuang untuk sebuah komitmen!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Suci mengangguk. Pernyataan optimis saya siang itu mudah-mudahan bisa menghilangkan sepi yang mulai menteror dirinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Hari itu, Selasa, 15 November 2005, kebetulan ruang sidang di Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat juga sepi. Tidak ada saksi yang hadir untuk persidangan kasus pembunuhan Munir yang entah ke berapa. Di jalanan depan pengadilan, libur lebaran sudah berakhir dan Jakarta kembali ramai oleh bising klakson dan cacimaki. Dan sebuah perjuangan harus segera dimulai kembali. (frg)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-113211733493077098?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/113211733493077098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=113211733493077098&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113211733493077098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113211733493077098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/11/s-e-p-i.html' title='S-e-p-i'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-113090553058912019</id><published>2005-11-01T20:21:00.000-08:00</published><updated>2005-11-01T20:25:30.600-08:00</updated><title type='text'>Maaf</title><content type='html'>Catatan rabu pagi 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu pekan lalu, tidak ada catatan rabu pagi. Saya bisa mengemukakan banyak alasan untuk ketidakhadiran ini. Mulai dari alasan yang benar-benar rasional sampai alasan yang sangat tidak rasional alias sangat mengada-ada. Alasan yang rasional misalnya, saya diundang oleh Frankfurt Book Fair, bersama sejumlah penerbit buku anak dan remaja dari Iran, Turki, Mesir, Yordania, Palestina, dan Lebanon, untuk berbicara tentang penerbitan buku anak dan remaja di negara masing-masing. Sebuah forum yang sangat menarik dan membuat saya lupa untuk menulis catatan rabu pagi pekan lalu. Ini alasan yang rasional, bermutu dan serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan yang tidak bermutu dan mengada-ada, misalnya, saya sengaja tidak menulis catatan rabu pagi pekan lalu karena saya ingin membuat sebuah eksperimen tentang relasi-relasi di dunia internet melalui ketidakhadiran sebuah tulisan yang biasanya hadir setiap rabu pagi. Apakah ketidakhadiran tersebut mengakibatkan sebuah hari rabu menjadi tidak lengkap bagi sejumlah orang? Apakah keseimbangan di dunia internet terganggu karenanya? Lantas faktor substansial apakah yang menentukan ritme kehidupan rutin di dunia internet itu? Tentu saja semua pertanyaan sok filosofis di atas adalah mengada-ada bila dijadikan sebagai alasan ketidakhadiran tulisan saya. Tapi mungkin patut juga iseng-iseng direnungkan dan dicari jawabannya tanpa melibatkan soal ketidakhadiran catatan rabu pagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kita. Kita adalah para pembuat alasan sepanjang hidup kita. Kita selalu membuat alasan untuk membenarkan diri kita. Entah berapa banyak waktu, energi, dan kreativitas yang kita habiskan sepanjang hidup kita hanya untuk membuat alasan-alasan. Tak ada yang tahu. Tak ada yang pernah menghitung. Efek paling buruk dari mentalitas manusia-manusia pembuat alasan adalah sebuah lingkaran pembenaran tak berujung yang menyesatkan hati pada wilayah kering kerontang tanpa kesejukan sebuah maaf. Ya, manusia-manusia pembuat alasan sulit untuk benar-benar meminta maaf secara tulus, sekalipun pada kesempatan Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati manusia-manusia pembuat alasan kering dan gersang. Maaf menjadi sesuatu yang tak lebih dari sebuah basa-basi paling basi. Mengakui sebuah kesalahan menjadi sebuah pilihan yang tak kan benar-benar dipilih. Mungkin terlontar kata maaf, tapi itu hanya suara tanpa makna. Verbalisme klise. Dan semua tak kan pernah berubah. Manusia-manusia pembuat alasan tak kan pernah berubah. Mereka anti perubahan. Mereka seperti para penguasa yang menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan dan menolak segala bentuk perubahan. Sekecil apapun. Bila sekali waktu Anda pernah bertanya, mengapa bangsa kita menjadi bangsa terkorup ke 3 atau ke 4 di dunia, maka salah satu jawabannya adalah karena bangsa kita, para politisi, pejabat, dan tokoh-tokoh bangsa kita, dipenuhi oleh manusia-manusia pembuat alasan. Juga kaum intelektual kita, budayawan, dan para pejuang hak asasi juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sekali waktu Anda pernah bertanya “mengapa bangsa kita susah sekali maju dan ketinggalan jauh disbanding negera Asia lainnya?” Maka jawabannya sama. Dunia industri dan berbagai sektor pembangunan dipenuhi oleh para koruptor yang sekaligus juga merupakan manusia-manusia pembuat alasan nomer wahid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya ingin meminta maaf untuk ketidakhadiran tulisan saya pekan lalu, dan inipun tetap dengan sebuah “upaya membuat alasan-alasan”. Itulah kita. Tapi dalam kesempatan ini saya benar-benar ingin meminta maaf tanpa alasan. Saya lalai, saya alpa, saya tidak memenuhi kewajiban yang saya canangkan sendiri, dan untuk itu saya minta maaf. Titik. Tanpa alasan. Saya rasa begitulah seharusnya sebuah maaf. Apalagi sebuah maaf di hari yang suci. Selamat hari raya Idul Fitri 1426. Mohon maaf lahir batin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;frg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-113090553058912019?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/113090553058912019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=113090553058912019&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113090553058912019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/113090553058912019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/11/maaf.html' title='Maaf'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-112910474455076723</id><published>2005-10-12T01:09:00.000-07:00</published><updated>2005-10-12T01:12:24.556-07:00</updated><title type='text'>Gie &amp; Presiden</title><content type='html'>Catatan Rabu Pagi 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kejutan datang dari industri perfilman nasional ketika sekitar dua-tiga tahun lalu tersiar kabar Mira Lesmana bakal memfilmkan Catatan Harian Seorang Demonstran, buku karya Soe Hok Gie yang sangat berpengaruh pada gerakan mahasiswa di Indonesia selama beberapa generasi. Setidaknya, sampai saat ini, semua mahasiswa yang memiliki label aktivis di jaket almaternya, pasti pernah membaca buku ini. Sosok Soe Hok Gie memang fenomenal sampai generasi 80an. Tapi idealisme, pemikiran, dan kharismanya sebagai ikon para demonstran, mulai memudar pada generasi muda saat ini. Generasi MTV. Generasi “Gue Banget”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun disaat sosoknya yang telah memberi kontribusi besar pada para mahasiswa idealis, mulai memudar, tiba-tiba ia kembali menjadi pembicaraan hangat tahun 2005 ini. Film yang dibuat Mira Lesmana dengan biaya besar itu, memunculkan kembali secara konstan sosok Gie di tengah generasi muda sekarang. Pilihan Nicholas Saputra sebagai pemeran Gie, juga diributkan dan menjadi polemik seru di banyak kalangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sungguh sebuah fenomena yang menggembirakan dan memberi harapan pada apa yang biasa kita sebut sebagai “idealisme” generasi muda. Di tengah iklim yang konsumtif-hedonis-kapitalistik, kemunculan kembali figur Gie, mungkin bisa menjadi angin segar dan menjadi sebuah alternative “orientasi” hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambut momen ini, sejumlah penerbit merasa berkepentingan untuk menerbitkan kembali buku-buku dari Soe Hok Gie, seperti “Zaman Peralihan” yang berisi pemikiran Soe Hok Gie tentang berbagai persoalan, “Catatan Harian Seorang Demonstran” yang menjadi materi utama film “Gie”, “Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan”, dan bahkan sejumlah buku baru tentang Soe Hok Gie pun tiba-tiba beredar di toko buku. Pemikiran Hok Gie memang sungguh penting untuk dibaca oleh generasi muda sekarang, yang memang cenderung “jauh” dari politik.  Selain itu juga tetap masih relevan karena mencakup hal-hal substansial dalam sejarah bangsa ini. Tak soal apakah bagi penerbit sendiri, buku tentang Gie diterbitkan kembali semata-mata atas pertimbangan bisnis atau profit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik sempat merebak. Tapi lepas dari segala macam polemik tentang film karya Riri Riza maupun tentang buku-buku Gie, saya merasa ingin menampilkan Gie dalam catatan rabu pagi di minggu pertama bulan Oktober ini, karena tiba-tiba saya ingat bahwa pada tanggal 1 (atau tanggal 5) Oktober adalah hari ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) atau Hari Kesaktian Pancasila. Saya sungguh tidak ingat persisnya.  Dan  Presiden kita saat ini yang baru menaikkan harga BBM sampai 70-80% itu, adalah seorang ABRI yang seharusnya melindungi rakyat, bangsa, dan negara kita, yang seharusnya berjuang tanpa pamrih sebagaimana yang pernah dilakukan Soe Hok Gie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja. Selamat hari rabu pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;frg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-112910474455076723?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/112910474455076723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=112910474455076723&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112910474455076723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112910474455076723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/10/gie-presiden.html' title='Gie &amp; Presiden'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-112848683155216978</id><published>2005-10-04T21:26:00.000-07:00</published><updated>2005-10-04T22:28:12.040-07:00</updated><title type='text'>Pram (3) &amp; Chairil</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;catatan rabu pagi 6&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/chairil1.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 87px; CURSOR: hand; HEIGHT: 116px" height="134" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/chairil1.jpg" width="103" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pram dan Chairil Anwar sama-sama melakukan pemberontakan terhadap berbagai dimensi yang mengkonstruksi eksistensi manusia. Sebagai anggota sebuah tatanan sosial-budaya, setiap manusia dipaksa untuk memenuhi aturan dan sistem nilai yang dipercaya sebagai landasan eksistensialnya. Nilai dan norma ini yang menentukan kewajaran perilaku dan martabat seseorang. Begitu perilaku seseorang keluar dari tatanan dan sistem nilai yang ada di masyarakatnya, ia akan menerima cap sebagai: tidak bermoral, bejat, pemberontak, atau bahkan gila. Untuk menghindari cap ini berbagai 'penyimpangan' perilaku ditutup rapat-rapat dan menjadi rahasia yang dibawa mati. Atas nama kehormatan dan martabat luhur manusia.&lt;br /&gt;Hal ini melahirkan hipokrisi dalam perilaku sebagian anggota masyarakat, terutama pada kalangan terhormat dan terpelajar (kaum bangsawan, ningrat, atau kaum intelektual) yang tak bisa menolak godaan untuk keluar dari sistem nilai tatanan sosial-budaya masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sosok seperti Pram dan Chairil Anwar adalah sosok antagonis dari hipokrisi atau &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/chairil2.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/chairil2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;kemunafikan kaum terhormat yang juga melakukan berbagai perilaku yang dianggap 'tidak bermoral, bejat, atau gila'. Chairil menjadi antagonis karena ia tidak menutup-nutupi perilaku liarnya. Ia menegaskan 'kejalangan' dirinya dalam bait puisi fenomenalnya: aku ini binatang jalang/dari kumpulan yang terbuang. Dengan keberaniannya untuk jujur, Chairil membebaskan dirinya dari sistem nilai tatanan sosial-budaya masyarakat kita.&lt;br /&gt;Pertanyaannya kemudian adalah: mengapa perilaku-perilaku tersebut muncul dan tak tertahankan bahkan oleh kaum terpelajar? Jawaban pertama, jelas: zaman berubah. Dunia berubah. Nilai-nilai pun dengan sendirinya mengalami pergeseran. Tidak ada nilai yang absolut kecuali prinsip-prinsip paling substansial yang menjadi fondasi keberadaan manusia. Misalnya prinsip tentang hak asasi manusia; bahwa setiap manusia dilahirkan sama dan karenanya memiliki hak yang sama tanpa membedakan suku, agama, maupun warna kulit. Tanpa membedakan ideologi politik ataupun strata sosial yang hanya merupakan hasil konstruksi kekuasaan.&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah, karya sastra harus peka terhadap pergeseran nilai dan perubahan yang terjadi. Karya sastra seharusnya menjadi alat pembebasan bagi setiap pembacanya. Karya sastra harus membebaskan pembacanya dari sebuah konstruksi sistem nilai yang sudah tidak relevan lagi karena perubahan yang terjadi. Dan hal inilah poin terpenting yang kita dapatkan dari novel-novel Pramudya Ananta Toer. Chairil Anwar melakukan pemberontakan pada sisi lain. Ia secara terbuka mengusung nilai kebebasan eksistensial dengan cara yang frontal. Kita harus melihatnya dari sudut pandang yang objektif dan netral. Bahwa perilaku liar mengumbar seks tidak sepenuhnya bisa dibenarkan, jelas adanya. Tapi apa yang dilakukan Chairil tidak semata untuk tujuan pengumbaran seks &lt;em&gt;itself&lt;/em&gt;. Apa yang dilakukannya adalah pemberontakan terhadap kemunafikan perilaku manusia, adalah upaya untuk menelanjangi kebobrokan moral dari kelompok orang-orang yang dianggap bermoral. Pada dimensi ini, Chairil sama dengan Pram. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/pram4.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="83" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/pram4.jpg" width="135" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Membaca karya-karya Pram dan Chairil Anwar, bagi saya adalah membaca karya sastra yang membebaskan. Dan karya sastra yang membebaskan bagi saya adalah karya sastra yang bertanggungjawab. Bertanggungjawab terhadap persoalan-persoalan sosial-politik-budaya yang melingkupinya. Bertanggungjawab terhadap persoalan-persoalan kemanusian dan ketertindasan manusia dalam sebuah sistem yang sewenang-sewang dan otoriter. ۞&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;frg, 10-05. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-112848683155216978?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/112848683155216978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=112848683155216978&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112848683155216978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112848683155216978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/10/pram-3-chairil.html' title='Pram (3) &amp; Chairil'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-112787603517097290</id><published>2005-09-27T18:45:00.000-07:00</published><updated>2005-09-27T20:54:06.696-07:00</updated><title type='text'>Pram (2)</title><content type='html'>&lt;!--   @page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }   P { margin-bottom: 0.08in }  --&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;"&gt;Catatan Rabu Pagi 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam novel pertama saya, &lt;a href="https://www.kompas.com/tbgramedia/product_detail.cfm?bid=26587"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mata yang Malas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (2002), saya meramalkan Jakarta disergap wabah penyakit mata yang sangat berbahaya pada tahun 2005. Semua orang terdistorsi dan mengalami situasi “apa yang terlihat bukanlah apa yang sebenarnya” dalam pengertian yang sangat harafiah. Kekacauan kemudian melanda hampir semua tatanan kehidupan rakyat Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya bukan peramal, tapi apa yang terjadi saat ini, di triwulan terakhir tahun 2005 ini, saya kira kurang-lebih adalah kekacauan yang melanda hampir semua tatatan kehidupan. Sejak tsunami menghancurkan Aceh dan wilayah-wilayah sekitarnya pada kuartal pertama 2005, bencana-bencana terus berhamburan. Kehidupan dihancurkan secara mengejutkan dan seketika. Hal ini mirip dengan apa yang terjadi pada kehidupan Pramudya Ananta Toer. Kehidupannya dihancurkan secara mengejutkan dan seketika. Pram menceritakan pada saya, Jati, dan Jemek, bagaimana ia pertama kali diculik oleh tentara atas perintah Sudarmono dari rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ingatannya tentang peristiwa itu masih cukup jernih. Pram di usia tuanya, seakan tidak mengalami distorsi penglihatan ataupun ingatan. Ia memang mengeluhkan tubuhnya yang semakin rontok oleh usia. Buku jarinya sakit kalau digerakkan sehingga ia tidak lagi menulis. Dengkulnya gemetaran tak mampu menahan dan menggerakkan kakinya untuk melangkah tanpa bantuan sebuah tongkat. Matanya tak bisa lagi melihat dengan jelas sehingga “apa yang terlihat, pasti bukan seperti apa yang sebenarnya”. Ia menanyakan pada saya, “apakah ada buku tentang menjadi tua?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/keriput1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/keriput1.jpg" alt="menjadi tua" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya pernah mendapat pertanyaan yang kurang lebih serupa dari Seno Gumira Ajidarma, sekitar 6-7 tahun yang lalu. Saya tidak ingat kapan persisnya. Saya hanya ingat Seno bertanya pada saya tentang konsep “tua”, saat saya numpang mobilnya untuk pergi ke suatu tempat yang kebetulan searah dengan tujuannya. Saya juga tidak ingat apa jawaban saya untuk pertanyaan filosofis itu. Mungkin saya hanya menjawab asal saja saat itu, karena jika benar peristiwa itu terjadi sekitar 6-7 tahun lalu, berarti umur saya saat itu sekitar 32 atau 33 tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dan pekan ini, rabu pagi ini (28-9-05), saya merasa dunia telah menjadi tua dan lelah sebagaimana Pram yang semakin uzur dan lelah. Saya pikir, saya sendiri pun kadang mulai merasa lelah. Mungkin karena saya juga mulai “agak” tua. (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;to be continued&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a&gt; &lt;/a&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: verdana;"&gt;frg&lt;a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-112787603517097290?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/112787603517097290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=112787603517097290&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112787603517097290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112787603517097290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/09/pram-2.html' title='Pram (2)'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-112727224359118325</id><published>2005-09-20T19:00:00.000-07:00</published><updated>2005-09-27T20:59:59.363-07:00</updated><title type='text'>Pram (1)</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/pram12.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/pram12.jpg" border="0" height="143" width="106" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Catatan Rabu Pagi (4)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Satu kejadian penting dan berharga pada pekan lalu selain peringatan setahun kematian Munir adalah berkunjung ke rumah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pramoedya_Ananta_Toer"&gt;Pramudya Ananta Toer&lt;/a&gt;. Setelah sekian tahun tidak bertemu dan mengunjunginya. Seperti yang dulu-dulu, kalau tidak salah dua atau tiga kali saya berkunjung ke rumah Pram ketika masih tinggal di kawasan Utan Kayu, kali ini pun saya mengunjunginya karena diajak dua orang kawan baik. Rahardja Waluya Jati yang pernah diculik Tim Mawar-nya Kopassus, tapi dibebaskan (antara lain berkat perjuangan almarhum Munir) dan Bowo yang akrab dipanggil Jemek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengagumi Pram sejak untuk pertama kalinya membaca Keluarga Gerilya saat masih duduk di bangku SMP. Buku itu saya temukan di tumpukan buku-buku yang sudah digudangkan ayah saya. Saya membacanya dan serta-merta tersihir oleh buku yang sudah tidak bersampul itu. Ejaaannya masih ejaan lama. Saya merasa sangat beruntung menemukan buku itu. Saat itu tentu saja saya tidak tahu buku itu dilarang dan diharamkan oleh rezim Orde Baru. Saya lalu memasukkan nama Pramudya Ananta Toer sebagai pengarang favorit saya, tanpa tahu dia siapa, seperti apa cerita hidupnya, atau latar belakang politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saya tidak peduli. Saya menyukai karya-karya tanpa syarat karena sangat bagus dan menyentuh bagian terdalam di jiwa saya. Saya pun sangat senang ketika menemukan lagi dan membaca karya-karya Pram lainnya, termasuk tetralogi Bumi Manusia. Saat itu saya kelas tiga SMP. Ya, kelas tiga SMP! Tentu saja saya tidak pernah membayangkan bakal bisa bertemu dengan sastrawan besar Indonesia satu-satunya yang dua kali dinominasikan oleh Panitia Nobel itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/pram2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/pram2.jpg" border="0" height="101" width="73" /&gt;&lt;/a&gt;Tapi hidup selalu menyimpan kejutan dan ketakterdugaan persis di batas antara harapan dan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memperhatikan baik-baik Pram yang sudah memasuki usia 79 tahun. Ia sudah pindah rumah ke kawasan Bojong Gede yang jauh dari keramaian dan menyibukkan diri dengan kegiatan membakar sampah di pagi hari. Rumahnya sangat luas. Mungkin seribu atau duaribu meter. Gus Dur semasa menjabat sebagai Presiden pernah juga mengunjunginya di Bojong Gede. Pram menyalami kami, dan tentu saja ia tak ingat siapa saya. Terlalu banyak orang yang menjadi pengagum beratnya. Saya hanyalah salah satunya yang tetap kagum melihat Pram di usia tua yang tetap kritis, jernih, konsisten, dan luar biasa cerdas. Daya pikirnya tetap hebat, meski memorinya mulai berkurang di sana-sini. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Meski saya katakan memorinya mulai berkurang di sana-sini, tapi dibandingkan dengan saya yang baru berusia 40 tahun pun, memorinya masih jauh lebih baik. Saya bahkan tidak bisa mengingat secara detil masa balita saya di usia yang baru 40 ini! Gila! Sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pagi itu memang pagi yang luar biasa bagi saya, matahari memenuhi ruang tamu rumah Pram yang terbuka dengan kehangatan yang mencairkan kebekuan jiwa siapapun. &lt;strong&gt;(to be continued)&lt;/strong&gt; --&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/bumimanusia.jpg"&gt;&lt;img style="width: 60px; height: 90px;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/bumimanusia.jpg" border="0" height="106" width="77" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/arusbalik1.jpg"&gt;&lt;img style="width: 60px; height: 90px;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/arusbalik1.jpg" border="0" height="100" width="68" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/allthatisgone.jpg"&gt;&lt;img style="width: 60px; height: 90px;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/allthatisgone.jpg" border="0" height="99" width="73" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/prammuda.jpg"&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/arokdedes.jpg"&gt;&lt;img style="width: 60px; height: 90px;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/arokdedes.jpg" border="0" height="105" width="73" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/glasshuis.jpg"&gt;&lt;img style="width: 60px; height: 90px;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/320/glasshuis.jpg" border="0" height="105" width="78" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;frg, at fourty.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-112727224359118325?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/112727224359118325/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=112727224359118325&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112727224359118325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112727224359118325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/09/pram-1.html' title='Pram (1)'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-112665985428066141</id><published>2005-09-13T18:02:00.000-07:00</published><updated>2005-09-27T21:04:09.800-07:00</updated><title type='text'>Peduli</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:130%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Rabu Pagi (3)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Rabu pagi, seminggu lalu, 7-9-05, tepat satu tahun peristiwa tragis pembunuhan kawan saya Munir, saya terbangun dengan kepala berdenyut keras. Kerap saya mengalami terbangun dengan kepala berdenyut di pagi hari. Bukan karena berbotol-botol bir yang saya minum malam harinya, tapi mungkin karena saya terbangun dengan kesadaran banyaknya orang-orang tidak bertanggungjawab di sekeliling kita. Berseliweran di semua panggung dan gelanggang kehidupan. Melenggang. Tersenyum tanpa dosa. Tertawa-tawa. Mereka bisa politisi, bisa birokrat, bisa pejabat tinggi, bisa seniman, bisa aktivis, bisa wartawan, bisa artis, dan bisa juga para pembunuh yang membunuh Munir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin juga saya terbangun dengan kepala berdenyar keras karena masih terenyuh oleh tayangan tubuh-tubuh hangus tanpa kepala, tanpa kaki, atau tanpa tangan, yang ditayangkan hampir semua stasiun televisi saat pesawat Mandala jatuh menimpa pemukiman di kawasan Jamin Ginting, tak jauh dari Bandara Polonia, Medan. Sebuah bencana lagi. Mual rasanya perut saya melihat usungan-usungan jasad hangus yang mengerikan itu. Teman saya, wartawan radio 68H, Ging Ginanjar, yang memberi tahu saya untuk pertama kalinya tragedy itu sebelum televisi menayangkannya. Kami kebetulan tengah sama-sama mengurus visa saat itu. Ging kemudian mempertanyakan soal etika jurnalistik televisi soal penayangan vulgar semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika?&lt;br /&gt;Hmm, ini juga perkara yang kerap membuat saya terbangun dengan kepala berdenyar keras. Perkara yang dalam kehidupan kita, masyarakat dan bangsa dan negara Indonesia, menjadi sebuah kata kunci yang terkubur entah dimana. Terkubur mungkin di kuburan massal korban-korban pembunuhan politik. Terkubur mungkin di reruntuhan bangunan-bangunan hancur karena kerusuhan massal. Terkubur mungkin di file-file yang dibakar dan dihancurkan oleh kekuasaan yang berdarah-darah. Saya tak tahu persis. Saya hanya tahu, kalau kita memegang teguh etika kehidupan yang menghargai sesama manusia, banyak kerusuhan akan bisa dihindarkan. Banyak pertikaian akan bisa didamaikan. Itulah yang saya tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah terbiasa bangun dengan kepala berdenyar, jadi saya tetap bangun dan melakukan semua ritual pagi. Bengong beberapa saat (karena saya tidak merokok lagi), minum air putih, minum kopi, dan mulai membaca koran. Tepatnya membaca semua judul berita, dan menimbang-nimbang mana berita yang layak baca. Sudah lama saya juga merasakan banyak berita menjadi sekadar obrolan iseng yang tak punya makna apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;Karena kita semua mungkin sudah lama tidak lagi peduli pada peristiwa apapun! Karena kita sudah kehilangan kepercayaan pada banyak hal dalam tatanan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara kita. Tapi bangun dengan kepala berdenyar, bagi saya sendiri adalah sebentuk kepedulian, karena jika kita telah benar-benar tak peduli lagi pada apapun kita akan bangun setiap pagi tanpa perasaan apa-apa. Hampa dan kosong. Jadi, jika Anda masih sering terbangun dengan kepala berdenyar seperti saya, bersyukurlah. Itu tandanya kita masih punya kepedulian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;frg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ps. Maaf saya absent rabu pagi kemarin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-112665985428066141?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/112665985428066141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=112665985428066141&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112665985428066141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112665985428066141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/09/peduli.html' title='Peduli'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-112547067348302013</id><published>2005-08-30T23:44:00.000-07:00</published><updated>2005-08-30T23:44:33.486-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>coba&lt;br clear="all"&gt;&lt;br&gt;-- &lt;br&gt;&lt;a href="http://f-r-g.blogspot.com/"&gt;http://f-r-g.blogspot.com/&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-112547067348302013?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/112547067348302013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=112547067348302013&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112547067348302013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112547067348302013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/08/coba-httpf-r-g.html' title=''/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-112546765023162110</id><published>2005-08-30T22:43:00.000-07:00</published><updated>2005-09-27T21:08:18.850-07:00</updated><title type='text'>Suci</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:130%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Catatan Rabu Pagi (2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selasa siang kemarin, 30-8-05, saya bertemu Suciwati, istri almarhum Munir. Tidak secara sengaja, kebetulan saja saya mampir ke kantor Kontras untuk mengurus acara peringatan satu tahun peristiwa tragis pembunuhan Munir tanggal 6 september 2005 mendatang.&lt;br /&gt;Suci tengah diwawancarai ketika saya nyelonong menghampirinya. Ia tampak tegar, bersemangat, dan sedikit kusam. Saya langsung menyalaminya tanpa mempedulikan wartawan yang tengah mewawancarainya. Bukan apa-apa. Bukan juga saya bermaksud tidak sopan. Bukan. Saya nyelonong menyalaminya selain karena lama tidak bertemu, juga karena saya merasa bersalah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/suci-munir.jpeg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/suci-munir.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Beberapa kali setiap hari senin atau minggu, Suci meng-sms saya dan pasti juga kawan-kawan almarhum suaminya yang lain untuk menghadiri proses persidangan kasus pembunuhan Munir yang berlangsung setiap selasa di pengadilan negeri Jakarta Pusat. Ya, saya merasa bersalah karena tidak pernah sempat menghadirinya. Padahal pada hari senin saat Suci meng-sms saya, saya sempat menjawab akan berusaha menghadirinya. Sial, saya harus menyelesaikan urusan lain pada selasa paginya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Begitulah, kami kemudian ngobrol panjang lebar soal kegiatan-kegiatan yang kami lakukan untuk almarhum Munir. Selama ini, saya dan teman-teman di Yogya (Whani Darmawan, Hendro Suseno, Landung Simatupang, Miranda, Sinyo, Ruwi, Si Jon, Kuncoro, dan beberapa teman lain) sudah menggelar pentas monolog “Matinya Seorang Pejuang; a tribute 2 Munir” keliling ke 7 kota (Yogya, Surabaya, Malang, Jakarta, Denpasar, Mataram, dan Medan) sejak bulan Januari 2005. Pentas monolog ini masih akan terus kami kelilingkan selama kami mampu dan selama pengadilan kasus Munir belum tuntas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/suci-munir2.jpeg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/suci-munir2.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kini, tanpa terasa, sudah satu tahun berlalu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Siapa pembunuh Munir sebenarnya? Siapa otak di belakang layer yang menggagas pembunuhan itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Semuanya belum terungkap. Tentu berbagai analisa, data rahasia, bocoran informasi, memang sudah memberi sejumlah indikasi adanya keterlibatan pihak intelejen. Namun jelasnya, semua tetap masih belum jelas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tak heran, karena sudah sekian puluh tahun negeri ini menjadi negeri tak jelas.&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/paket%20teror.jpeg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/paket%20teror.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bagaimanapun, saya merasa bersemangat kembali pada hari rabu pagi ini, setelah selasa kemarin bertemu suciwati yang membuat saya merasa bersalah dan membuat saya merasa masih bisa berbuat lebih banyak lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keep fighting for peace and justice!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-112546765023162110?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/112546765023162110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=112546765023162110&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112546765023162110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112546765023162110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/08/suci.html' title='Suci'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-112512180557411952</id><published>2005-08-26T22:50:00.000-07:00</published><updated>2005-08-26T22:50:05.576-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://www.haloscan.com/" title="HaloScan Commenting and Trackback"&gt;Haloscan&lt;/a&gt; commenting and trackback have been added to this blog.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-112512180557411952?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/112512180557411952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=112512180557411952&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112512180557411952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112512180557411952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/08/haloscan-commenting-and-tr_112512180557411952.html' title=''/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-112511773583470274</id><published>2005-08-26T21:42:00.000-07:00</published><updated>2005-08-26T21:42:15.836-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://www.haloscan.com/" title="HaloScan Commenting and Trackback"&gt;Haloscan&lt;/a&gt; commenting and trackback have been added to this blog.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-112511773583470274?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/112511773583470274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=112511773583470274&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112511773583470274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112511773583470274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/08/haloscan-commenting-and-trackback-have_26.html' title=''/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15742980.post-112488527882205827</id><published>2005-08-24T05:04:00.000-07:00</published><updated>2005-08-25T21:27:31.433-07:00</updated><title type='text'>Catatan Rabu Pagi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Rabu ini, 24 Agustus 2005, persis hari ke 7 saya berhasil pensiun sebagai seorang perokok berat. Setidaknya 25 tahun, seperempat abad dari tahun-tahun yang telah saya lewati, saya lewatkan bersama kepulan asap rokok yang berdesakan di paru-paru, mencari ruang, dan memadati seluruh rongga paru-paru, meski hasil rontgen paru-paru saya sekitar 5 tahun lalu masih menegaskan kondisi paru-paru yang cukup okay! &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/half%20coffee1.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="156" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/400/half%20coffee.jpg" width="185" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anda semua mungkin bertanya-tanya: bagaimana rasanya bebas dari nikotin, tar, dan zat-zat beracun lainnya yang menyebabkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan, dan kematian itu? Rasanya enak. Serius. Rasanya sungguh enak. Lepas dari soal medis dan kesehatan yang saya juga tak begitu peduli, saya benar-benar merasa enak. Enak karena saya berhasil. Enak karena saya bebas. Enak karena saya terbukti adalah tuan terhadap diri saya sendiri. Hehehe, sedikit narsis? Gak pa-pa, saya selalu percaya narsis itu baik dan perlu asal proporsional. Jangan lupa, asal proporsional! &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/half%20coffee.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan berhasil berhenti merokok, dampak selanjutnya adalah kekuatan kendali saya jadi berlipat ganda. Sayalah yang mengendalikan hidup saya. Bukan orang lain, bukan penguasa, bukan koruptor, bukan mafia, bukan setan, bukan jin. Saya juga yakin akan bisa mengendalikan rasa takut saya, rasa senang saya, rasa panik saya, rasa gugup saya, rasa sakit dan rasa-rasa lainnya yang selama ini terkesan bisa diatasi dengan bantuan rokok. Ini jelas hebat!&lt;br /&gt;Saya memutuskan secara sangat spontan untuk berhenti merokok pada 17 Agustus 2005, Hari Kemerdekaan Indonesia ke 60. Tentu ini sangat “sok patriotic”, tapi saya memang ingin punya sifat, sikap, dan jiwa patriot. Walau secuil! Benar. Ini keinginan yang sangat seriouussss! Tadinya saya berencana berhenti merokok pada tanggal 20 september 2005, Hari Kelahiran Saya. Tapi saya berubah pikiran dan ingin menjadi lebih patriotiK! Saya tidak mau hidup saya hanya terfokus pada diri sendiri saja. Saya tidak mau mementingkan kepentingan diri sendiri, kelompok, atau golongan! Ini maksudnya jelas: saya marah pada para anggota DPR yang minta naik gaji sampai 50 juta! &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/1600/kopi%20tuang.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3047/1467/400/kopi%20tuang.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, rabu pagi ini, setelah menyeruput secangkir kopi, mandi dan buang hajat harian, saya bertekad untuk memulai periode baru dalam hidup saya, yakni periode bebas-merdeka. Bebas-merdeka dari nikotin, tar, dan zat-zat mematikan lainnya, bebas-merdeka dari rasa takut, rasa ngeri, rasa-rasa yang memperbudak kita seperti halnya seorang perokok diperbudak nikotin! &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15742980-112488527882205827?l=f-r-g.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://f-r-g.blogspot.com/feeds/112488527882205827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15742980&amp;postID=112488527882205827&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112488527882205827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15742980/posts/default/112488527882205827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://f-r-g.blogspot.com/2005/08/catatan-rabu-pagi.html' title='Catatan Rabu Pagi'/><author><name>F.X Rudy Gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09008363244131549113</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://i12.photobucket.com/albums/a205/fxrudygunawan/Bengkulu079.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
